Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 39 Pindah Alam


__ADS_3

"Ayo Ngga kita lanjutkan perjalanan, urusan mayat hidup, biarkan para sepuh yang mengurusnya. Waktu kita semakin sempit."


Om Bandi memaksa Angga untuk beranjak pergi, namun pemuda itu masih enggan untuk meninggalkan wanita tua berkebaya hitam, yang tampak dengan mudah melawan gerombolan mayat hidup.


Angga penasaran, bagaiman bisa wanita tua itu dengan sangat mudah melumpuhkan mayat hidup dan mengembalikan mereka ke wujud asalnya, yaitu seonggok tanah liat.


"Dia pasti seseorang yang punya ilmu kanuragan tinggi pada zamannya. Tapi ada hubungan apa dia dengan Herly?"


Pertanyaan itu masih menjadi teka teki dalam benak Angga. Ia ingin bertanya langsung kepada nenek berkebaya hitam, namun om Bandi memaksanya bergegas pergi dari tempat itu.


Sesuai petunjuk peta, dan ucapan sang nenek, mereka tiba di tempat yang di maksud. Tapi mereka tidak melihat goa di sekitar tempat itu.


Mereka terus mencari kesana kemari, tapi goa itu seperti tidak pernah ada. Om Bandi lalu mencoba mencari dengan mata batinnnya.


Dengan mata tertutup pria itu lalu meraba batu cadas dan rimbun semak belukar. Pelan pelan om Bandi menemukan susunan batu, yang menurutnya sengaja di susun oleh seseorang, atau kelompok masa.


"Sepertinya ini adalah pintu masuk menuju goa Ngga. Coba kalian bantu saya memindahkan Batu batu ini!"


Angga, Bagus, dan Herly, segera membantu memindahkan beberapa buah batu besar yang menutupi pintu goa. Sementara om Bandi mencoba merasakan energi yang ada di dalam.


"Benar, ini pasti jalan masuknya. Coba kalian senter ke dalam, kita harus memastikan, ini adalah goa yang benar."


Angga langsung mengarahkan lampu senternya ke dalam mulut Goa. Dan memang benar ada ruang bercabang di dalam. Mereka lalu menggeser batu batu besar hingga longsor ke dalam, dan pintu goa terbuka lebar.


Ratusan kelelawar goa bertebangan ke arah mereka. Om Bandi masuk lebih jauh untuk menyalakan obor yang melekat di dinding goa.


"Baunya menyengat sekali, aku jadi mual di buatnya."


Bagus mengeluhkan aroma busuk dari goa. Masing masing memakai sapu tangan untuk menutup hidung mereka.


"Goa ini bercabang om, menurut om Bandi ke arah mana kita akan melangkah?"


Herly mulai khawatir, dia menunggu om Bandi untuk memberikan arah kepada mereka. Sementara om Bandi sendiri tidak dapat memberi kepastian.


"Saya tidak bisa menerawang goa ini Her, tapi salah satu dari lorong itu pasti altar penyembahan. Kita coba masuki satu persatu saja."


"Jangan berpencar, bisa saja Darsih membuat jebakan untuk kita. Jadi kalian mesti pasang mata dan jangan melamun."


Om Bandi mengajak mereka untuk memeriksa kondisi lorong goa satu per satu. Sementara di sisi lain goa itu, sepasang mata besar mengintai gerak gerik Angga dan teman teman.


"Lorong ini buntu om, hanya ada dua buah kerangkeng besi disana."


"Apa ini tempat Adipati mengurung para wanita yang akan di jadikan tumbal?"


Angga menghentikan pertanyaan tentang kerangkeng besi itu. Dia takut ucapanya akan melukai hati Herly sebagai keturunan Adipati Aryo Disastro Wardoyo.


Herly memandangi terus pasung kayu di dalam kerangkeng, tanpa sadar tangannya menyentuh besi jeruji yang di situ ada noda darah para gadis, termasuk darah dari telapak tangan Darsih.


Secara mengejutkan tubuh Herly terguncang hebat, mau tak mau Angga, Bagus, dan om Bandi berusaha melepaskan tangan Herly dari batang jeruji besi yang seolah menyengat tangan pemuda itu.


Tapi yang terjadi kemudian sama sekali di luar nalar mereka. Herly dan kawan kawan terlempar jauh ke masa silam. Satu masa dimana Herly bisa melihat desa di kaki gunung itu tampak subur, gemah ripah loh jinawi.


Masyarakatnya bahagia, meski kala itu pemerintah kolonial masih jadi penguasa kejam yang menindas kaum pribumi. Mereka semua di perlihatkan bagaimana sosok sang adipati memainkan politik cerdik untuk melindungi warganya.

__ADS_1


"Jadi beliau Kakek moyangku, gagah dan berwibawa."


Herly bergumam dalam hati. Diam diam ia kagum pada sosok adipati Rekso Darmo Sastro Wardoyo yang di cintai rakyatnya.


Mereka juga melihat betapa kacau dan buruknya politik kala itu. Adu domba, sikut menyikut seolah jadi tontonan biasa bagi warga keraton kadipaten.


Herly melihat praktek santet, teluh dan penggunaan susuk pemikat, menjadi hal jamak di masa itu. Dan ternyata sosok karismatik yang ia kagumi menjadi korban kekejaman ilmu hitam.


Semua memori di putar di depan matanya, Herly jadi tahu alasan dari kekejaman yang di lakukan kakek buyutnya. Dua orang Adipati yang tidak suka dengan sosok raden Darmo Sastro Wardoyo membuat persekongkolan dengan seorang dukun santet bernama Wiro.


Di malam malam tertentu, mereka mengirimkan santet ke keraton kadipaten, namun selalu dapat di tangkal oleh sang adipati bersama penasehatnya.


Sampai pada satu malam yang naas, sebuah santet berhasil menembus benteng kadipaten, dan menewaskan sang adipati.


Raden Aryo Disastro Wardoyo yang kala itu baru berusia delapan belas tahun, dan juga baru saja memiliki seorang putra. Tidak terima atas apa yang terjadi kepada romonya.


Selang sehari setelah Raden Aryo dinobatkan menjadi pengganti sang romo, dia memerintahkan para telik sandi untuk memburu orang orang yang terlibat dalam pembunuhan adipati Darmo Sastro Wardoyo. Dan hanya dalam waktu satu bulan, para telik sandi berhasil menemukan Wiro.


Dukun kejam itu kemudian di siksa, hingga ia bersedia membongkar nama dalang di balik pembunuhan romonya.


Tiga nama telah di dapat. Atas anjuran dua penasehatnya, raden Aryo lalu membalas mereka dengan cara yang sama, dan lebih kejam.


Adipati muda itu tidak membiarkan orang yang membunuh romonya mati dengan mudah. Dia membuat mereka tersiksa menjelang ajalnya.


Tapi satu hal yang tidak pernah di pikirkan oleh sang adipati muda. Dendam, hanya akan melahirkan balas dendam. Raden Aryo terlambat menyadari semua perbuatannya.


Maka yang terjadi kemudian adalah hukum tanam tuai. Siapa menanam angin dia akan menuai badai. Dan itu yang terjadi kepada Raden Aryo.


Santet dan teluh dikirimkan silih berganti. Namun dia selalu bisa menangkal semua kiriman santet yang dialamatkan padanya.


Sosok Mahluk tinggi besar dengan tanduk panjang telah menjanjikan keselamatan pada raden Aryo, tapi dengan imbalan tumbal nyawa dari keturunannya, setiap tujuh tahun sekali.


Karena itu mereka mencari para gadis untuk jadi persembahan tumbal kepada iblis.


Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah tragedi kemanusian yang terus terjadi dan berulang. Herly bahkan mengutuk dirinya sendiri karena apa yang telah terjadi desa ini.


Wanita wanita itu di culik dari wilayah lain setiap enam tahun sekali, di sekap di goa, hanya untuk memenuhi kebutuhan tumbal yang berasal dari keturunan langsung Raden Aryo.


Herly melihat Raden Aryo selalu menghukum diri sendiri, setiap kali dia melakukan semua itu. Ada rasa sesal dalam hatinya, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa lagi, karena terlanjur membuat perjanjian darah yang harusnya dia putuskan.


"Kenapa eyang... kenapa eyang tega melakukan kekejaman ini...!"


"Karena dosamu itu, aku yang harus menanggung semuanya."


"Kenapa eyang tidak jantan saja menghadapi kenyataan. Apa yang sudah eyang lakukan, eyang yang harus menanggungnya, bukan kami eyang?!"


Herly tidak bisa lagi menahan emosinya. Dada pria kurus itu terasa sesak. Dia ingin sekali memaki kakek buyutnya, tapi dia tidak bisa, yang terjadi sudah terjadi.


Herly Hanya bisa melihat rekaman dalam otaknya, sembari berlinang air mata. Angga dan Om Bandi yang telah lebih dulu tahu perkara itu, hanya bisa prihatin. Tidak ada satu orangpun dari mereka yang berniat menjelaskan fakta ini kepada Herly.


"Tenanglah Her, itu hanya lembar kenangan kelam masa lalu yang sebenarnya kamu tidak harus ikut bertanggung jawab atas tindakkan orang lain."


"Tapi aku malu sekali Ngga...!"

__ADS_1


"Sudahlah jangan pikirkan lagi, lebih baik kita cari tahu cara keluar dari tempat ini."


Angga membujuk Herly untuk tidak terlalu terbawa suasana hati, dan mulai mencari jalan keluar dari bayangan masa lalu yang bagi om Bandi mungkin saja jebakan iblis agar membuat mereka putus asa.


"Ini bukan alam nyata, kita harus bisa tersadar, lalu keluar dari sini sebelum benar benar terperangkap selamanya."


Bagus mengingatkan mereka soal dimensi astral. Dimensi antar waktu yang sering menyesatkan manusia. Mereka dibuat terlena, lalu tersesat sehingga tidak dapat menemukan lagi jalan untuk pulang.


"Aku setuju Gus, tapi kita semua ada disini, itu artinya kita berada di dalam pengaruh alam bawah sadar. Siapa yang akan menyadarkan kita, bila saat ini ternyata kita sedang pingsan, atau mungkin bermimpi."


Apa yang dikatakan Angga dan Bagus membuat Herly bingung. Dalam pandangan matanya saat ini, mereka seperti penjelajah waktu yang melakukan perjalanan ke masa lalu.


"Apa maksudnya kita pingsan, apa kita sedang mimpi Ngga, Gus, tolong jelaskan semua ini."


"Lebih tepatnya kita sedang pindah alam Her, kamu lihat orang orang itu, tidak satupun dari mereka yang menyadari keberadaan kita, karena memang di era ini kita belum ada."


"Apa yang kamu lihat sekarang ini adalah peristiwa lampau, yang tanpa kamu sadari, jauh di dalam lubuk hati, kamu ingin menuntut penjelasan kenapa ini harus terjadi."


Penjelasan Om Bandi membuat Herly tertekun. Ucapan om Bandi menjelaskan apa yang selama ini ingin ia tanyakan kepada romonya.


"Jadi ini semua adalah jawaban atas pertanyaanku. Pantas saja romo, tidak mau aku bertanya soal masalah ini."


"Romo memilih untuk menutup rapat rapat kisah aib keluarga kami, agar aku tidak menyalahkan siapa siapa atas peristiwa kelam itu."


"Aku jadi tahu kenapa beliau tidak mau aku kemari. Desa ini punya cerita kelam yang memilukan."


Herly menghela nafas panjang, wajahnya terlihat kusut. Herly sangat sedih dengan apa yang menimpa keluarganya.


"Sudahlah, sekarang kita harus cari pemandu, agar bisa keluar dari sini."


"Pemandu apa maksud om Bandi, apa mungkin bisa menemukan pemandu di alam gaib ini?"


Angga terkejut dengan ucapan om Bandi tentang pemandu. Dia masih gamang, siapa pemandu yang di maksud oleh omnya.


"Ayo jalan, kita harus mencari penasehat raden Aryo, atau Darsih sebelum ia jadi seperti sekarang. Darsih gadis polos yang belum di selimuti dendam.


"Darsih om, kenapa Darsih, kenapa juga si penasehat?"


Angga semakin bingung dengan perkataan om Bandi. Dia tidak tahu siapa si penasehat dan mengapa mereka berdua yang bisa menjadi jembatan mereka menuju alam nyata.


"Om Bandi benar Ngga, hanya mereka berdua yang bisa menjadi pemandu kita saat ini."


"Tapi kenapa mereka gus?"


"Karena mereka yang menyebrangi dua alam Ngga. Dua duanya punya urusan yang belum selesai. Satu karena dendam dan yang satu lagi karena penyesalan yang dalam."


"Sosok penasehat yang di maksud om Bandi adalah wanita berkebaya hitam. Dia dukun yang membuat eyang buyut Herly mengambil jalan sesat ini."


"Kita sudah bertemu dia di bawah saat menghadapi mayat mayat hidup itu."


"Kamu pasti ingat wajahnya kan?"


Angga manggut manggut sembari memegang dagunya. Dia akhirnya tahu siapa wanita berkebaya hitam yang di lihat di stasiun dan hadir dalqm mimpinya saat itu.

__ADS_1


"Sudah cukup ngobrolnya, kita harus bergegas, sebelum iblis itu sadar kita menyebrang ke dimensi astral."


Om Bandi menyudahi obrolan singkat mereka, kemudian berjalan ke luar desa untuk mencari sang penasehat atau wanita bernama Darsih.


__ADS_2