Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur


__ADS_3

Angga dan Herly baru saja kembali ke raga kasar mereka. Butuh waktu untuk kembali sadar. Sementara itu om Bandi berusaha menjauhkan Bagus dari sosok yang ingin ambil alih raganya.


Kekuatan yang tidak seimbang membuat om Bandi terpojok dan lelah. Berada di luar raga membuat pria itu merasa letih. Apalagi harus menghadapi mahluk yang dapat menyerap energi hitam manusia hanya seorang diri.


"Kekuatan dendamnya sangat pekat, apa mungkin wanita bisa menyimpan energi hitam yang begitu besar, sampai mengalahkan arti sejatinya?"


"Aku merasa ada puluhan bahkan ratusan jin yang menyelimuti wanita itu, kalau tetap bertahan di goa ini, kami pasti akan segera mati."


"Aku harus cari jalan keluar, tapi anak anak belum sadar. Bagaimana ini?"


"Duh gusti, berikan mukjizat Mu, beri jalan keluar untuk lolos dari wanita, dan parasit parasit yang menempel di tubuhnya."


"Kenapa Bandi, apa kamu sudah mulai gemetar ketakutan sekarang, bukankah aku sudah peringatkan kamu untuk tidak ikut campur dalam masalah ini?"


"Sekarang sudah terlambat, kamu, dan kalian semua harus mati. Aku akan membunuhmu Bandi.


Suara serak pria, keluar dari mulut Darsih. Pria itu mengancam om Bandi karena telah berani ikut campur dalam masalah dendam Darsih. Namun om Bandi tidak mau menghiraukannya, dia mencari cara yang tepat untuk menghindar, sambil menunggu Angga dan teman temannya sadar.


"Sebisanya, aku harus memancing iblis itu menjauhi anak anak, agar mereka punya kesempatan untuk pergi dari goa, dan menyusun ulang rencana untuk menghadapi Darsih."


"Hah... HAHAHAHA...!"


"Kamu pikir aku akan kalah dengan mudah, walau harus mati aku tidak akan mengalah dan menyerah."


"Ayo kita lanjutkan, kali ini aku yang akan mencingcangmu, iblis parasit kurang ajar!"


"Cuih...!"


Om Bandi mengucap mantra dalam hati, ototnya membesar, wajahnya memerah, lalu dengan menyebut nama Tuhan, om Bandi melesat membelah tubuh Darsih, Hingga mahluk itu melepaskan dirinya dari tubuh Darsih.


"Tolong... tolong aku...!"


Tiba tiba saja om Bandi mendengar suara rintihan minta tolong seorang wanita yang terdengar pilu. Dia di buat bimbang oleh rintihan wanita itu. Satu sisi hatinya merasa iba, tapi nalarnya mengatakan bahwa iblis bisa saja menipu dengan cara cara yang licik .


"Aku tidak boleh lemah, iblis akan memanfaatkan keresahanku. Lebih baik sekarang fokus membangun serangan agar kami bisa lolos dari goa ini."


Om Bandi pasang kuda kuda. Mata pria itu sibuk menganalisa, mencari celah agar bisa meloloskan diri. Sementara Bagus, Angga dan Herly sadar bersamaan.


Hempasan keras Darsih, membuat tubuh Bagus terasa remuk. Untuk sesaat dia hanya berbaring lemas di tanah. Angga datang mendekat, lalu menarik tangan Bagus untuk berdiri.


"Kamu tidak apa apa Gus, ada apa dengan punggungmu?"

__ADS_1


"Aku tidak apa apa, hanya saja punggungku terasa sakit semua. Iblis sialan itu, membantingku terlalu keras sampai aku pingsan."


"Oh iya, bagaimana ritual putus kontrak darah dengan ingon ingon, apakah Herly berhasil Ngga?"


"Dia berhasil Gus, sekarang tinggal menyelesaikan urusan kita dengan wanita itu."


"Semoga Darsih dapat menarik kutukannya. Baiklah masalah itu, nanti kita bahas, sepertinya om Bandi membutuhkan bantuan kita."


Karena gembira, Angga dan Bagus sampai melupakan om Bandi yang kian terdesak. Herly yang lebih dulu sadar akan bahaya yang menimpa om Bandi, buru buru masuk dalam arena pertarungan.


"Om Bandi tidak apa apa?"


"Maafkan kami terlambat turut membantu. Ritual pemutusan perjanjian berjalan rumit, tapi syukurnya kami telah berhasil melepaskan ikatan dengan mahluk itu om."


"Syukurlah Her yang terpenting trah kalian sudah terbebas dari tumbal ingon. Sekarang kita bisa lebih fokus membereskan kutukan iblis wanita itu. Saya rasa dia tidak sendirian."


"Ada sosok lain dibelakang Darsih, yang memanfaatkan dendamnya."


"Wanita itu ditumpangi ratusan jin di tubuhnya. Ini berarti saat sumpah di ucapkan, ada kekuatan mistik lain yang menyokongnya."


"Jujur saja, saya baru menemukan kekuatan sebesar ini dalam hidup. Jadi sebaiknya kita berhati hati, kalau ada kesempatan untuk mundur, akan lebih baik. Kita akan menyusun ulang strategi."


"Apa rencana om Bandi sekarang. Jumlah mereka semakin banyak, kita akan kehabisan energi bila terus meladeni mereka."


Angga memiliki kecemasan yang sama dengan omnya. Pemuda itu khawatir, mereka tidak akan dapat keluar dari goa dengan selamat.


"Dari buku kuno yang kamu beli di kios loak waktu itu, om Bandi sempat membaca bahwa ada satu cara untuk mengunci iblis. Tapi ini akan sangat berbahaya, orang yang jadi medianya bisa saja dikuasai penuh, atau mungkin juga mati."


"Akan lebih baik kita menghindar. Untuk sementara waktu, kita mesti berhasil turun gunung, agar dapat menyusun siasat baru."


Angga, Herly, dan Bagus saling melirik lalu mengangguk tanda setuju. Mereka mengaminkan ide om Bandi.


Dalam hitungan ke tiga keempat pria itu masuk kembali ke dalam pertarungan. Masing masing dengan pusaka andalan. Sebaliknya sosok Darsih yang ditunggangi oleh iblis makin bersemangat.


Pasukan Jin yang dikerahkan iblis semakin banyak. Suana goa yang tadi sempat dingin, lembab, dan sunyi, kini berubah riuh, padat oleh mahluk mahluk aneh yang datang menyerang, berebut untuk makan energi Herly dan kawan kawan.


"Serang terus anak anak, jangan biarkan manusia manusia itu keluar dari tempat ini!"


"Aku mau mereka mati, terutama keturunan adipati Aryo Disastro Wardoyo. Aku mau kalian tangkap bocah itu untukku!"


Suara geram Darsih yang merayap di langit langit goa, menciutkan nyali semua orang. Om Bandi dan Angga berusaha meransek maju untuk melindungi Herly. Tapi gerakan mereka seakan telah terbaca.

__ADS_1


Tangan tangan hitam, muncul dari dalam tanah, menarik herly hingga terpasung di dinding goa. Wajah Darsih yang merayap di langit langit goa kini tepat berada di depan wajah Herly. Wajah seram wanita itu menjulurkan lidahnya menjilati Herly yang tidak berdaya.


Angga yang melihat kejadian itu refleks melemparkan keris pusaka miliknya, namun dengan cerdik dapat di tepis oleh Darsih.


Mereka benar benar berada pada posisi yang sulit. Angga yang tanpa senjata, berhasil tertangkap. Tubuh pemuda itu di seret masuk lebih dalam ke arah meja altar, dan keris pusaka miliknya meluncur deras ke arah jantung Angga.


"Mati... Mati...!"


"Ini akibatnya bila kalian berani ikut campur urusan ku...!"


Suara Darsih berubah berat seperti laki laki yang murka, karena mereka telah membantu Herly. Untungnya di detik detik terakhir, saat keris akan menembus jantung Angga, sosok sang penasehat menangkap keris Angga dan menjatuhkan benda itu tepat di dadanya.


"Hah...hah...hah... Hampir saja, terima kasih nyai, saya tidak tahu apa jadinya bila nyai tidak hadir di sini menolong saya."


"Sudah, jangan banyak bicara, pergi dari sini secepatnya, soal iblis itu, akan kami tahan untuk sementara waktu."


"Pagi ini juga, sebelum matahari terbit, kalian harus sudah berada di desa. Jika mungkin, tinggalkan desa secepat yang kalian mampu."


Kami tidak bisa menahan mahluk ini terlalu lama. Pergi pergilah Ngger...!"


Sosok penasehat dan suaminya muncul bersamaan dengan raden Aryo yang membawa pasukan. Ia segera membebaskan Herly dari pasungan tangan tangan yang mencengkram leher, tangan, dan kakinya, lalu meminta sang cucu untuk pergi menjauh.


Mereka mengamuk bagaikan badai. Jin jin yang mengepung Angga dan teman temannya, lansung surut seketika. Mereka menempel lagi di tubuh Darsih bak bola bola hitam yang melindungi seluruh tubuhnya.


"Hai... Digdo, aku adalah lawanmu, jangan terus bersembunyi di balik amarah Darsih."


"Aku yang membunuh anakmu, jadi biar aku yang menebusnya, jangan sakiti cucuku Digdo...!"


"Adipati durjana penghisap darah, kau yang membunuh putriku dan anaknya, maka rasakan akibatnya, aku akan membunuh cucumu untuk menggenapkan janji Darmi."


"Kau akan rasakan sendiri sakitnya kehilangan Aryo."


Ayah Darmi yang telah bersatu dengan iblis dan menempel pada tubuh putrinya, lalu memisahkan diri.


Pertempuran antara keduanya tak terelakan lagi. Jual beli pukulan dan tendangan berlangsung sengit. Kesempatan itu lalu dipergunakan Herly dan kawan kawan meloloskan diri.


Mereka meninggalkan goa tepat saat pertarungan sengit antara Digdo ayah Darmi, dan raden Aryo sedang berlangsung.


"Sesuai arahan penasehat adipati, kita harus tiba di desa saat pajar. Jadi cepatlah, jangan buang buang waktu."


Om Bandi memandu mereka turun dari gunung, sementara Digdo yang sadar buruannya terlepas, segera mengirim bala tentara jin untuk pergi mengejar.

__ADS_1


__ADS_2