Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 26 Ibu


__ADS_3

"Kita sudah berputar putar empat kali disini Her, sepertinya ada yang salah dengan peta itu, apa kamu yakin tidak salah baca?"


"Tidak Gus, aku yakin arah kita sudah benar, sesuai petunjuk dalam peta ini."


"Dari gambar di peta, kita harusnya ke arah selatan, artinya di simpang jalan ini, kita belok ke kanan disini Gus, tapi entahlah, aku juga tidak mengerti, bagaimana bisa terjadi?"


"Sepertinya kita disesatkan oleh sesuatu. Tapi apa mungkin ada mahluk yang tidak menghendaki kita datang ke desa itu?"


Herly dan Bagus menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Pemuda itu memutuskan berhenti sejenak, lalu memeriksa peta dan kondisi jalan.


Bagus ingin memastikan mereka sudah berada tepat, pada jalur yang benar. Herly mengawasi sekitar, ia tak habis pikir, bagaimana mungkin mereka berputar putar di jalur yang sama, sementara jalur yang mereka tempuh sudah benar sesuai dengan petunjuk peta.


Untuk beberapa waktu lamanya, Bagus hanya berdiam diri sembari merasakan halus humbusan angin. Matanya terpejam, lalu tangan pria itu meraba raba sambil berjalan hingga lima ratus meter dari titik awal letak mobil mereka.


Sementara itu Herly tertidur pulas. Rasa letih dan kantuk tak bisa lagi ditahannya. Tak lama kemudian Bagus kembali ke mobil, dan kali ini berjalan lagi ke arah kiri.


Bagus melakukan hal yang sama, kemudian kembali ke titik semula di depan mobil mereka. Dengan resah ia berpikir keras tentang fenomena ganjil ini.


"Siapa pememilik kekuatan hitam ini. Auranya begitu pekat, aku harus waspada, dia jelas bukan mahluk sembarangan, yang bisa di anggap remeh."


"Sialnya tempat ini sepi. Tidak ada pengendara lain di daerah ini, aku jadi tidak bisa bertanya kepada orang yang lewat."


"Atau jangan jangan jalan ini, sudah tidak digunakan lagi?"


Tiba tiba Bagus melihat tubuh Herly seakan akan kesulitan bergerak. Dia begitu kesakitan hingga nafas pemuda itu tercekat. Tampak Herly memegangi lehernya, seperti ada sesuatu yang memyumbat di dalam kerongkongannya.


"Her.. Herly bangun bro, ada apa denganmu kawan, Hey..., bangun Her... Herly...!"


Bagus panik, ia menampar pelan wajah Herly. Pemuda itu tahu kalau temannya sedang mimpi buruk. tapi entah kenapa kondisi tubuh Herly tampak tak wajar, tubuhnya keras, klojotan, mencekik lehernya sendiri.


"Ibu... Ibu... jangan pergi bu, aku ini Herly anak ibu!"


"Muleh cah bagus, panggonanmu duduk nang kene ngger, muleh ben iki kabeh ibu sing nanggung."


"Ojok kue terus ne, yen pingin kue selamet."


Herly berteriak histeris, wajahnya pucat, keringat membasahi wajah pria itu. Bagus segera memberikan sebotol air mineral kepada Herly. Dengan gemetar herly mengambil botol, dan minum hingga ia sedikit tersedak.


"Ada apa Her, kenapa wajahmu pucat, kamu mimpi buruk apa?"


Tak sabar Bagus ingin mencari tahu ada apa dengan Herly, baru kali ini ia melihat ada orang yang bermimpi buruk hingga kelojotan sampai tak bisa bernafas.

__ADS_1


"Aku bertemu ibu di suatu tempat yang aneh, semua terlihat merah, ibu tampak menderita pakaiannya sobek, dari matanya mengalir darah segar, aku coba mendekat, namun ibu melarang, beliau meminta kita pulang."


"Ini bukan tempatku katanya, beliau suruh kita pulang. Ibu menyuruhku tidak melanjutkan perjalanan ini, jika aku mau selamat."


"Entah apa arti mimpi ini, tapi ibu menyiratkan penderitaan, beliau juga mengatakan, biar semua ini ibu yang menanggungnya."


"Sejak dari awal tersesat, aku sudah menduganya. Ada yang tidak suka kita mencari letak desa itu. Karena ini kita selalu berputar putar disini."


"Tapi kita sudah terlanjur ada disini, sebaiknya teruskan saja, semua masalah harus selesai tuntas, biar nanti tidak ada penyesalan lagi Her."


"Kamu benar Gus, bagaimanapun ini sudah menjadi keputusan kita. Aku yakin kita sudah berada pada jalur yang semestinya, kali ini biar aku yang menyetir, kamu yang lihat petanya."


"Tidak mungkin peta itu salah. Para pengantar jenazah romo, juga pakai peta yang sama waktu mengantar beliau ke peristirahatan terakhir."


"Ayo naik Gus, kita coba sekali lagi, aku yakin kali ini, kita pasti sampai di desa leluhur kami."


Herly mengambil alih kemudi, dia yakin tidak akan tersesat lagi untuk kali ini. Bagus menurut saja, mobil kembali melaju menyusuri hutan di simpang kanan sesuai peta kuno yang di pegang Bagus.


Suasana mulai berubah, langit jadi mendung, mereka melaju diantara tebing, hutan, dan ngarai. Mereka benar benar masuk jalur yang benar kali ini.


Meskipun jalan tidak lagi beraspal, Herly makin percaya diri. Herly yakin. Tidak lama lagi mereka akan sampai di desa leluhur.


"Sebentar lagi malam Her, lebih baik menepi, kita cari tempat untuk gelar tenda, kita istirahat makan malam, besok pagi baru teruskan mencari letak desa leluhurmu."


Herly menepi, dia melihat peta dan desa yang dimaksud sudah tidak, jauh dari tempat mereka sekarang. Herly menghidupkan lagi mesin mobil, berjalan pelan mencari tanah lapang yang tepat untuk bermalam.


"Kalau aku tidak salah, sedikit lagi kita akan sampai di gapura desa, tapi baiklah kita cari tempat aman untuk mendirikan tenda. Aku juga sudah lelah Gus."


Herly berhenti di pinggir jalan. di sebuah tanah lapang, kemudian mendirikan tenda. Bagus segera memasak air untuk menyeduh kopi, selanjutnya, memasak makanan ala kadarnya untuk mereka berdua.


Sementara menunggu Bagus siap dengan makanan mereka, Herly memilih untuk memeriksa sekitar, sambil memungut ranting ranting kering untuk membuat api unggun.


"Jangan pergi terlalu jauh Her, kita tidak mengenal daerah ini, siapa yang tahu di daerah ini masih ada binatang buas."


"Tenang saja Gus, aku tidak akan pergi jauh, cuma cari kayu bakar di dekat sini, udaranya mulai dingin."


Herly melangkah sedikit melipir ke arah hutan, sambil terus waspada, ia mengumpulkan ranting ranting kering yang banyak berserakan di tanah.


Tanpa di sadari, Herly semakin jauh dari tenda mereka. Bagus yang dari awal merasa tidak nyaman dengan aura hitam yang mengikuti mereka jadi khawatir. Pemuda itu segera menghentikan aktifitas, kemdian mencari keberadaan Herly.


"Kemana perginya anak itu. Padahal aku sudah berpesan, agar dia tidak pergi terlalu jauh meninggalkan tenda. Merepotkan saja!"

__ADS_1


Bagus segera mematikan kompor, lalu pergi menyusul Herly. Dia buru buru lari ke dalam hutan karena ada sesuatu yang sedang mengintai mereka dari suatu tempat.


Tak lama kemudian Bagus melihat Herly berdiri mematung di dalam hutan dengan pandangan kosong. Tiba tiba bola mata Herly menjadi putih, ia mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Bagus.


"Her, ayo pergi dari sini, tempat ini tidak aman untuk kita!"


Kondisi Herly yang kaku mematung, memaksa Bagus harus menyeret, dan membopong tubuhnya, keluar dari hutan. Sementara langit mulai berwarna jingga, matahari tak lama lagi akan tenggelam.


Bagus berlari sambil membopong tubuh Herly yang kaku, bagaikan seonggok patung kayu. Sesuatu di dalam hutan membuatnya tak ingin bertemu malam di hutan itu.


Bagus membaringkan tubuh Herly di tenda, sementara dirinya segera digap membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh. Sudah lama sekali, tapi Herly tak kunjung sadar. Bagus tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa mengoleskan minyak sembari komat kamit membacakan doa untuk temannya itu.


"Gus, aku dimana, ibu dan kakakku mereka kemana Gus?"


"Kamu tidak sadarkan diri di hutan. Aku yang membawa kamu kembali ke tenda. Soal ibu dan kakakmu, aku tidak tahu Her. Aku tidak lihat ada orang di hutan itu, selain dirimu sendiri."


"Kamu hanya sedang berhalusinasi, sebaiknya banyak banyak berdoa. Tempat ini tidak aman untuk kita Her."


Bagus memberikan air mineral dan secangkir kopi, kemudian mereka makan di dalam tenda. Bagus ingin sekali menanyakan apa yang Herly rasakan sekarang, namun batal ia lakukan karena merasa ada orang lain selain mereka, di tempat itu.


"Kamu istirahat saja besok pagi pagi sekali, kita berangkat ke desa."


Herly mengangguk, lalu masuk ke dalam sleping back. Sementara Bagus merapikan peralatan makan dan meletakkannya di bak belakang mobil.


Baru saja hendak menyusul Herly ke dalam tenda, tiba tiba Bagus melihat dua buah siluet di tengah jalan. Spontan dia mengarahkan senter ke tengah jalan, tapi tidak ada apa apa disana.


Untuk beberapa saat Bagus berdiri di samping pintu mobil, dan siluet itu kembali terlihat. Kali ini jaraknya lebih dekat dari tempatnya berdiri.


"Sial mahluk ini mempermainkan aku!"


Bagus mengumpat dalam hati, lalu masuk ke dalam mobil. Dengan rasa kesal Bagus lalu menyalakan lampu kabut dan menunggu untuk sesaat.


Tidak ada pergerakan, ataupun tanda tanda di dalam kabut, hanya suara suara serangga malam yang membuatnya merinding. Malam makin larut, dan udara dingin kian terasa menusuk kulit.


Bagus mematikan lampu kabut, lalu berjalan menuju tenda. Namun hal yang tak terduga, kemudian terjadi. Tepat di samping telinganya. Ada dua sosok bayangan wanita berdiri menyeringai meneriakkan sesuatu ke telinga Bagus.


"Muleh.. muleh, Yen kue kabeh arep selamet, ojok terusno nang deso iku. Lek enggak, kue pasti mati.... Mati...!"


Kalimat bernada ancaman yang terdengar keras membentak, di telinga Bagus, membuat pemuda itu duduk di tanah sambil menutup kupingnya.


Suara serak wanita itu, mengatakan mereka harus pulang kalau ingin selamat, jika mereka masih terus nekat meneruskan perjalan ke desa, maka keduanya akan mati.

__ADS_1


__ADS_2