
Kepergian Ryo dan Jaka membuat luka mendalam di hati Angga. Dia merasa telah gagal. Semuanya jadi berantakan, tidak ada yang sesuai dengan harapan.
"Sudah cukup Ngga, sekarang kita harus membereskan wanita wanita yang di panggil Darsih dari Neraka. Nanti saja kita urus jasad kedua temanmu."
"Untuk sekarang fokuslah. Mereka akan membantai kita bila kamu tak bersungguh sungguh."
"Herly, Bagus, berhentilah berlutut. Ayo bangun, jangan terus bersedih atas kepergian mereka. Kita harus mengantar Herly kepada tujuannya. Semoga tidak ada lagi yang seperti ini di masa depan."
Angga, Bagus, dan Herly berdiri sembari menghapus air matanya. Mereka bersiap untuk membalas kematian kedua rekan rekannya.
Sementara enam wanita yang di bangkitkan Darsih kini telah dalam bentuk solid mereka. Wajah wajah buas haus darah, seolah olah ingin menelan Herly.
Enam mahluk itu bergerak serentak, sementara Bagus menabur garam kasar yang lebih dulu dia bacakan mantra. Om Bandi menutup mata, ia berencanan mengaktifkan ilmu para leluhur yang oleh kakek Angga telah di larang.
"Om... Om Bandi, jangan gunakan mantra itu om. Bukankah eyang kakung, dan juga pakde sudah melarang kita mempelajari kitab hitam itu om?"
"Sekarang keadaanya mendesak Ngga, kita tidak cukup bertahan, dengan kemampuan sekarang. Darsih dan kutukannya benar benar ingin menguasai tempat ini."
"Dia benar benar ingin menghabisi trah Sastro Wardoyo."
"Wanita itu sudah lupa diri sejatinya Ngga. Dia sudah bersatu dengan iblis. Dendamnya yang begitu besar jadi santapan terlezat penghuni kerak neraka. Sudah tidak ada lagi kebaikan yang tersisa darinya."
"Sudahlah, jika nanti om Bandi tidak bisa kembali pada wujud sejati om, kamu jangan ragu. Tusukkan keris itu ke jantung om Bandi, faham...!"
"Kita mesti melindungi temanmu, jadi bersiaplah untuk kemungkinan terburuk."
Angga, Bagus, dan Herly sudah terlanjur panas hati. Tidak ada lagi kata takut dalam hati mereka. Semua bersiap dengan senjatanya masing masing. Dan sejurus kemudian, ketiga pemuda itu bergerak serentak menyerang.
Sementara mereka terlibat dalam pertarungan, om Bandi mengambil kesempatan untuk merampungkan ritual. Hanya butuh waktu sebentar lagi sebelum ia benar benar hilang jati diri.
"Olah roso sejatine sak jeroning roso, rogo sukmo kadigdayan, manunggal ning samasta."
Setelah mengucapkan mantra om Bandi berada dalam puncak hening. Pria itu keluar dari raga dan bersatu dengan alam semesta. Tubuhnya terbang melayang di angkasa bagai bola putih yang bersinar terang di tengah gelap sabana gunung yang luas.
Kini om Bandi berada dalam bentuk astral. keadaannya sekarang sudah sama dengan para wanita yang di utus sang iblis atas nama angkara murka. Dendam kesumat seorang perempuan bernama Darsih telah jadi bencana bagi mereka.
Pertempuran kian sengit. Letupan energi yang saling berbenturan, bagaikan letusan ribuan kembang api yang menghias langit malam.
Om Bandi mengamuk tanpa rasa letih, posisi mereka kini terbalik. Angga dan teman teman berada di atas angin. Sedang mahluk yang di kirim iblis dalam bentuk sosok Darsih kian melemah. Satu satu mahluk kirimannya tubang terbakar, hangus menjadi asap hitam yang berbau busuk.
"Kurang ajar kue menungso, iki urusanku ambek bocah kui, kue ora usah melok melok, nek kue ora gelem leren, nasibmu bakalan podo karo bocah bocah iku."
Iblis yang mengambil wujud Darsih terlihat berang, wajahnya kini tak lagi dapat melepaskan tawa puas, seperti saat mereka menghabisi nyawa Ryo dan Jaka.
Tanpa komando Angga, Herly, dan Bagus membentuk formasi segi tiga mengurung mahluk terakhir yang di utus Darsih.
"Ini saatnya kamu membebaskan Darsih dari cengkraman tanganmu iblis...!"
Angga berteriak lantang tangannya mengepal, rahangnya menebal. Dia sangat bernapsu untuk membunuh iblis yang telah menghabisi nyawa kedua temannya.
__ADS_1
"Jangan tergesa gesa anak muda ini baru mainan kecil untuk membuat kalian terhibur dan bersemangat."
"Coba kalian bendung yang satu ini, jika kalian mampu."
"HAHAHAHA...!"
Mahluk itu menghilang bersama suara tawanya yang menggema. Suasana menjadi hening seketika.
Om Bandi kembali dalam raganya, sedangkan Angga terus berpikir tentang arti kata wanita itu.
"Ini terlalu mudah kawan kawan, dia tidak mungkin meninggalkan kita tanpa rencana."
Angga betul betul di buat bingung dengan tingkah iblis itu. Belum lama saat ia mengatakan, akan menghabisi Angga, Herly, dan Bagus. Tapi kini ia menghilang begitu saja.
"Mungkin dia butuh memulihkan energinya Ngga, tidak mudah bagi iblis melakukan semua ini. Dia pasti dari golongan yang telah berusia ribuan tahun."
Bagus coba menerangkan apa yang sedang dipikirkan Angga. Sedang Herly mengambil nafas karena ini kali pertama ia benar benar masuk terlibat dalam sebuah pertarungan.
"Bagaimana sekarang, apa kita akan mengadakan pemakaman untuk Ryo dan Angga, atau kita teruskan saja mendaki hingga ke lokasi Goa?"
Herly menunggu jawaban teman temanya, sembari memandang dua jasad temannya yang terbujur kaku.
"Seperti kata om Bandi, kita harus segera ke puncak, bagaimanapun kontrak darah itu harus putus, agar tidak lagi hal, yang menjadi beban dalam keluarga kecilmu Her.
Angga mengajak teman temannya melanjutkan perjalanan, setelah lebih dulu merapikan jenazah Ryo dan Jaka.
"Kita doakan saja mereka. Semoga Tuhan memberi tempat yang layak untuk kedua teman kalian."
"Dari peta ini mestinya tinggal satu jam lagi kita sampai di punggungan letak goa itu. Sebaiknya kita jalan lebih cepat agar sampai lebih awal."
Herly memeriksa kembali petanya, dan mereka bersiap untuk pergi dari padang sabana tempat jasad Ryo dan Jaka terbaring.
Sudah tiga puluh menit mereka berjalan, udara terasa semakin dingin. Kabut tebal membuat jarak pandang mereka jadi terbatas. Tapi om Bandi melarang mereka untuk berhenti.
Mereka merangkak dalam hening, jalan menanjak yang semakin curam, membuat langkah mereka menjadi sangat lambat.
Baru saja sampai di tanah datar, sayup dari kejauhan rombongan kecil itu bisa mendengar suara gemuruh di bawah mereka. Suara saru yang kian lama semakin jelas terdengar.
"Ada apa lagi ini, apa sedang terjadi longsor di bawah sana?"
Angga mencemaskan jasad kedua temannya. Dia takut bila terjadi longsor yang akan menimbun jasad kedua temannya.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Bagus dan om Bandi mengarahkan senter mereka ke bawah, berharap mengetahui apa yang telah terjadi di bawah sana.
Namun pekatnya kabut membuat jarak pandang mereka terbatas. Cahaya lampu senter hanya mampu menembus kabut sejauh dua meter saja.
Kemudian Herly merasakan ada sesuatu yang kasar mencengkram kedua kakinya. Sontak saja Herly berteriak, menyadarkan Angga ada sesuatu yang membahayakan jiwa mereka.
"AAAAAAA...!!"
__ADS_1
"Herly... Bertahanlah, jangan lepas genggaman tanganku. Aku akan menarikmu kawan...!"
Bagus yang terkejut dengang cepat bereaksi, dia menebas dua tangan yang mencengkram kaki Herly, lalu mundur menjauh dari jurang.
Lalu tiba tiba saja tubuh tubuh yang telah rusak bercampur tanah liat merambat naik ke atas, mengepung mereka, dengan raungan.
"Sial apa mereka orang mati yang di bangkitkan om?"
"Sepertinya begitu Gus, saya rasa mereka tidak akan keberatan bila kita membunuh mereka sekali lagi."
Bagus berbisik kepada om Bandi. Mereka tidak punya ide untuk mengalahkan mereka yang sudah mati.
"Hati hati om jumlah mereka terlalu banyak, mereka pasti dikendalikan sihir hitam."
Bagus mulai ciut, jumlah mayat hidup semakin banyak, dan mereka tidak punya pengalaman untuk menghadapi mayat hidup.
Om Bandi tidak punya pilihan lain. Dia harus menjauhkan mayat hidup dari Herly. Dengan satu hentakan dia melompat ke tengah lalu membabat habis mayat hidup yang mengerubunginya.
Bagus yang melihat taktik om Bandi kemudian mengikuti langkahnya untuk membelah konsentrasi mayat hidup yang mengepung om Bandi.
"Sial, ternyata mereka tidak bisa di bunuh. Bagaimana ini?"
Om Bandi kebingungan ini kasus yang baru pertama kali dia hadapi. Pria itu hanya bisa menyabet habis mayat hidup. Tapi gerombolan itu bangkit dan bangkit terus, hingga mereka semua kelelahan.
Di tengah putus asa dan rasa letih. Tiba tiba saja dua sosok kakek dan nenek berpakaian serba hitam muncul mengobrak abrik mayat hidup yang mengurung Angga dan teman teman.
Angga mengucek ucek matanya, seakan akan ia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan matanya.
"Dia nenek berkebaya hitam yang aku lihat di stasiun kereta waktu itu. Lalu pria di dekatnya adalah orang yang aku beri uang di halaman parkir rumah makan."
"Apa hubungan mereka dengan tempat ini?"
"Kenapa tiba tiba mereka bisa ada di gunung ini dan membantu kami?"
Angga terus bertanya dalam hati. Dia ingat betul dengan dua sosok yang sedang bertarung membantu mereka.
"Tidak salah lagi mereka adalah orangnya. Nenek berkebaya hitam itu, bahkan pernah hadir dalam mimpiku."
Untuk sejenak Angga terbawa dalam lamunannya. Dia masih memikirkan hubungan antara Herly dengan kakek nenek misterius itu.
'Wess...!"
Samberan tongkat kayu mendarat di kepala mayat hidup yang hampir berhasil mendapatkan leher Angga. Beruntungnya tongkat si nenek kebaya hitam berhasil membuat kepala mayat hidup itu remuk dan jatuh ke tanah.
"Kue wes bolak balik tak kandani ngger, iki duduk urusanmu. Nanging kue tetep ngeyel. Iki karma koncomu, nanging kue tetep cawe cawe."
Sosok Nenek berjebaya hitam telah mengingatkan Angga berkali kali, tapi dia tetap kukuh ikut campur dalam urusan, yang sudah menjadi karma Herly sebagai penerus trah Sastro Wardoyo
"Maafkan kelancangan keponakan saya nyai, tapi ini sudah terlanjur jadi urusan kami. Jika berkenan bantu kami menyelesaikan karma keturunan Aryo Disastro Wardoyo."
__ADS_1
Sosok nenek Berkebaya hitam, lalu manggut manggut, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah untuk memberi hormat pada om Bandi yang masih merupakan keturunan Singosari.
"Pergi... Pergilah raden urusan ini biar kami yang selesaikan, kalian naik saja ke atas. Setelah sampai di tanah datar belok ke arah kanan goa itu ada disana."