
Cuaca desa tempat mereka berada sekarang terasa aneh untuk Angga, dia mulai merasa orang orang di sekitar mereka, mulai menyadari kehadiran Angga dan teman teman.
"Ini aneh om, kenapa tiba tiba cuaca yang tadi cerah, tiba tiba berawan. Orang orang itu, sepertinya mulai memperhatikan kita."
"Apa hanya perasaan saya saja ya om, atau memang mereka sudah mulai menyadari keberadaan kita?"
Om Bandi mengamati orang prang yang sibuk mengungsi dari wabah yang melanda desa, dan ternyata Angga benar, sebagian dari mereka berhenti berlari.
Beberapa orang pria, wanita dan anak anak, tampak melihat ke arah mereka berempat dengan tatapan sinis. Seolah olah warga desa itu menyimpan amarah di wajah mereka.
"Kamu benar Ngga, ini sudah tidak beres. Kita harus segera mencari sosok sang penasehat, atau Darsih. Jika tidak, kita akan terperangkap selamanya disini."
Om Bandi buru buru mengajak rombongan kecilnya segera pergi meninggalkan desa. Sementara jumlah warga yang menatap ke arah mereka semakin banyak saja.
Mata mata tajam itu menatap dengan kebencian. Satu demi satu dari mereka berjalan cepat menuju Angga dan teman temannya. Herly yang panik merapat di belakang punggung Bagus. Lalu om Bandi memutuskan agar mereka lari lebih dulu menghindari kejaran warga yang beringas.
"Kalian pergi duluan, saya akan membendung mereka. Gus, kamu cari energi penasehat itu, bawa mereka kesana."
"Urusan orang orang desa ini, biar saya tangani sendiri.
"Baik om..."
"Ayo teman teman, ikuti denganku. Kita cari wanita berkebaya hitam di dekat hutan."
"Firasatku... dia dan kakek itu ada di sekitar hutan."
Angga dan Herly segera mengikuti arahan Bagus. Sementara om Bandi menebang sebatang pohon besar untuk menghalangi warga desa.
"Ini tidak akan berhasil, lebih baik aku segera menyusul anak anak, sebelum terjadi sesuatu terhadap mereka."
Om Bandi berlari ke luar desa menyusul Bagus yang membawa teman temannya ke dalam hutan.
"Syukurlah aku masih bisa bertemu mereka disini."
"Bagus, Angga, Herly, berhenti, kita akan pergi ke arah timur...!"
Suara teriakan Om Bandi kontan saja membuat Bagus berhenti. Dia menoleh untuk memastikan siapa yang memanggil nama mereka.
"Syukurlah kita ketemu disini. Tapi ngomong ngomong om, kenapa kita tidak ke barat, aura nenek itu, terasa kuat disana."
Bagus menanyakan alasan om Bandi melarang mereka menuju ke arah barat, sementara dia yakin, aura nenek kebaya hitam terasa lebih pekat di barat.
"Ikut saja, rumah wanita itu ada di timur. Kita tidak bisa langsung ke Barat."
Mereka tak saling bicara lagi, om Bandi memandu Bagus dan teman teman ke timur. Dan ucapan om Bandi terbukti benar, sebuah gubuk reot dengan asap mengepul di belakang menandakan rumah kecil itu di huni seseorang.
"Kenapa kalian kemari, seharusnya raden tidak menyebrang kemari. Disini tempat jiwa jiwa yang tidak sempurna. Ruh ruh yang tertahan, karena urusan yang belum tuntas."
__ADS_1
Suara dukun penasehat raden Aryo tiba tiba terdengar, menghentikan langkah mereka. Wanita tua itu ternyata telah berdiri di belakang, sambil memegang nampan sajen dengan asap dupa yang harum menyengat.
"Maafkan kami Nyai, anak ini tidak sengaja menyeret kami datang kemari. Darah Wanita itu masih tersisa di besi kerangkeng."
Herly yang tahu detil peristiwa kala itu, menebalkan rahangnya. Dia marah, menyalahkan penasehat adipati Aryo atas semua yang telah terjadi.
"Kau... kau... yang menyebabkan kutukan ini terjadi. Perempuan Sial, dukun cilaka...!"
"Jaga ucapanmu Her, jangan tidak sopan kepada sepuh. Kalau tidak ada beliau, kita sudah mati dari tadi...!"
"Bocah semberono...!"
Om Bandi menegur keras ucapan Herly yang kasar pada penasehat eyang buyutnya, namun wanita tua renta itu tidak menunjukkan wajah kesal, ekspresinya tetap terlihat datar, meski Herly telah kehilangan rasa kebijaksanaannya.
"Tidak apa apa raden. Dia juga junjunganku, dia wajib tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Dengarkan aku Ngger, ini tidak serta merta karena dendam raden Aryo."
"Leluhurmu adalah pemimpin bijak, dia tidak mau di dikte. Tidak ingin jerih payah para kaula di ambil paksa atas nama upeti, hanya demi kepentingan pemerintah kolonial. Rakyat mati kelaparan, sementara para penjilat hidup makmur dengan gelimang harta hasil memeras keringat dan darah rakyat jelata.
"Oleh sebab itu kanjeng adipati terus melawan."
"Perlawanan yang terjadi dimana mana, menyebabkan pemerintah kolonial rugi banyak, karena harus meredam pemberontakan para bangsawan.
"Mereka memanfaatkan para raja kecil, dan penjilat penjilat itu untuk menekan kami, sampai kanjeng Adipati mangkat."
"Serangan fisik sudah pernah di lakukan, tapi mereka tetap tidak bisa menembus pertahan senopati kami, karena itulah santet di kirim. Bukan hanya kepada kanjeng adipati Rekso, tapi semua warga keraton."
"Sampai saat ibunda beliau terkena santet itu, kanjeng adipati Aryo sadar bahwa begundal begundal itu ingin menghapus trah Sastro Wardoyo."
"Maka maklumat pertama sang adipati adalah membunuh para dukun santet, dan menangkap orang orang yang bertanggung jawab atas tewasnya ramanda beliau."
"Tapi serangan tidak berhenti, balas dendam keturunan penjilat penjilat itu semakin berutal, Raden Aryo hanya ingin melindungi keraton dan rakyatnya. Karena itu beliau merasa harus kuat. Raden Aryo terpaksa harus mengambil jalan sesat hanya untuk menangkal serangan yang datang."
"Aku ingat betul ucapan adipati muda itu."
"Apapun caranya, aku tidak boleh dikalahkan, Aku harus kuat untuk keluarga ini nyai, apapun resiko yang harus aku tanggung, trah Sastro Wardoyo harus terjaga, dan rakyatku tidak boleh menderita."
"Itulah titah kanjeng adipati yang kami patuhi. Sampai kami harus melakukan semua. Kami orang yang menyarankan ritual kepada raden Aryo. Sebuah ritual yang aku dan suami juga menyesalinya."
"Sekarang kami sedang menebus semua itu. Darsih adalah sebuah kesalahan, biar kami bantu raden tuntaskan masalah ini."
"Aku akan mengawal raden sampai ritualnya selesai. Kami sudah siap menahan Darsih, dan iblis yang menunggangi dendam wanita itu."
"Sisi baik Darsih ada di barat, aku yang menjaganya agar tetap murni. Dia menunggu jalan terang untuk sampai ke nirwana, sama dengan kami semua yang ada disini."
"Raden adalah kunci, jalan kami menempuh kebajikan. Itu satu satunya cara bagi kami menuju cahaya."
__ADS_1
Mendengarnya Herly jadi luruh, walaupun tetap tidak setuju dengan keputusan buyutnya, tapi Herly jadi maklum dengan keadaan.
Pemuda itu lalu terdiam, berusaha untuk memahami, dan berhenti menghakimi leluhurnya. Semua sudah terjadi batinnya. Herly janji pada diri sendiri, akan membawa Darsih kembali kepada wujud sejati.
"Ikuti aku, kita akan kembali alam kalian."
Wanita berkebaya serba hitam itu mengajak mereka menuju ke barat, tempat yang tadi akan di tuju Bagus sebelum om Bandi mencegahnya.
"Kenapa kita justru harus pergi ke barat nyai?"
Angga merasa bingung, sebab tadi omnya melarang mereka menuju ke arah barat.
"Portal antar dimensi ada di rumah Darsih. Tempat dimana segala sumber dendam bermula."
Nyai berkebaya hitam menjawab pertanyaan Angga sekenanya. Dan meski tempat itu jauh, mereka tidak sedikitpun merasa lelah. Waktu seakan berhenti, langit juga masih sama, tetap berawan seperti di awal saat mereka melarikan diri dari warga desa yang mengamuk.
"Apa ini desa tempat tinggal Darsih nyai?"
"Tidak terlihat ada aura hitam pekat disini, semua tampak normal saja, sejuk, seperti tidak ada pengaruh iblis di desa itu."
Bagus bertanya karena penasaran. Dia tidak merasakan aura hitam, seperti layaknya arwah arwah yang diselimuti dendam.
Mata mereka lalu tertuju kepada sosok wanita cantik berkulit kuning langsat, halus dibalut kain kebaya, sedang duduk bersimpuh dengan sesaji untuk para dewata.
"Siapa wanita ayu itu Nyai, dia sangat cantik, penganut ajaran leluhur yang taat rupanya?"
Bagus kembali bertanya, karena wanita berkebaya hitam itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Dia Darsih di masa lalu, gadis baik, polos, murni sejatinya. Sumpahnya tidak murni keputusannya, ada satu campur tangan dari seseorang yang membuat sumpah serapah Darsih terlaksana."
"Pria itu adalah ayah kandung Darsih, amarahnya lebih besar dari dendam Darsih kepada Raden Aryo. Ritual yang ia lakukan, menegaskan sumpah Darsih, dan terjadilah kutuk itu pada trah kalian."
Sang penasehat menjelaskan secara gamblang semua yang telah terjadi pada masa lalu. Herly yang mendengarnya makin terenyuh. Tekatnya makin kuat, dia harus bisa menyempurnakan Darsih, agar wanita itu bisa melanjutkan hidup barunya menuju kelanggengan.
"Bersiaplah, tutup mata kalian, kita akan melewati gerbang pembatas antara orang mati dengan mereka yang hidup.
Semua orang lalu memejamkan matanya. raungan jiwa jiwa yang terperangkap memekakkan telinga.
Herly dan Angga yang tidak pernah mengalami rogoh sukmo menjadi sangat ketakutan.
Angga membuka sedikit matanya, pengelihatan yang terpampang di depan mata membuat jantungnya berdebar kencang. Jiwa jiwa yang terpenjara berebut ingin mengambil alih tubuhnya.
Wanita berkebaya hitam yang tadi dia lihat biasa saja, kini nampak sangat menyeramkan. Angga bahkan nyaris berteriak karena merasa takut melihat sosok wanita itu yang sebenarnya.
"Ini benar benar gila, apa semua ini, apa kami sebenarnya sudah mati?"
Angga bertanya kepada dirinya sendiri. Dia menyangsikan, kalau mereka masih hidup saat ini. Lalu Angga merasakan tubuhnya melayang di udara. Dia melihat tubuh mereka yang terbaring di depan kerangkeng.
__ADS_1
Setelahnya Angga dan teman teman kembali ke dalam raganya. Perlahan tubuh mereka bergerak, lalu masing masing membuka mata dan melupakan semua yang telah terjadi, kecuali om Bandi dan Herly.
Mereka berdua tetap mengingat rangkaian peristiwa yang terjadi. Keinginan Herly makin kuat. Usai ritual pelepasan kontrak, dia akan menyempurnakan Darsih demi menebus kesalahan Raden Aryo.