Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah


__ADS_3

"Cepat laksanakan ritualnya, kami akan menahan Darsih dan parasit yang menunggangi tubuh wanita itu."


"Kesempatan kalian cuma satu kali. Tidak akan datang lagi yang kedua raden!"


Sosok sang penasehat meminta agar Herly segera melakukan ritual untuk memutus perjanjian darah. Ia dan suaminya akan membendung kekuatan iblis yang merasuki arwah Darsih, semampu yang mereka bisa.


"Maafkan saya nyai, kalau boleh tahu dimana kerangka tubuh Darsih di semayamkan?"


"Dia dan putrinya adalah tumbal terakhir, tubuhnya masih berada di meja altar. Angger bisa melihat tubuh Darsih dan putrinya terbaring disana."


"Terima kasih nyai, semoga saja ritual ini akan berhasil membuat wanita itu lepas dari cengkraman iblis, sehingga dia bisa melanjutkan perjalanannya ke nirwana."


"Semoga raden, kami juga telah lama menunggu saat ini. Cepatlah, jangan menunda lagi. Aku khawatir mereka telah mencium niat baik kalian, aku pergi dulu."


Sosok sang penasehat kemudian menghilang menjadi asap putih yang mengepul di udara. Herly, Angga, bagus, dan om Bandi, lalu berlari ke ruang altar bersiap untuk ritual.


"Angga bantu Herly menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keperluan ritual. Om Bandi akan menahan serangan mahluk mahluk perewangan Darsih."


"Baik om, akan segera kami lakukan."


Herly lalu bergegas menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Sajen di tata rapi dalam nampan saji. Kemudian tulang belulang milik Darsih di keluarkan, lalu disatukan dengan yang lain. Setelah itu mereka mendoakannya, dan menggali lubang untuk makam yang layak.


Angga di bantu, Bagus, dan om Bandi menggali lubang sedalam hampir dua meter di luar goa. Setelah itu, mereka membungkus tulang Darsih dan bayinya menggunakan kain putih, lalu mengubur mereka dalam satu lubang, dan kembali berdoa untuk ketenangan jiwa mereka.


Tapi belum lagi selesai, tiba tiba saja angin berhembus kencang. Suara tangis menandai kehadiran Darsih di altar pemujaan.


"Kalian lanjutkan penguburannya, biar saya sendiri yang menahan mahluk ini."


Om Bandi menyuruh Angga dan teman teman untuk meneruskan menutup lubang makam kemudian mendoakan Darsih agar jasadnya sempurna.


Mahluk menyerupai laba laba muncul dari dinding dinding goa, merayap cepat menyergap mereka. Om Bandi mengucapkan mantra untuk membentengi diri.


"Anak anak, cepat masuk ke dalam, mulai ritualnya sekarang juga. Saya akan bentengi kalian."


Angga dan Herly masuk ke dalam, sementara Bagus membuat pagar gaib untuk ke dua temannya.


"Kalian jangan khawatirkan kami, lakukan ritualnya dengan tenang, sesuai urutan. Jangan ada yang salah atau terlewatkan."


Bagus mengingatkan Herly dan Angga agar mereka terus fokus. Sedangkan dirinya berdiri di garis pagar gaib melapisi om Bandi yang lebih dulu membangun dinding di depan lorong menuju altar.


"Kalian pikir pagarmu, akan dapat menghalangiku bocah ingusan?"


"Biar kau tahu, ilmu yang kamu kuasai itu, sihir yang aku ajarkan kepada nenek moyang kalian, jadi apa kamu berpikir aku tidak bisa menembusnya?"


"HAHAHAHAHA.....!!!"


"Kalian manusia memang naif, lihat apa yang dapat aku lakukan untuk menghancurkan benteng gaib ini."


Gerombolan laba laba raksasa lalu bergabung jadi satu membentuk tubuh Darsih yang menggendong sosok mahluk berkepala kambing di belakangnya. Mahluk itu lalu mengucapkan sesuatu yang tidak pernah di dengar oleh om Bandi sebelumnya.


"Bahasa apa yang dia gunakan, apa dia berbicara dalam bahasa mesir kuno?"


Om Bandi bingung, dia berusaha mencerna kata kata apa yang diucapkan oleh sosok mahluk yang menyerupai Darsih. Tapi kalimat mahluk itu benar benar asing di telinganya.


Tubuh om Bandi berkeringat, dia segera sadar mahluk apa yang jadi parasit di tubuh Darsih.


"Bruaakk....!!"

__ADS_1


Mahluk yang menempel di tubuh Darsih benar benar membuktikan ucapannya.


Tiba tiba saja pukulan keras, telak menghantam dada om Bandi. Pria itu terpelanting ke belakang hingga membuat Bagus terkejut dan panik.


Pemuda itu buru buru menangkap tubuh om Bandi yang terguling, lalu dengan sigap menyeretnya jauh ke belakang. Sementara sosok mahluk yang mengambil wujud Darsih menyeringai, menjilati darah om Bandi yang tercecer di lantai.


"Mahluk durjana penghuni kerak neraka, aku akan membunuhmu..!"


Bagus murka, dia melafal mantra lalu tato di tubuhnya muncul lagi dan, cambuk api tiba tiba telah ada dalam genggamannya.


"Hohoho... mainan dari pantai selatan rupanya. Baiklah mari kita coba seberapa kuat cemeti api itu bocah..."


Suara berat mahluk itu menggema, mengejek Bagus dengan sombong. Bagus yang geram dengan tingkah iblis itu, kemudian memasang kuda kuda lalu mengayunkan cambuk api ketubuh Darsih secara membabi buta.


Tapi seakan akan tak berpengaruh, sosok iblis yang menjadi parasit di tubuh Darsih malah tertawa keras. Dengan mudahnya ia menarik keras cambuk Bagus hingga pemuda itu terpental jauh dan pingsan.


"Bagus...!"


Om Bandi yang melihat bagus tak bergerak lagi, jadi panik. Meski kondisi lukanya belum sembuh benar, ia langsung melompat untuk melindungi Bagus.


"HAHAHAHA....!"


"Masih belum kapok juga rupanya, ayo nak datang ke nenek, keluarkan seluruh kemampuanmu...!"


"Iblis sombong, kau pikir kami akan menyerah dengan mudah?"


"Aku akan membunuhmu sekarang juga...!"


"HAHAHAHA...!"


"Lakukan bila kau mampu bocah, aku akan senang bermain sebentar dengan kalian."


Mereka bertempur bagai dua buah bola cahaya yang bersinar di langit langit goa. Sementara itu Herly dan Bagus hampir menyelesaikan ritual.


Tubuh Herly tiba tiba saja keluar dari jasad kasarnya. Dia dapat melihat tubuhnya sendiri yang duduk bersila di samping Angga yang sedang melantunkan doa, dan zikir.


Lalu suasana berubah, Herly telah berpindah alam. Karena gugup, spontan ia mengeluarkan keris pusaka, dan botol yang berisi darah kering milik raden Aryo.


"Tempat apa ini kenapa aku tidak melihat Angga, kemana dia?"


"Apa aku sudah berhasil memutus kontrak dengan angon angon eyang buyut?"


Herly terdiam, dia masih mencari tahu dimana ia sekarang. Lalu tiba tiba saja seorang pria kekar yang menunggangi harimau raksasa berada di depan Herly, menghadang langkahnya.


"Siapa kau manusia, berani sekali masuk ke dalam wilayah kekuasaan kami, apakah engkau sudah siap untuk mati dan jadi budak disini?"


"Namaku Herly keturunan terakhir dari raden Aryo Disastro Wardoyo. Tujuanku datang kemari untuk memutuskan perjanjian antara leluhurku dengan bangsa kalian."


"Aku membawa darah beliau untuk ditukarkan dengan kebebasan trah kami."


Herly melafalkan mantra yang di berikan mbah Anom. Mantra itu membuat penunggang harimau merasa panas dan terlihat marah.


"Hentikan mantra itu, apa kamu pikir aku akan melepaskan mereka?"


"Mereka yang datang sendiri kemari untuk menggadaikan sukmanya padaku. Aku hanya memberikan imbalan apa yang mereka mau."


"Jadi kamu jangan polos anak muda. Aku tidak akan melepaskan mereka, meskipun aku bisa, apa kau faham?"

__ADS_1


"Pulanglah ke alammu, jalani hidup dengan senang. Kami akan tetap ada melindungi kalian seauai janji."


"Sudah ku duga mahluk seperti kalian memang congkak, lagi ingkar. Tidak apa apa, aku akan memaksamu untuk mematuhi janji kalian."


Herly kemudian berdoa dalam hati, kemudian keris warisan adipati Rekso Sastro Wardoyo dihunusnya dengan yakin.


Dalam benaknya yang terpikir hanya menang, dan harus menang. Herly tidak siap untuk kalah, jadi dia mengumpulkan segala keberanian untuk melawan iblis yang selama ini membelenggu keluarga mereka.


"Jadi kamu tetap ingin menantang aku bocah?"


"Baiklah tidak apa apa, namun sebelum itu, aku akan berikan waktu untukmu berpikir ulang."


"Lihat pria kuat itu, dia yang cinta dengan rakyatnya kini hanya aku jadikan mandor disini, apa kamu tidak takut bila nanti kamu kalah?"


"Kamu pasti akan jadi budak disini seperti mereka, apa kamu sudah siap?"


Herly terkejut, tempat itu seketika berubah, dia melihat orang orang yang bekerja dengan leher dan kaki terikat rantai besi.


Mereka di paksa membelah batu untuk membangun istana. Mata Herly lalu tertuju pada sosok penunggang kuda hitam, dengan empat orang prajurit tanpa kepala di belakangnya.


Herly segera sadar, bahwa orang yang di sebut menjadi mandor oleh pria di depannya, adalah orang yang sama dengan yang menolong mereka sewaktu di pemakaman keluarga pagi tadi.


Penunggang kuda itu lalu berbalik, tiba tiba anggota tubuhnya menjadi lengkap dan Herly bisa mengenali wajah itu. Dia adalah raden Aryo leluhurnya yang telah membuat perjanjian darah dengan iblis.


Saat itu juga tangis Herly pecah, dia melihat raden Aryo menderita, tapi tetap tersenyum ikhlas kepadanya. Herly yang menggambarkan eyang buyutnya sebagai sosok seorang adipati yang bengis dan kejam, seketika merubah penilaiannya.


Dia tidak lagi melihat raden Aryo sebagai sosok pria yang telah tega menodai wanita demi kepentingan pribadi. Demi sebuah dendam yang menurut Herly adalah sebuah hal yang bodoh untuk dilakukan.


"Itu pria yang sangat ingin kamu kutuk atas beban dosa turunan yang kalian tanggung."


"Karena dia orang baik, aku memilih Aryo menjadi pengawas para budak disini."


"Jadi apa kau juga mau tinggal di alamku sama seperti, buyut, kakek, dan ayahmu?"


Herly di perlihatkan sosok seluruh keluarganya berada disana menjadi budak iblis, atas perjanjian darah yang telah dilakukan raden Aryo Sastro Wardoyo.


Hati herly hancur seketika, dia ingin sekali memeluk keluarganya, tapi tentara pria penunggang harimau itu mencegat dan melarang Herly datang mendekat.


"Pulanglah cucukku, biar dosa ini kami yang menanggungnya, kamu tidak boleh ada disini."


Untuk pertama kali Raden Aryo bisa bicara dengan lembut dengan cicit yang baru bisa dia lihat setelah seratus tahun lebih berlalu.


"Maafkan aku eyang kakung, tapi ini keputusanku sendiri, aku akan batalkan kontrak ini meskipun aku sendiri yang menjadi penukarnya."


Tiba tiba saja langit menjadi gelap, Herly tidak bisa lagi melihat orang orang yang ia cintai. Hanya ada si penunggang harimau di depannya, dan Herly memutuskan untuk melawan apapun resikonya.


"Aku sudah datang kemari untuk membebaskan ikatan perjanjian darah denganmu. Maka aku akan melawan."


"Menarik, aku suka sekali anak muda sepertimu. Sudah lama sejak terakhir aku memakan jiwa jiwa para satria. Memakanmu pasti akan menjadi hadiah terindah bagiku."


"Baiklah, aku janjikan kebebasan seluruh keluargamu, bila nanti kamu berhasil melukaiku."


"Ya bila berhasil melukai, itu sudah cukup. Lebih dari itu aku pastikan kamu tak akan mampu."


"HAHAHAHA...!"


"Tapi jika tidak, kamu, bahkan bayi di kandungan istrimu, akan aku lahap mentah mentah."

__ADS_1


Mendengarnya darah Herly mendidih. Dia tidak terima iblis itu, akan mengambil janin dari perut Yasmin.


__ADS_2