Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso


__ADS_3

Harly mengambil ancang ancang, dia berniat akan menyerang pria penunggang harimau lebih dulu. Sosok iblis yang mengambil wujud manusia tersebut, lantas tersenyum sinis, tampak sekali ia meremehkan Herly.


"Ayo anak muda, serang saja aku, tidak perlu ragu ragu. Aku akan menerima semua serangan pusakamu."


"Iblis congkak, jumawa, aku akan buktikan kalau kalian mahluk lemah, dari kalangan yang terbuang.


Herly kesal, dia terpancing ucapan iblis yang meremehkan dirinya. Dengan emosi yang meluap, Herly melompat menghuncamkan keris pusaka ke dada iblis itu.


Iblis yang masih mengambil wujud manusia, hanya tertawa kecil tanpa berkelit sedikitpun. Tubuhnya benar benar keras, Herly bahkan terpental jauh. Tangannya terasa kesemutan.


Dengan merintih, Herly berusaha bangkit, dan kembali melawan. Tapi tak perduli berapa kali dia sudah mencoba, hasilnya tetap sama. Herly tidak bisa menggores kulit iblis itu sedikitpun.


"Sial tubuh iblis itu keras sekali, keris ini sama sekali tidak dapat menggores kulitnya."


"Aku seakan sedang, menghantam dinding besi yang kokoh, sampai tangan ini terasa kesemutan."


"Bagaimana anak muda, apa kamu masih mau mencoba?"


"Mana sesumbarmu itu, aku tidak lagi mendengarnya. Ayo serang kembali, jangan biarkan aku jadi bosan."


Ejekan sang iblis membuat Herly, jadi geram. Dia memikirkan cara untuk mencari kelemahan iblis itu.


"Apa ada dari mantra mbah anom yang aku lupakan?"


"Aku harus mencoba lagi, dia pasti punya kelemahan di salah satu anggota badan."


"Mata... ya matanya, aku akan coba serang matanya. Semoga kali ini akan berhasil."


"Hey bocah, apa kamu sudah ingin menyerah?"


"Apa diammu itu artinya, ini giliran aku yang akan menghajarmu?"


"Ayo berikan pukulan terbaikmu, anak manusia...!"


"HAHAHAHA...."


Iblis terus memprovokasi Herly dengan kata kata yang mengejek untuk menjatuhkan mentalnya. Tapi Herly tidak perduli. Dia masih saja memperhatikan mata iblis itu agar serangannya kali ini lebih efektif.


"Seandainya Angga ada di sini, aku pasti bisa membuat serangan dari dua sisi."


"Tapi sudahlah, apa yang harus aku takutkan, semua yang hidup pasti akan mati. Mengapa aku tidak buat diriku berguna selagi masih hidup?"


"Baiklah iblis, kamu yang minta, maka terimalah luka pertamamu, dan sebaiknya tepati janji mu kali ini!"


Herly berlari dengan cepat, kerisnya ditujukan ke arah mata iblis. Dia melompat tepat ke wajah iblis yang masih diam di atas punggung harimau.


Sadar matanya menjadi sasaran iblis itu lalu melompat sembari menepis keris yang mengarah ke matanya.


"Bocah kurang ajar, beraninya kau menyerang wajah tampanku."


Iblis benar benar murka, wajahnya merah padam, tubuhnya membesar, dan tanduk juga taringnya tumbuh. Dia telah mengambil wujud aslinya yang menyeramkan.


Harly yang terjatuh, menyeka darah di bibirnya. Pemuda kurus itu lalu tersenyum puas, dia akhirnya tahu, kelemahan iblis.


"Dugaanku benar, kelemahan iblis itu terletak pada matanya, tinggal cari cara untuk menjangkau mata iblis itu."


"Seandainya aku memiliki bantuan, untuk menyerang matanya. Aku harus memprovikasi iblis itu agar ia murka dan menyerangku dengan membabi buta."


"HAHAHAHA...!"

__ADS_1


Bagaimana setan alas, apa kau sudah mulai takut sekarang?"


"Lihat wajah burukmu yang mulai memerah. Aku sampai geli sendiri melihatnya."


"Anak kurang ajar, sekarang aku tidak akan mengampuni, kau, ayah, kakek, dan buyutmu akan jadi budakku selamanya."


Usai mengucapkan segala sumpah serapahnya, tangan iblis itu menjadi panjang, mencekik leher Herly yang masih menyiapkan energinya.


"Awas Her...!!"


Suara pria yang amat di harapkan Herly terdengar. Dia sangat senang sampai tidak menyadari ancaman yang datang. Leher Herly di cekik dengan kuat, lalu di angkat ke atas dan di campakkan.


Beruntungnya Angga muncul di waktu yang tepat. Ia menangkap tubuh Herly, sebelum pemuda itu sampai mendarat di tanah.


"Kamu tidak apa apa Her. Maafkan aku terlambat datang kawan. Kamu bisa bangun kan?"


Suara Angga terdengar nyaman di telinga Herly, pemuda itu meraba lehernya yang tercekik mahluk besar berbulu di hadapan mereka.


"Aku lega kamu datang kemari Ngga. Iblis durjana itu hampir saja membuat aku putus asa, dia nyaris tanpa kelemahan."


"Tapi ngomong ngomong kenapa kamu bisa kemari Ngga, bukannya kamu ada di altar, sedang berdoa?"


"Entahlah Her, aku juga tidak tahu, tapi yang pasti, aku mendengar kamu memanggil namaku, lalu aku berada disini begitu saja. Pokoknya semua terjadi dengan cepat, tanpa kehendakku."


"Nanti saja kita bahas lagi masalah ini. Sekarang kita bereskan iblis itu, lalu kembali untuk menolong Bagus dan om Bandi."


Angga mengeluarkan keris pusaka miliknya, bersama sebuah cermin. Herly mengambil nafas sembari membisikkan sesuatu kepada Angga.


"Kita serang mata iblis itu pada hitungan ke tiga Ngga, kamu dari sisi kiri dan aku akan menyerang dari sisi kanan."


Mereka memasang kuda kuda. Angga membaca mantra dalam hati, lalu keris pusaka miliknya bersinar menyilaukan.


"Bocah ingusan, apa kau pikir aku tidak bisa mendengar bisikan kalian?"


"Aku bahkan bisa mendengar isi hati, dan pikiran kalian, bocah kurang ajar."


Iblis lalu muncul di belakang kedua pemuda itu. Dengan sekali sambar, dia menangkap tubuh Angga dan Herly, kemudian meremasnya, hingga keduanya nyaris tak dapat bernafas.


Tubuh keduanya di hempaskan ke tanah. Darah dari mulut herly jatuh menetes ke keris pusaka, bersama dengan darah kering raden Aryo yang tumpah menimpa keris.


Karena botol kecil yang berisi darah kering raden Aryo telah tumpah, Herly merasa usahanya telah gagal. Dia putus asa dan pasrah.


Namun keajaiban kemudiab terjadi. Keris pusaka leluhur Herly tiba tiba mengeluarkan cahaya keemasan, membentuk siluet seorang pria gagah yang menabrak tubuh Herly.


Tubuh pemuda itu kelojotan, mulutnya menganga lebar, lalu otot ototnya mengeras. Herly tampak seperti orang yang berbeda.


Angga melihat tubuh Herly bersinar, aura wibawa membuatnya takjub, tak tahu apa yang terjadi kepada temannya.


"Herly... Apa yang terjadi bro, ada apa dengan tubuhmu kawan?"


Herly diam, hanya melirik kepada Angga, lalu menghardiknya untuk mundur menjauh.


"Mundur ngger, dia bukan lawan tanding kalian. Biar eyang kakung yang menghadapi mahluk durhaka ini. Kamu mundur saja!"


Angga menuruti saja ucapan Herly, dia tahu, kalau temannya sedang di rasuki oleh sesuatu, yang dia tidak yakin mahluk apa yang berada dalam tubuh Herly.


"Ayo Kala Yuga mahluk angkara murka, aku adalah lawanmu. Kita akan bertarung. Aku yang akan membawamu kembali ke neraka."


"Kanjeng adipati Rekso, ini sudah bukan urusanmu, putramu telah menjanjikan keturunannya untuk menebus perlindungan kami pada keluarganya."

__ADS_1


"Jika.memang kamu melindungi seluruh keturunanku, lalu mengapa kaummu mengabulkan permintaan yang lain?"


"Bukankah ini hanya tipu muslihat dari bangsamu?"


"Rakyatku terkena sihir wabah yang kalian buat, mereka menderita. Lalu kau masih mau menagih tumbal?"


"Mahluk kurang ajar, akan ku buat kau menderita."


Begitu selesai dengan ucapannya adipati Rekso, langsung menyerang iblis membabi buta, tinjunya terus memburu tanpa ampun.


Angga melihat iblis itu kewalahan dengan sinar silau yang berasal dari tubuh Herly. Angga kemudian coba untuk memantulkan cahaya dari cermin ke mata iblis yang terus membesar.


"Berhasil, dia kesulitan untuk melihat gerakan Herly. Semoga saja mahluk itu dapat ditumbangkan."


Doa Angga segera terkabul sebuah pukulan keras menghantam wajah sang iblis. Mahluk itu tersungkur, dan kesempatan itu di gunakan Angga untuk menusuk matanya.


"Akghk... Kurang ajar kau Rekso, aku akan membalasnya. Pasti aku akan membalas penghinaan ini..!"


Adipati Rekso yang merasuki tubuh Herly tersenyum sinis, kemudian menghucamkan kerisnya ke dada sang iblis sembari menginjak tepat di wajahnya.


Iblis itu lalu berubah menjadi api dengan asap tebal yang terbang membumbung tinggi ke angkasa.


Para pengawal iblis langusung kocar kacir melarikan diri. Mereka mrmilih kabur begitu melihat junjungannya telah berhasil dikalahkan.


Tiga cahaya lalu terbang bersimpuh di kaki Herly. Perlahan ketiga cahaya itu membentuk siluet, lalu menjadi bentuk tubuh yang solid.


"Terima kasih romo, kedatangan romo kemari membebaskan kami dari belenggu."


"Sekarang kamu tahu Aryo, kenapa dulu romo tidak mengizinkan kamu untuk melakukan lelaku. Romo tidak mau kamu tersesat Ngger. Tirakatmu menyengsarakan semua orang."


"Kue oleh sakti mandra guno ngger, nanging iku kabeh kudu dibayar tuntas anak putumu."


"Ciloko kue... ciloko...!"


Adipati Rekso terlihat marah besar, sementara adipati Aryo hanya bisa tertunduk malu penuh penyesalan. Ucapan sang romo benar.


Ilmu yang ia dapatkan dengan bersekutu, pada akhirnya, harus di bayar kontan dengan nyawanya sampai ke anak cucu.


Adipati Aryo menyadari dirinya telah melakukakan kesalahan besar, dia menerima bila sang ayah menyebutnya mahluk cilaka.


Adipati Rekso mengelus kepala putra dan cucunya, kemudian mereka semua menghilang di depan wajah Angga.


Herly yang baru tersadar kemudian melihat sekelilingnya. Dia berusaha mengingat lagi peristiwa apa yang terlewatkan olehnya.


"Apa yang terjadi Ngga, kenapa tempat ini menjadi sunyi. Kemana perginya iblis sialan itu?"


"Kenapa hanya kita berdua di sini Ngga?"


Angga tidak langsung menjawab, dia memeluk tubuh Herly dengan haru membisikkan sesuatu yang membuat perasaan Herly menjadi campur aduk.


"Kamu berhasil Her, kita menang. Kontrak darah dengan iblis telah dibatalkan, keluargamu telah bebas dari perjanjian dengan ingon ingon."


"Rumahmu sudah bersih, kamu bisa kembali ke desa dengan aman setelah semua in selesai."


"Tapi bagaimana bisa Ngga, aku sendiri bahkan tidak ingat apa yang telah terjadi."


"Eyang buyutmu, Adipati Rekso Sastro Wardoyo. Ini semua berkat jasa beliau. Dia yang telah datang membebaskan semua. Buyutmu, kakek, ayah, dan yang lain, mereka sudah bisa meneruskan perjalanan menuju cahaya.


"Tidak ada lagi yang tersesat, mereka telah bebas. Tugas kita sekarang, tinggal menghentikan kutukan Darsih."

__ADS_1


__ADS_2