Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 25 Menapak Kenangan


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Yono terus melaju di jalan yang membelah hutan. Suara binatang riuh bersaut sautan. Semua orang di mobil itu nampak tegang. Kejadian di rumah keluarga Herly, membuat mereka cemas.


Jam dua siang mereka sampai di kota kecamatan. Yono memarkir mobilnya di halaman sebuah ruko. Angga dan kawan kawan buru buru turun dari mobil, bergegas masuk ke kantor pengacara.


"Permisi mbak, kami ingin bertemu dengan bapak pengacara, apakah beliau ada di tempat?"


Dengan tergesa gesa Angga masuk dan langung bertanya kepada seorang gadis yang duduk di meja depan, dekat pintu masuk. Gadis itu agak terkejut dengan kehadirannya, namun berusaha tenang, kemudian berdiri, lalu bertanya siapa empat orang pria yang sedang berdiri di hadapannya.


"Maaf sebelumnya, anda ini siapa, ada keperluan apa dengan bapak pengacara?"


"Saya Angga teman pak Herly, kami ingin bertemu pak pengacara untuk menanyakan hal penting terkait klien beliau."


Gadis itu agak bingung karena dia tak merasa, ada klien mereka yang bernama Herly, namun kemudian Yono muncul dari balik pintu kaca, dan gadis itu segera faham siapa Herly yang dimaksud Angga.


Baru saja akan mengangkat gagang telepon, tiba tiba seorang pria paruh baya muncul di anak tangga lantai dua. Pria dengan stelan jas itu lalu bertanya keperluan mereka.


"Kalian ini siapa, ada keperluan apa datang menemui saya, siang siang begini."


"Yono, kamu juga disini rupanya, ada apa Yon?"


Pria itu membatin dalam hati. Dia berpikir telah terjadi sesuatu di desa. Tanpa pikir panjang diapun lalu mengundang Tamu tamunya naik ke lantai dua.


"Mari kita bicara di ruangan saya. Ceritakan apa yang terjadi dengan keluarga Herly."


Pengacara, lalu mempersilahkan tamu tamunya duduk di ruang kerja, kemudian meminta mereka untuk menceritakan semua yang terjadi di desa, sampai mereka harus datang menemuinya dengan wajah tegang seperti sekarang.


Angga mengambil inisiatif bicara mewakili teman temannya. Dia mulai dengan apa yang dia alami, saat di kereta, sampai kejadian di rumah Herly yang mengerikan.


"Mungkin ini terdengar edan, halu atau apapun itu, tapi ini nyata saya alami saat perjalanan ke desa Herly pak."


"Awal kami datang ke kota ini, saya sudah mendapat firasat yang tidak menyenangkan, mulai penampakan nenek berkebaya hitam di kereta yang menyuruh kami pulang.


"Kemudian ada kakek misterius di rumah makan yang mengatakan hal serupa. Mereka meminta agar kami tidak melanjutkan perjalanan dan pulang. Tapi kami tetap datang."


"Lalu saat kami sudah tiba di desa. Rumah keluarga Herly juga tidak memberi kesan ramah. Rumah itu terlihat sangat angker, sehingga kami ingin segera pergi dari desa."


"Di malam hari, bukan hanya saya, tapi kami semua mendengar suara suara aneh dari lorong. Lalu saya melihat sesosok bayangan pria berjubah hitam, dengan tombak di tangan, berjalan naik menuju lantai tiga."


"Ini benar benar aneh, saya curiga ada sesuatu. Kemudian saya pun memutuskan untuk pergi ke kota Malang sambil mencari tahu apa yang terjadi."


"Saat saya mulai mengerti apa yang sedang terjadi dengan wasiat romo, sosok nenek berkebaya hitam, hadir dalam mimpi, memberikan visual aneh yang membuat saya jijik, dan takut."


"Puncaknya siang ini saat kami lihat keadaan rumah itu porak poranda, ada cipratan darah di mana mana, dan enam orang ditemukan tewas di rumah itu."


"Sempat terpikir, kalau semua ini ulah Herly. Karena saya melihat di mimpi tentang ritual kejam, walau masih belum jelas siapa orang yang melakukan ritual tersebut."


"Lalu kami tahu dari seorang warga desa, bukan Herly yang melakukan semua itu. Dia justru akan pergi ke desa leluhur untuk menyelesaikan masalah mengerikan ini."

__ADS_1


"Dari yang kami tahu, romo jelas jelas sudah melarang Herly untuk datang kesana, karenanya kami jadi khawatir terjadi sesuatu terhadap anak itu."


"Jadi sekarang kami datang kesini menemui anda. Tujuannya untuk minta tolong, mungkin anda masih punya arsip, atau apa saja yang bisa membawa kami ke desa itu."


Sang Pengacara terperanjat, dia tak menduga dampaknya sudah sejauh ini. Ekspresi tegang di wajah pengacara itu tidak dapat lagi ia sembunyikan.


"Sudah di mulai rupanya, kutukan ini benar benar tidak bisa di tolak."


Pengacara bergumam lirih, wajah pria paruh baya itu pucat pasi, dan berkeringat. Meskipun saat ini, mereka sedang berada di dalam ruangan dingin, namun Ac di ruangan itu, rasanya tidak cukup untuk meredakan kegelisahan di hatinya.


"Pak... Pak pengacara, ada apa pak, apa anda sedang sakit?"


"Tidak ada apa apa, saya baik baik saja. Tapi saran saya, kalian jangan pergi ke desa terkutuk itu. Biarkan Herly menempuh jalan takdirnya, kutukan wanita itu tidak terelakan lagi, jadi lebih baik kalian pulang saja, dan tidak usah ikut campur dalam masalah ini."


Mendengarnya Angga jadi geram, tangan pemuda itu mengepal, tapi om Bandi mencegahnya berbuat konyol.


"Tenang Ngga, biar om saja yang bicara, cukup sudah kamu cerita. Sekarang giliran om yang bicara."


Pengacara makin gelisah, om bandi tahu ada sesuatu yang berusaha di tutup tutupi oleh pengacara, kepada mereka.


"Saya tahu ini sulit bagi anda, tapi kemenakan saya sudah bertekad akan menyelamatkan temannya, jadi tolong kerja samanya, ceritakan apa yang anda ketahui tentang keluarga Herly?"


Pengacara itu tampak ragu untuk bicara. Tangannya gemetar, terus tak berhenti mengetuk ketuk meja. Ada rasa was was yang sedang ia sembenyikan, dan om Bandi tahu pengacara itu gelisah.


Setelah cukup lama ia berdiam diri, akhirnya pengacara itu mau juga bercerita tentang sejarah gelap di desa yang selalu tertutup dalam kabut itu.


"Ini cerita aib terah Sastro Wardoyo. Sejarah kelam, yang tidak ingin saya bahas lagi. Tapi sudahlah, toh pada akhirnya, ini akan terjadi."


"Dulu sekali, jauh sebelum kami dilahirkan. Di era kolonial tahun seribu sembilan ratus dua puluh satu. Kala itu para bangsawan di jawa terlibat dalam persaingan."


"Para raja kecil, patih, tumenggung, senopati, dan adipati pecahan dari wilayah kerajaan Majapahit, saling bersaing. Masing masing berebut kuasa, dan pengaruhnya."


"Ada banyak bangsawan yang jadi penjilat. Mereka bertahan untuk kelanggengan trah, dan kekuasaan, di tengah tengah situasi politik dan ekonomi yang kian buruk."


"Banyak para pejabat keraton yang memilih mengasingkan diri ke desa desa kecil sekitar lereng gunung. Namun sebagian bertahan, meski mereka terjepit di antara penguasa kolonial, dan para bangsawan yang menghianati bangsa sendiri."


"Kanjeng adipati Rekso Darmo Sastro Wardoyo, yang mencintai rakyatnya, telah berjuang menjaga trah, dan seluruh warga kadipaten dengan segala upaya."


"Wibawa beliau membuat lawannya jadi segan, berpikir seribu kali untuk membuat masalah secara langsung dengan beliau."


"Namun bukan berarti kadipaten kecil yang berbatasan dengan kota Lumajang itu aman dari siasat licik para penguasa."


"Kanjeng adipati Rekso menolak keras membayar upeti kepada kaum kolonial, dan ia mulai jadi musuh bersama pemerintah kolonial, dan para bangsawan."


"Mereka, para bangsawan penjilat, memang tidak pernah berani untuk berperang langsung terbuka. Tapi dengan siasat lain, menggunakan ilmu hitam untuk menyerang keluraga adipati."


"Tentu ini sangat meresahkan, tapi berkat kedigdayaan beliau, wilayah kami aman dari serbuan ilmu hitam yang dikirimkan musuh. Sampai di satu ketika, pertahanan adipati dapat dikalahkan. Beliau mangkat dan di gantikan putranya."

__ADS_1


"Raden Aryo Disastro Wardoyo yang terlanjur diselimuti oleh dendam kesumat, melakukan sebuah ritual sesat atas saran penasehatnya."


"Jadilah balas dendam itu sebuah bencana. Raden Aryo membunuh para adipati antek kolonial, dengan santet yang melahirkan dendam turunan."


"Raden tahu ini akan terjadi, maka ia melakukan perjanjian dengan iblis. Para abdi setia, ditugaskan menculik seorang gadis untuk satu ritual perjanjian darah."


"Dari sini riwayat ingon ingon yang menjaga trah Sastro Wardoyo di mulai. Sejak kesesatan yang beliau lakukan, para abdi harus mencari seorang gadis perawan yang akan melahirkan anak haram beliau, dan keduanya lalu dikorbankan untuk kepentingan tumbal."


"Kemudian ritual ini terus menerus dilaksanakan setiap tujuh tahun sekali, sampai akhirnya kutukan terjadi."


"Para abdi dalem kadipaten, salah menculik seorang gadis pemangku adat di desa sebrang."


"Namanya Darsih, penganut agama yang taat. seperti biasa gadis itu di bawa ke goa di gunung, untuk jadi tumbal persembahan iblis."


"Darsih gadis yang amat berbeda, dia adalah sosok wanita yang kuat, lidahnya bertuah. Rasa sakit yang ia alami, dan amarah yang terbalut dendam kesumat, membuatnya menjadi petaka bagi seluruh warga kadipaten."


"Saat itu umur saya baru masuk delapan tahun. Tiba tiba musibah terjadi. Wabah menyebar dengan cepat. Para petani gagal panen, dan hewan hewan ternak mereka mati mendadak, tanpa ada sebab yang pasti."


"Satu demi satu penduduk tewas, karena serangan wabah penyakit, dan kelaparan. Raden Aryo yang kala itu mulai dihantui rasa takut, mulai sakit sakitan."


"Beliau memerintahkan putranya raden Darmoyo Disastro Wardoyo, pergi jauh meninggalkan kadipaten. Dengan memboyong putra beliau, dan beberapa abdi dalem setianya."


"Mereka pergi melintasi hutan dan sungai, sampai akhirnya kami tiba di desa itu, dan beliau memutuskan untuk menetap."


"Ndoro Kakung membabat alas dan membangun desa. Saya dan Raden Ronggo Joyo Disastro Wardoyo tumbuh bersama semenjak desa itu berdiri."


"Ndoro Darmoyo, menyekolahkan saya ke kota, hingga menjadi orang seperti sekarang. Sedangkan raden Ronggo Joyo Disastro Wardoyo, romo dari mas Herly, beliau tidak diizinkan pergi meninggalkan desa dengan alasan kutukan wanita yang bernama Darsih."


"Saya dan warga desa yang menjadi jembatan bagi beliau. Para kolega bisnis Raden Ronggo, bertemu dan mengenal raden Ronggo melalui kami."


"Karena itu saya menjadi pengacara keluarga beliau. Meskipun tinggal dan membuka praktek pengacara di kota kecamatan ini tidak membuat karier saya bersinar, namun demi balas budi saya rela tetap disini."


"Lagi pula, Ayah mas Herly telah membayar saya lebih dari yang pantas diterima pengacara desa."


Om Bandi menghela nafas dalam dalam, dia tahu sejak awal masalah ini tidak akan mudah. Tapi walau bagaimana, mereka sudah berniat pergi membantu Herly.


"Saya tahu ini berbahaya pak, tapi kalau boleh kami minta tolong, mungkin anda masih punya salinan peta menuju desa itu?"


Pengacara itu menunduk ragu, dia berat untuk memberikan peta yang di minta om Bandi, tapi ia tak punya pilihan lain, selain memberikan peta terakhir yang di simpannya.


"Sebenarnya saya enggan memberi peta ini kepada kalian, tapi karena kalian memaksa, maka sudahlah."


"Ingat saya tidak pernah memberi saran agar kalian masuk ke desa itu. Mulai sekarang apapun yang akan terjadi, sudah bukan jadi tanggung jawab saya."


Dengan berat hati pengacara itu memerikan peta terakhir yang dia simpan. Om Bandi menjabat tangan pengacara, kemudian mereka pergi dari kantor tersebut.


"Semoga kalian berhasil membawa Herly pulang dengan selamat."

__ADS_1


Pengacara keluarga Herly hanya bisa melihat rombongan Angga yang pergi meninggalkan halaman kantornya melalui kaca jendela.


Dalam hati pria paruh baya itu, ia berharap semoga mereka pulang dengan selamat.


__ADS_2