Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 33 Petunjuk Kakak


__ADS_3

Dalam kebingungan mereka, Herly jadi prustrasi, dia tak tahu harus pergi kemana. Mereka hanya jalan berputar putar hingga matahari mulai redup.


Sementara rombongan Angga sudah sampai di rumah leluhur Herly, karena senang telah berada di tengah perkampungan, Ryo dan Jaka segera naik ke rumah Joglo yang terlihat paling besar.


Namun om Bandi segera melarang. Dengan alasan tidak sopan masuk ke rumah orang tanpa izin.


"Kalian berdua jaga sikap, jangan berbuat tidak sopan di rumah orang, kita sedang bertamu disini, dan kalian tidak sendiri."


Perkataan om Bandi membuat Angga jadi waspada, mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka. Dia tak melihat ada sesuatu yang ganjil di sekitar rumah itu.


"Hanya ada kita berempat disini om, saya tidak melihat ada orang lain, rumah itu juga rapi dan bersih, kenapa tidak istirahat sejenak."


"Saya rasa penghuninya ada di dalam. Bagaimana kalau kita naik, bertamu. Barangkali pemilik rumah pernah melihat Bagus dan Herly."


"Kamu sungguh ingin tahu wajah desa ini yang sesungguhnya Ngga?"


"Memangnya apa yang aneh dari desa ini om?"


Angga tidak mengerti apa yang di ucapkan om Bandi, dia melihat desa itu asri, indah menentramkan hati. Tidak ada hal yang membuat mereka harus khawatir. Meskipun jarak antara rumah berjauhan, namun terlihat normal saja.


Mereka anak anak bermain, hewan ternak di kandang, ibu ibu menyapu, pria memikul padi, semuanya tidak ada yang aneh bagi Angga kecuali kejadian saat pertama mereka masuk ke desa.


Hujan darah dan penunggang kuda hitam tanpa kepala, adalah kejadian di luar nalar yang tidak bisa Angga lupakan.


"Apa kamu siap melihat kenyataan desa yang sebenarnya?"


Om Bandi menutup mata Angga beberapa saat, sembari membaca doa dalam hati. Setelahnya, Angga di minta untuk membuka mata perlahan agar ia tak terlalu kaget dengan fakta yang akan dilihatnya.


"Kita dimana om, kenapa desa itu menghilang, kabut apa ini, saya tak bisa melihat apa apa kecuali asap tipis."


"Konsentrasi Ngga gunakan seluruh indramu, dan kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Angga memejamkan mata kembali, lalu membukanya perlahan. Apa yang tersaji di depan mata sangat miris, dan mengerikan.


Rumah rumah tua nyaris roboh, tulang belulang manusia, dan hewan ternak, nyaris ada di setiap tempat. Bergelimpangan tanpa ada orang yang mengurusnya.


Desa yang dulunya sebuah kota kadipaten, hilang dalam waktu sepekan semua tewas, karena wabah.


"Bagaimana kamu masih mau bilang ini desa yang indah?"


"Sekarang coba lihat rumah yang didatangi kedua temanmu itu, apa itu rumah megah sang adipati?"


Angga melihat rumah yang sempat di kunjungi oleh Herly dan Bagus. Rumah itu berdebu, di tumbuhi akar rambat hingga ke atap.


"Kamu sudah tahu kenyataannya sekarang. Itu sebabnya om tidak mengizinkan mereka naik ke atas teras rumah itu."

__ADS_1


"Sekarang lebih baik kita susul saja kedua temanmu, om takut terjadi sesuatu pada mereka."


"Hey... Kalian berdua, cepat turun, kita lanjutkan, mengejar Herly dan Bagus!"


Ryo dan Jaka melangkah turun dengan malas, mereka memang belum makan sejak pagi. Maksud mereka ke rumah joglo itu ingin istirahat sejenak, sembari mengisi perut mereka.


"Kita semua belum majan om, apa tidak sebaiknya istirahat di rumah itu, sambil makan, nanti baru kita lanjutkan menyusul Herly."


Jaka menggerutu protes, karena rasa lapar ia enggan untuk berjalan lagi. Namun Ryo menyikut lengan Jaka, agar dia tidak menyanggah perintah om Bandi.


"Kemari kalian, setelah melihat ini, saya yakin kamu berdua, tidak akan ingin tinggal lebih lama disini."


Seperti kepada Angga, om Bandi juga melakukan hal yang sama pada teman teman keponakannya. Mereka diminta menutup mata dengan konsentrasi penuh, dan membukanya perlahan.


Reaksi mereka sama dengan Angga, terkejut dan ngeri campur aduk jadi satu. Jaka bahkan nyaris buang air, karena pengalaman yang baru pertama kali mereka rasakan.


"Saya sengaja membuka mata batin kalian, agar peka dengan apa yang kalian lihat, dan rasakan. Pegang belati ini, dan ikuti doa yang akan saya ajarkan."


"Sekarang kita berada diantara dua dunia. Disini kutukan itu bermula. Jadi kalian srmua mesti bisa jaga diri sendiri, banyak berdoa dan jangan tampakkan rasa takutmu kepada mereka."


Om Bandi kemudian mengajarkan beberapa amalan kepada Angga dan teman temannya. Sementara di suatu tempat banyak mata yang sedang memperhatikan mereka.


"Kita jalan lagi sekarang, nanti di tempat yang cukup aman, baru makan sama sama."


Angga membagikan sebatang coklat kepada setiap orang. Meski rasa laparnya mendadak hilang, tapi masing masing orang terpaksa mengunyah coklat agar tak sampai kehabisan energi.


"Ini hanya perasaan, atau memang ada yang sedang membuntuti kita om?"


"Kita sedang diikuti sosok wanita Ngga, tapi auranya putih, sepertinya dia yang menghalau mereka."


"Aura ini aura yang sama dengan penunggang kuda tanpa kepala. Menurut om Bandi, mereka cuma ingin menjaga kita. Karena kalau tidak, sudah sejak tadi mahluk mahluk kegelapan itu menyergap dan memburu kita."


Tenggorokan Angga tercekat, dia mulai tahu rasanya menjadi orang seperti Bagus dan Om Bandi. Kini mereka berjalan lebih waspada.


Angga, Ryo, dan Jaka tidak bisa lagi berjalan santai. Indra mereka saat ini sangat sensitif. Mereka bertiga kini dapat melihat, mendengar, dan merasakan apa yang tidak bisa dirasakan oleh orang awam.


"Ada mobil di parit, itu pasti mobil yang dikendarai Herly, jika kita bisa mengeluarkan ban mobil dari parit maka kita bisa menyusul mereka lebih cepat."


Ryo bergegas memeriksa mobil. Dia melihat kunci mobil masih tergantung di tempatnya. Pemuda tambun itu segera meminta rekan rekannya untuk membantu.


"Angga kendalikan kemudi, kami akan mendorong mobil agar keluar dari lubang parit."


Dengan segala usaha, mereka bisa mengeluarkan mobil dari parit, dan melanjutkan perjalanan hingga ke batas desa.


"Disana pintu rimba, kita akan jalan kaki mulai di depan pintu rimba, semoga kita bertemu mereka di hutan."

__ADS_1


Angga memarkirkan mobilnya di depan pintu makam. Aroma busuk, mayat dan wangi melati tercium bersamaan. Om Bandi meminta mereka untuk berhenti sejenak.


"Tunggu dulu aura disini rasanya lebih pekat, saya harus membuat persiapan untuk melindungi kita semua."


"Dari sini jaga diri masing masing, jangan lengah dan banyak berdoa. Semoga Tuhan melindungi kita semua."


Om Bandi memejamkan matanya, sementara Angga dan kawan kawan membaca doa dalam hati. Setelah beberapa saat mereka melanjutkan pejalanan melewati jalan setapak yang membelah pemakaman tua.


"Semoga kalian tenang disana, kami hanya ingin lewat dan menolong anak keturunan kalian."


Om Bandi bergumam seorang diri, dia melihat leluhur Herly dalam keadaan yang memilukan, leher, tanangan dibelenggu rantai dan tubuh mereka berdarah darah.


Tiba tiba saja Angga melihat sosok anak remaja belasan tahun di dekat pohon menununjuk ke arah suatu tempat.


"Ada anak kecil om, dia mirip sekali dengan Herly, anak itu menunjuk jalur di luar peta."


Angga berbisik kepada om Bandi, sementara Ryo dan Jaka merapat di belakang mereka. Aroma busuk kian tercium, anak remaja itu terus melayang menuju satu tempat.


"Sebenarnya dia mau bawa kita kemana, hutan ini makin rapat dan gelap."


Ryo mulai merasa bulu kuduknya meremang, dengan cepat dia mengeluarkan belati suara rintihan tangis wanita terdengar sangat dekat. Jaka yang paling penakut, memeluk lengan Ryo seolah tak ingin berpisah.


Mereka mulai menemukan mayat pengantar jenazah romo di tengah hutan. Tapi om Bandi tetap meminta mereka mengikuti jalur yang di tunjuk anak remaja itu.


Sampai pada satu titik mereka melihat dua orang yang hanya berputar putar di satu titik.


"Herly... Her..., disini bro kami ada disini...!"


Kedua orang itu segera merespon, mereka lari menghambur kearah Angga dan teman teman. Herly memeluk Angga erat erat. Mereka senang akhirnya bertemu manusia di hutan.


"Syukurlah kalian datang, kalau tidak mungkin kami selesai disini."


Herly terus memeluk Angga, lalu melihat sosok di belakangnya. Herly buru buru melepas pelukan dari tubuh Angga dan berjalan menuju sosok anak remaja yang makin lama memudar seperti hologram.


"Mas... mas Hermanto... Ini Herly mas, adikmu...!"


Herly ingin sekali meraih dan memeluk kakaknya mamun dia seolah tak mampu menggapainya. Anak remaja itu tersenyum, meneteskan air mata darah dari kedua bola matanya.


Dia menunjuk ke dataran tinggi di hutan itu. Lalu menghilang tanpa kata. Herly duduk bersimpuh di tanah. Rasa rindu membuatnya bersedih.


"Sudahlah Her, ikhlaskan kakak mu. Sekarang kita harus cepat pergi, waktumu tidak banyak. Jika di hitung waktu memberi tumbal lagi. Itu artinya sudah tinggal beberapa hari."


Angga memaksa Herly untuk bangkit, berdiri. Pemuda kurus itu menyeka air matanya dan mereka melanjutkan perjalanan.


Semakin mendekat ke sore hari, suasana semakin tidak mencekam suara suara hewan dan desiran angin tak pelak menciutkan nyali.

__ADS_1


Angga dan kawan menyusuri jalur menanjak yang di tunjuk kakak Herly, mereka optimis akan tiba di goa dan menyelesaikan ritual sebelum tengah malam.


__ADS_2