Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 29 Rumah Joglo


__ADS_3

Herly dan Bagus tiba di halaman sebuah rumah kayu yang paling besar, mereka turun untuk mencari tahu apakah, rumah itu benar milik keluarga Herly.


"Sepi sekali, bagaimana kita bisa memastikan rumah ini milik nenek moyangmu Her?"


Herly tidak menjawab, pemuda itu justru takjub, melihat bangunan kayu berukir, yang tampak masih sangat kokoh, tak lekang di telan zaman.


Dengan sigap Herly menurunkan tas ranselnya, dia mengambil satu buah album tua dari dalam tas, dan membuka lembar demi lembar di album foto itu.


"Benar, ini rumah eyang buyutku Gus. Ayo kita naik ke teras rumah Gus."


Dengan semangat Herly membawa barang barang bawaan mereka. Bagus masih berdiam diri, melihat bangunan elok nan kokoh di depan matanya dengan tatapan curiga.


"Jika benar bangunan tua ini milik nenek moyang Herly, siapa yang merawatnya?"


"Bukankah kakek dan ayah Herly telah meninggalkan desa ini sejak lama?"


"Jangan bingung ngger, rumah ini tanggung jawab kami. Silahkan naik ke atas, pintu tidak di kunci."


"Rumah itu selalu bersih, karena kami selalu merawatnya. Si mbah berdua tahu, keturunan kanjeng adipati, suatu hari nanti pasti bakal pulang, jadi kami selalu membuat rumah ini bersih dan rapi.


Bagus terkejut, tiba tiba saja ada seorang nenek tua bersama kakek kakek berdiri tepat dibelakangnya. Bulu kuduk Bagus meremang, leher pemuda itu terasa dingin.


Sepasang kakek nenek dengan busana serba hitam itu membuat jantungnya nyaris saja melompat keluar dari dadanya.


Dia mengamati sepasang kakek nenek di depannya dengan teliti. Tapi Bagus tidak bisa merasakan aura aura buruk pada keduanya.


Mereka berdua tampak biasa saja layaknya manusia uzur yang ramah menyambut tamunya. Bagus tidak punya bukti sedikitpun yang bisa ia jadikan alasan untuk mencurigai mereka.


"Ada apa den mas, apa nenek ini kelihatan aneh?"


"Oh bukan, bukan begitu, saya cuma kaget mbah, maklum saja si mbah berdua ini muncul tiba tiba menyapa di belakang saya."


"Jadi saya kaget, mohon maaf bila sikap saya terkesan tidak sopan dan menyinggung mbah berdua."


"Tidak apa apa cah Bagus, desa ini memang selalu berhasil membuat orang asing terkejut, bahkan takut datang lagi kemari."


Pria tua yang sejak tadi hanya diam, akhirnya membuka mulut. Namun Bagus merasakan ada nada sinis dalam ucapan sang kakek tua, yang baginya sangat misterius.


Tidak ingin larut dalam prasangka, Bagus kemudian menaiki anak tangga, dan saat menoleh lagi ke belakang, kedua pasangan tua itu telah menghilang.


"Kemana orang tua itu, cepat sekali perginya, apa orang zaman dulu memang bisa berjalan secepat angin?"


"Aku tidak boleh lengah disini, bisa saja mereka berdua adalah sosok iblis, atau jelmaan wanita bernama Darsih."


"Kamu kenapa Gus, ayo masuk ke dalam, pintunya tidak di kunci. Kita bisa istirahat dulu sebentar disini, nanti siang aku akan mencari goa tempat ritual perjanjian darah."

__ADS_1


"Semoga saja usahaku mendapat restu dari sang pencipta semesta."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan takjub dengan benda benda kuno yang ada di dalamnya. Untuk pertama kali Herly melihat wajah asli para leluhurnya.


Lukisan leluhur yang berjajar di dinding tampak begitu hidup. Herly menyentuh salah satu lukisan, lalu masuk ke kamar utama yang tepat berada di ruang tengah. Aroma wangi kembang melati langsung menyeruak begitu pintu di buka.


Bagus justru tidak berani pergi jauh dari ruang tamu. Perasaannya mengatakan, mereka tidak bisa tinggal lebih lama lagi di rumah itu.


"Her, sekarang sudah jam sepuluh, sebaiknya cari bukit tempat goa itu sebelum sore."


"Aku rasa, kita tidak bisa tinggal terlalu lama disini. Jangan terlena dengan nostalgia. Ingat kata mbah Anom, desa ini di kutuk."


"Iya aku juga tahu itu Gus, tapi kita mesti siapkan segala keperluan ritual lebih dulu, kalau tidak semua akan sia sia saja."


"Oke Her, aku bantu turunkan alat alat ritual, kamu siapkan sajennya. Kita betangkat siang ini juga."


Bagus berjalan ke ruang tamu, dia bermaksud akan menyiapkan alat yang diperlukan Herly untuk ritual.


Baru akan membuka pintu, dari jendela ruang tamu, ia melihat ada sesuatu di atas bak mobil mereka. Setelah diperhatikan lagi, ternyata dia nenek berkebaya hitam yang tadi menyapa Bagus di halaman.


"Mbah mau apakan ayam cemani itu?"


Suara Bagus membuat nenek tua berhenti melakukan aksinya, wanita itu mundur berlahan dan melompat dari atas bak mobil.


"Bakal ada hajatan gede to, Ngger, nek butuh si mbah, mengke tak atur ke."


Si nenek yang kepergok, mengatur alibi, ia bettanya apakah mereka akan menggelar sebuah hajatan. Dia bahkan menawarkan bantuan untuk mengaturkan hidangan.


"Nenek ini mencurigakan, sudah jelas, kembang, jajanan pasar, telur, dan dua ekor ayam cemani yang kami bawa itu adalah syarat ritual."


"Tapi dia malah mengira ini untuk hidangan. Apa dia tidak tahu tentang hal hal semacam ini?"


"Aku harus hati hati dengan orang orang ini, entah mengapa firasatku mrngatakan mereka berdus bukan orang baik."


Bagus bergegas menenteng wadah dua ekor ayam cemani yang masih hidup ke dalam rumah, lalu secara berangsur angsur, membawa alat ritual hingga tak ada lagi yang tertinggal.


Di dalam Herly terus berdoa, agar usahanya berhasil. Tiga benda utama yang menjadi syarat pokok di siapkan, sembari merapalkan mantra yang tertulis di selembar kulit kambing.


Sementara itu, Angga dan kawan kawan, telah sampai di gapura batu. Cuaca cerah di luar gapura, tampak berbeda dengan daerah di dalam area gapura.


"Kita sudah sampai di gapura desa Ngga, dari sini kamu mesti lebih waspada. Keris itu jangan sampai lepas dari tanganmu."


"Banyak tipuan di desa ini, dan ilusi sebesar ini hanya bisa dilakukan golongan iblis tua."


Mendengarnya Yono gemetar, anak desa itu tampak ketakutan, saat om Bandi meminta mereka hati hati. Di bangku belakang Ryo dan Jaka tak siap untuk masuk ke desa yang di kutuk Darsih.

__ADS_1


Penampakan awan mendung yang kontras dengan tempat mereka berhenti sekarang, membuat nyali mereka ciut. Yono bahkan terus terang mengatakan tidak mau pergi ke desa itu.


"Om, kalau boleh saya biar tunggu di luar sini, sama mas Ryo dan mas Jaka, panjenengan berdua saja yang masuk ke desa itu, kami akan tunggu disini."


"Ini kunci mobilnya mas Angga, saya biar buka tenda di sebrang saja."


Om Bandi tertawa melihat Yono yang tampak gemetar, pria itu lalu melirik ke kaca spion, dan melihat kedua teman Angga terlihat gelisah, namun takut untuk bicara.


"Kalian juga tidak ikut masuk ke desa?"


"Kalau iya, kami berdua saja yang masuk ke dalam, kalian pulang saja ke kota, biar saya dan Angga jalan kaki ke desa leluhur Herly."


Angga memberikan kunci mobil kepada Yono lalu membuka bagasi mobil dan mengambil barang milik mereka berdua.


"Kalian putar balik saja, biar aku dan om Bandi yang urus masalah Herly."


"Oh iya, hati hati dengan hutan yang kita lewati. Hutan itu berbahaya, ada mahluk yang bisa membuat kalian tersesat."


"Banyak banyak berdoa. Peta ini aku berikan untuk kalian, ikuti saja petunjuk peta itu sebagai panduan kalian. Jangan terlalu percaya pada apa yang kalian lihat, sebab bisa jadi itu jebakan setan agar kalian masuk dalam perangkap."


Selepas menyelesaikan ucapannya, Angga dan om Bandi berjalan kaki memasuki desa. Sementara Yono, Ryo, dan Jaka memilih putar balik.


"Ini salah Jak, harusnya kita ikut mereka, resiko yang kita hadapi sama, tidak ada jaminan untuk bisa selamat dari hutan ilusi itu."


"Lalu bagaimana Yo, jangan buat aku bingung friend, kalau kamu mau kembali, maka sekarang kita harus kembali kesana, sebelum terlalu jauh bro."


"Yon, sorry bro, saya minta tolong sekali ini, antarkan kami kembali, kita tidak bisa meninggalkan teman dalam bahaya. Ya... walaupun ada dan tidak adanya kami tak memberi efek kepada mereka, namun kami disana untuk membantu."


"Dasar orang orang plinplan, kalau mau mati sama sama, kenapa tidak dari saja putuskan, merepotkan saja."


Yono menggerutu, dengan nada suara rendah, nyaris tak terdengar. Dengan terpaksa pemuda desa itu putar balik, dan mengantarkan teman majikannya ke gapura batu.


Taka lama kemudian mereka sampai di tempat terakhir, saat mereka meninggalkan Angga dan om Bandi.


Ryo dan Jaka menurunkan barang pribadi mereka, kemudian memberi peta kepada Yono, mereka berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih kepada Yono, lalu melangkah masuk ke dalam desa yang telah di kutuk Darsih.


Yono tidak langsung pergi, pemuda desa itu, melihat Ryo dan Jaka yang berjalan kaki menyusul Angga. Tapi hal aneh mendadak saja terjadi. Yono melihat pemandangan depan matanya menjadi merah.


Dia buru buru turun untuk memberi peringatan kepada mereka, namun semuanya terlambat. Desa itu di selimuti kabut tipis berwarna merah yang membuat Yono tidak bisa lagi melewati gapura.


"Aku sudah berusaha ingatkan kalian, tapi kabut ini sepertinya menghalangi apapun masuk ke dalam."


"Maafkan saya mas Ryo, mas Jaka, mas Angga, dan om Bandi. Bukan tidak setia kawan, tapi saya anak laki satu satunya dalam keluarga. Semoga kalian semua selamat dan memaafkan sifat pengecut saya."


Dengan berat hati Yono memutar arah mobilnya. Dia melihat lagi ke arah kabut tipis berwarna merah, kemudian melajukan mobilnya, meski dengan penyesalan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2