
Jam empat sore saat Herly sadar, membuka matanya. Dia mencoba mengenali tempatnya berada, dan mengingat ingat peristiwa yang telah terjadi padanya.
"Kenapa aku disini, terang sekali, siapa yang menyalakan semua lampu di siang hari begini?"
Herly duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Dia melirik ke arah jendela dan melihat Bagus berdiri di depan jendela, dengan senyum ikhlas tersungging dibibirnya.
"Aku baru pertama kali melihat dia tersenyum ramah setulus ini, anak itu benar benar berubah dari yang pertama kali aku lihat."
"Apa yang terjadi Gus, kenapa aku bisa ada di sofa ini. Lampu lampu itu siapa yang menyalakan?"
"Kamu benar benar tidak ingat apa yang terjadi Her?"
"Sekarang sudah jam empat sore. Kamu pingsan di kamar romomu, hampir dua jam. Terakhir kali, kamu menyentuh kain putih yang lalu aku tahu, ternyata isinya adalah tulang dari seseorang."
"Bagaimana bisa romo menyimpan benda aneh seperti itu di kamarnya. Apa beliau juga tidak tahu isi kotak itu Her?"
Herly tidak menjawab, pemuda itu masih terlihat linglung. Dia masih merangkai moment, saat dirinya masuk ke dalam kamar romo, dan membuka lemari tua di pojok kamar.
Herly mengingat ingat kembali, apa yang telah di lakukanmya di kamar romo, sampai ia tidak sadarkan diri. Herly bahkan masih tidak yakin, kalau Bagus telah membopongnya turun ke ruang tengah di lantai satu.
"Aku tidak ingat detil semuanya Gus .Terakhir kali yang aku ingat, kita masuk ke kamar romo, lalu aku membuka kotak hitam tua berukir, dan aku menemukan benda benda milik leluhur kami. Kemudian aku menemukan benda aneh yang di sembunyikan di balik papan kayu, dalam kotak itu."
"Setelahnya badanku terasa sakit, seperti tersengat listrik tegangan tinggi, lalu semuanya jadi gelap, dan aku tidak ingat lagi Gus."
Herly mereka ulang ingatan dalam otaknya. Dia berusaha keras untuk mengumpulkan kepingan memori, sebelum ia pingsan. Bagus duduk di depan Herly berharap temannya itu akan mengingat apa yang telah terjadi.
"Setelah kamu tak sadarkan diri, apa yang kamu rasakan kemudian Her?"
"Kamu yakin tidak ingat apa apa setelah itu. Apa kamu tidak merasa ada sesuatu yang ganjil atau aneh, seperti kelojotan, ataupun merasa tubuhmu mengambang di udara?"
Herly terkejut mendengar ucapan Bagus. Dia bertanya tanya dalam hati, apakah mungkin dirinya dapat mengalami fenomena ganjil, seperti yang di ungkapkan Bagus?
Pemuda itu coba mengingat ingat lagi apa yang ia rasakan saat itu. Herly terus berusaha mengingat semua yang terjadi. Dan ia berhasil, Herly mendapatkan sedikit memori, saat dirinya terhempas jauh ke masa lalu.
"Oke... Aku ingat sekarang, entah ini benar nyata, atau cuma sekedar halusinasi, aku tidak tahu. Terserah pada penilaianmu saja Gus."
"Waktu aku menyetuh benda yang di bungkus kain putih, tubuhku jadi terasa kaku. Tiba tiba aku terbang ke masa lalu, dan melihat dua orang pria berpakaian ala kerajaan."
"Mereka sedang melakakukan satu ritual yang mengerikan. Ada sosok mahluk tinggi besar bertanduk yang mereka sembah sembah. Adapula wanita muda yang dilecehkan, dan kemudian di pasung dalam gua."
"Wanita itu berkali kali minta agar ia dapat di bebaskan. Tapi tidak ada seorangpun yang mau mendengar tangis iba wanita itu."
"Ndoro, tolong lepaskan saya, kaki ini sakit rasanya ndoro, kakang, tolong aku kakang."
__ADS_1
Suara rintihan wanita itu terngiang ngiang di telingaku. Aku melihat dia di kurung, dan diperlakukan sangat tidak manusiawi."
"Bahkan sampai wanita muda itu hamil tua. Bangsawan bengis dan pengikutnya, mereka dengan tega mengeluarkan bayi dari rahim si wanita malang secara paksa."
"Menurutku itu sangat sadis Gus. Sebelum tewas, karena kehabisan banyak darah, wanita itu sempat bersumpah. Dia akan menghabisi semua keturunan dari pria yang telah membuat dirinya menderita."
"Dan langit menjawab sumpahnya. Tiba tiba kilat menyambar, suara guntur bersaut sautan, awan hitam menyelumuti desa, lalu kematian ada dimana mana, aku ngeri Gus. Wanita itu mengutuk seluruh desa, lalu semuanya menjadi gelap."
Herly menuturkan pengalaman, saat ia berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Bagus lalu menduga, kalau tulang itu milik si wanita muda yang mungkin saja dia adalah Darsih, sosok wanita muda yang di ceritakan kakek bernama Anom.
"Jadi dia adalah Darsih, dan pria itu adalah kakek buyut Herly, yang jadi penyebab semua kutukan ini."
Bagus terdiam seribu bahasa, lalu langit berubah lebih cepat. Seakan akan malam datang lebih awal. Herly lantas berdiri, ia memeriksa langit, lalu melihat ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore, tapi langit sudah gelap. Seakan akan sudah tengah malam.
"Ada apa ini Gus, kenapa langit jadi hitam pekat, apa ini bertanda akan ada sesuatu yang bakal terjadi di rumah ini?"
Herly panik, dia bingung dengan apa yang terjadi. Sementara Bagus berjalan ke arah jendela mengintip, apakah orang orang yang ia lihat, masih disana mengawasi rumah Herly.
"Mereka masih disana, siapa orang orang ini sebenarnya. Jumlahnya total ada lima orang. Mereka teman, ataukah lawan, semoga saja orang orang itu berpihak kepada kami. Mulai detik ini, aku harus hati hati bisa saja mereka bermakud buruk kepada kami."
Seketika suasana jadi mencekam Herly tegang, tiba tiba aura dalam rumah itu menekan, terasa begitu panas menteror mereka. Guntur terdengar bersaut sautan.
Tak lama berselang, seluruh lampu di rumah Herly berkedip. Semua Benda pusaka milik romo bergetar. Suaranya sangat keras, hingga membuat gaduh seisi rumah.
"Diam disini Her, kita lebih aman di rumah, daripada lari keluar sana!"
"Tapi Gus kamu dengar suara suara gaduh itu kan?"
"Apa kamu yakin kita bakal aman, bila berada di dalam rumah ini?"
"Seharusnya kamu dengarkan kata pengacara romo, sebelum ambil keputusan ini. Sekarang mau tidak mau kita harus menghadapinya."
Bagus mengambil kantung hitam dari celananya, kemudian menabur garam mengelilingi tempat mereka berdiri. Setelahnya pemuda itu menyalakan banyak lilin lalu duduk bersila sembari melafalkan mantra mantra.
Angin berhembus makin kencang, semua barang berserakan di lantai, ada bayangan hitam pekat yang berusaha masuk, namun dihalangi oleh sosok bertanduk mirip kepala kambing.
Herly berdoa, matanya terpejam, dia pasrah bila harus mati di rumah itu. Sedangkan Bagus terus melafalkan mantra. Tiba tiba pintu ruang tamu terbuka paksa seperti di dobrak oleh seseorang.
"Keluar dari sini selagi sempat, lari ke barat, disana kalian akan aman raden!"
"Mbah Anom, apa semua ini, dan kenapa anda bisa ada disini mbah?"
Herly terkejut melihat mbah Anom, tiba tiba datang bersama lima orang muridnya. Dia penasaran dengan apa yang terjadi, tapi mbah Anom segera menghardiknya. Pria tua itu menyuruh Helry dan Bagus segera pergi meninggalkan rumah, selagi mereka punya kesempatan.
__ADS_1
Bagus menarik lengan Herly dan mengajaknya lari lewat pintu depan. Baru saja mereka berhasil sampai di teras, tiba tiba pintu tertutup dengan sendirinya.
Herly menoleh ke belakang, dan rumah itu telah menjadi gelap gulita. Dari dalam yang terdengar hanya suara pertarungan, dan pekik suara mbah Anom yang menyuruh muridnya untuk membuat formasi.
"Sudah Her, kita harus cepat cepat pergi meninggalkan rumah ini. Kali ini percayakan semuanya kepada mbah Anom."
"Kita harus selamat, kalau tidak usaha beliau akan sia sia!"
Dengan berat hati Herly terpaksa mengikuti perkataan Bagus, mereka berdua lari ke barat sesuai perintah mbah Anom.
Herly menghentikan langkahnya. Ia ragu meneruskan pelarian mereka. Jalan yang mereka lalui adalah jalur menuju hutan belantara, dan Herly takut mereka tidak bisa kembali.
"Ada apa lagi Her, ayo lari..., kita harus bergegas, kamu pasti tidak ingin mahluk mahluk itu datang menangkapmu kan?"
"Tapi Gus jalan yang kita lewati ini menuju hutan, bagaimana bila kita tersesat bro?"
"Sudahlah Her, jangan jadi pengecut begitu, percaya saja dengan mbah Anom, aku yakin orang tua itu tulus ingin membantu kita."
"Kamu ingat kata beliau, dia adalah keturunan abdi setia leluhurmu, dan kakekmu mempercayakan kalian kepada beliau."
"Artinya sejak awal, tugas mbah Anom menjaga keluargamu. Kalau kamu takut, harusnya dari awal kamu manut, tidak usah melanggar larangan romo her!"
Ucapan Bagus membuat Herly agak tersingung, tapi dia sadar, kalau apa yang diucapkan Bagus benar. Dia yang menyebabkan segala musibah ini. Herly yang menjadi sumber dari bencana yang menimpa desanya.
"Maafkan aku romo, tolong berikan tanda kepada kami, agar aku bisa memulihkan kedamaian di desa kita."
"Heh Herly... kamu masih mau diam disini, atau ikut aku ke hutan sana?"
Suara lantang bentakan Bagus mengejutkan Herly. Ia lalu kembali berlari mengikuti Bagus sampai ke tepi hutan.
"Ada ponduk disana Her, mungkin tempat aman yang dikatakan mbah Anom adalah pondok itu. Kita pergi ke pondok itu her!"
Herly pasrah, ia tak lagi berdebat dengan Bagus. Mereka masuk ke dalam pondok dan melihat barang barang klenik disana.
"Jadi selama ini beliau tinggal di tepi hutan ini. Kenapa tidak ada warga desa yang mengenal mbah Anom, padahal penduduk desa pasti sering cari kayu di tepi hutan?"
"Apa yang kamu pikirkan Her, aku rasa tempat ini cukup aman untuk berlindung, Ya.. walaupun agak bau, dan kotor, tapi pondok ini layak untuk istirahat sementara waktu."
"Aku akan bikin api, kamu duduk saja di balai itu. Kita akan makan seadanya malam ini, kebetulan saat menyalakan lampu di rumah mu, aku sempat mengambil beberapa buah buahan dan coklat dari dapur."
"Cukuplah ini mengganjal perut kita. Aku minta kamu jangan tidur, takutnya mahluk itu mengejarmu lewat mimpi buruk."
Bagus melempar sebatang coklat, dan sebuah apel kepada Herly. Malam itu mereka bertahan dalam pondok, dengan perut lapar, dan tetap terjaga.
__ADS_1
"Semua ini salahku, aku harus segera menuntaskan segalanya, sebelum masalah ini jadi tambah runyam."