Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 32 Tersesat


__ADS_3

Hujan telah berhenti, Herly dan Bagus mencari sepasang suami istri yang mereka temui saat kali pertama mereka sampai di rumah leluhur Herly.


"Rumahnya seram sekali Her, apa jangan jangan mereka berdua dukun ilmu hitam?"


"Ssst... jangan asal bicara Gus, nanti si mbah dengar, lalu mereka tersinggung bagaimana?"


"Sudahlah kamu tunggu di mobil, biar aku saja yang pamit kepada beliau berdua. Siapa tahu mereka punya info jalan pintas tercepat memuju goa."


Bagus tak menjawab, pemuda itu hanya menggaruk garuk kepalanya, lalu masuk ke mobil. Sedangkan Herly mengetuk rumah milik nenek yang mengaku diberikan tugas untuk merawat rumah peninggalan keluarga Herly.


"Tok... tok... tok... Mbah, mbah... Permisi mbah, ini saya Herly...!"


"Aneh apa mereka sedang pergi, tapi tadi hujan badai, apa mungkin mereka keluar rumah?"


"Ah... Sudahlah lebih baik aku pergi saja, lagipula ada peta, dan aku rasa gunung disini cuma ada satu itu."


Herly kembali ke mobil dan Bagus segera menghidupkan mesin mobil mereka. Herly duduk di samping Bagus sembari melihat peta dan mengarahkan temannya, menuju jalur pendakian.


Sepanjang jalan yang mereka lalui hanya sawah dan kebun. Cuma sesekali saja ada orang di pinggir jalan, yang menurut Herly tampak aneh dan mencurigakan.


Perawakan mereka hampir semua mirip, jalan menunduk mengenakan caping, dan tidak sedikitpun perduli dengan kehadiran mereka di jalan desa itu.


Semua itu bagi Herly tidak wajar. Sebab berdasarkan pengalaman pribadinya, penduduk desa biasa ramah kepada orang lain. Mereka akan menyapa, atau sekedar tersenyum untuk menunjukan sopan santun, tanda mereka saling menghargai.


Tapi kali ini kebiasaan ramah itu tidak ia temukan di desa leluhur. Karena penasaran, ia berniat akan menyapa seorang warga bila nanti mereka berpapasan kembali.


"Permisi pak numpang tanya, kalau mau ke gunung lewat mana?"


Benar saja, seorang pria memakai topi caping berhenti, dan melihat ke arah Herly dengan wajah datar. Dia tak mengatakan apa apa kecuali menunjuk lurus ke depan.


Herly tersenyum getir, lalu meminta Bagus melanjutkan perjalanan. Herly merasa heran, karena budaya desa itu sangat berbeda dari adat orang desa pada umumnya.


Iseng Herly melirik ke kaca spion, namun orang yang ia sapa sudah tidak ada lagi di jalan. Herly di buat bingung, dia melihat kesana kemari, tapi pria itu menghilang begitu saja bagai di telan bumi.


"Kamu kenapa Her, dari tadi seperti cacing kepanasan?"


"Kamu lihat orang yang kita sapa tadi Gus, kamu tahu kemana pria itu pergi?"


"Tidak, aku tidak lihat, mungkin saja dia menyebrang ke sawah, atau ada jalan pintas lain yang kita tidak ketahui?"


"Entahlah, siapa juga yang perduli. Biarkan saja Her, yang penting tugasmu selesai, lalu kita cepat cepat pulang, itu saja."


"Aku sudah muak dengan hal hal ganjil di desa ini, terlalu banyak misteri. Jadi cukuplah kita pada tujuan utama, tidak usah sibuk mengurusi teka teki desa leluhur kamu."


Baru saja Bagus menyelesaikan ucapannya, tiba tiba pria yang di bicarakan Herly berdiri tepat di depan mobil mereka, dan memaksa Bagus untuk banting setir.


"Awas pohon Gus...!!"


Mobil oleng, melenceng jauh, lalu menabrak pohon kecil, kemudian terperosok di parit. Bagus turun melihat keadaan mobil mereka dan mengumpat.


"Sial... Demit desa kurang ajar, gara gara orang itu kita jadi nyemplung ke parit Her!"


Herly diam tidak merespon. Tangan pria kurus itu gemetar. Dia sempat melihat wajah orang yang mereka tabrak. Dia adalah orang yang sama dengan orang yang disapanya tadi.

__ADS_1


Bagus menendang ban mobil. Dia kesal, karena orang ceroboh yang menyebabkan mereka celaka. Kini mereka harus jalan kaki, pikirnya.


Pemuda itu menurunkan barang barang bawaan mereka, tanpa sadar sedikitpun, kalau dia sudah menabrak seseorang.


"Hey... Her, kenapa diam saja, ayo turun kita terpaksa jalan kaki dari sini!"


"Gus kamu itu manusia model apa, benar benar lugu, atau memang sudah hilang akal?"


"Kamu tidak ingat kenapa mobil ini terperosok di parit?"


Bagus baru sadar, dia langsung menepuk dahinya, dan melihat ke belakang. Wajahnya seketika jadi pucat karena orang yang mereka tabrak tidak ada di jalan itu.


"Celaka dua belas, yang tadi itu apa Her, kenapa tidak ada orang disana, bahkan secuil darahpun juga tidak ada."


"Itu yang dari tadi ingin aku bilang ke kamu Gus, yang kita tabrak, dan orang yang kita sapa, mereka satu. Dia bukan manusia Gus."


Bagus duduk jongkok di samping mobil. Dia mengacak acak rambut, bingung mau melakukan apa. Jika yang dia tabrak benar mahluk tak kasat mata, maka dia yakin mereka sebenarnya sudah ditandai.


"Kacau... Kacau...!"


"Jadi sejak awal kita masuk desa ini, mereka telah menandai kita Her. Ini pertanda buruk, kita harus cepat sampai ke goa itu sekarang juga."


"Mulai dari sini kamu tidak boleh lengah Her, keluarkan keris yang di berikan mbah Anom sekarang!"


"Firasatku mulai tidak enak tentang kecelakaan ini."


Ucapan Bagus membuat Herly jadi semakin gugup, meski ia punya keris pusaka, tapi dia tidak tahu cara menggunakan benda bertuah warisan leluhurnya itu.


"Lalu apa saranmu Gus, apa yang akan kita lakukan sekarang?"


Dengan hati yang kacau mereka meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Herly mulai tidak percaya diri, dan Bagus lebih waspada.


"Di depan kita hutan Gus, artinya jalur pendakian di depan mata."


"Sebaiknya hati hati Her, lihat lagi petanya, aku cuma takut ini tipuan mata."


Mereka terus berjalan kaki sambil memperhatikan sekeliling. Tanpa sadar, mereka telah sampai di kompleks pemakaman tua, dan suasana seketika berubah menjadi lebih mencekam.


Deretan makam tua menuju pintu rimba membuat Herly tak berhenti membaca doa dalam hati. Suara rumpun bambu yang tersapu angin membuat tengkuk terasa dingin. Bulu kuduk meremang dan tiba tiba Herly berhenti tepat di depan satu makam baru.


Herly berlutut tangisnya pecah, di depan sebuah pusara. Dia melihat deretan makam disana yang semua memiliki nama Sastro Wardoyo.


"Gus, ini makam romoku, ibu, kakak, kakek, dan para leluhurku. Akhirnya aku sampai disini Gus."


"Kamu tahu teman, sudah sejak lama sekali, aku kangen sama mereka, akhirnya aku bisa sampai disini menemui mereka."


"Iya Her, aku tahu, kamu doakan saja mereka, lalu pergi dari sini. Tempat ini tidak aman bro."


"Perasaanku tidak enak tentang tempat ini, ayo Her cepat pergi dari sini bro...!"


Bagus kemudian melihat mobil ambulan, dan dua mini bus yang terparkir tidak jauh dari lokasi mereka. Jantungnya berdegub kencang, firasatnya akan terjadi sesuatu pada mereka.


"Ayo lari Her, kita pergi dari sini bro. Cepat lari...!"

__ADS_1


Herly yang masih rindu dengan keluarganya, enggan beranjak, sementara Bagus melihat enam jasad tidak utuh tergantung di pohon dan rumpun bambu.


Karena panik, dia segera menarik kerah baju Herly dan memaksanya meninggalkan area pemakaman. Lalu yang ditakutkan Bagus terjadi.


Suara tawa melengking di angkasa, Herly segera sadar tentang kutukan Darsih dan mereka lari tunggang langgang tak tentu arah. Wajah mereka pucat, keringat bercucuran, jantungnya terasa hendak keluar dari tempatnya.


"Gus tunggu aku...!"


Bagus menoleh, dan mendapati Herly yang jatuh karena tersandung oleh sesuatu. Ketika ia mendekat, ternyata sesuatu itu adalah mayat salah seorang pengantar jenazah romo.


Herly ingat betul pakaian apa yang mereka kenakan saat mengantar jenazah romo. Tak pelak hal itu membuat mereka panik dan terus berlari, sampai tak lagi perduli dengan peta yang seharusnya jadi pemandu mereka.


Pikiran Herly blank, ia bahkan tak ingat tentang mantra yang sudah di hafalkan untuk mencegah Darsih mendekati mereka.


"Kembalikan milikku...!"


Suara itu terdengar ditelinga Herly, pemuda itu repleks mencabut keris warisan leluhur, dan mengayunkan keris itu ke segala arah dengan mata yang terpejam, dan yang terjadi kemudian membuat mereka kena mental. Bagus dan Herly telah dikepung oleh ratusan warga desa dengan wajah pucat penuh luka borok di sekujur tubuh mereka.


Bau busuk yang menyengat dari luka borok, membuat mereka tak tahan melontarkan muntah ke tanah.


Sosok wanita cantik terbang melayang diantara kerumunan warga desa. Wajahnya menatap buas ke arah Herly. Seakan akan hendak menelannya bulat bulat.


"Bagaimana sekarang Gus, apa yang harus kita lakukan?"


"Aku tidak tahu Her, lakukan apa saja yang menurutmu benar, aku akan menahan mereka."


Bagus memagari mereka dengan garam, sementara Herly berusaha melafal mantra, lalu mengeluarkan semua dari tas ranselnya.


Wanita itu menyeringai, tampak marah saat Herly membanting kotak kayu yang berisi tulang. Karena kalut tak tahu lagi yang harus ia perbuat. Herly membuka kain pembungkus tulang dan wanita itu menyerang mereka.


"Apa kita sudah mati Gus, aku ada dimana sekarang?"


"Mahluk mahluk itu sudah hilang Her, aku tidak tahu kenapa mereka hilang begitu saja, mungkin karena tulang itu, atau botol kecil yang ada di tanganmu, entahlah yang penting kita selamat."


Herly menyeka keringatnya, dan berusaha untuk bangkit. Saat akan berdiri repleks, ia menoleh lagi ke belakang, dan ternyata sosok pria penunggang kuda tanpa kepala, bersama empat pengawal berada di belakang Herly.


"Kue wis tak kandani ngger, ojok muleh. Kenek opo kok kue malah balek merene, opo kue wis dadi pembangkang sak iki?"


Suara keras sang romo membuat Herly terjengkang ke belakang, sosok berkuda pergi menghilang bersama dengan suara pekik, dan langkah kaki kuda.


Tinggal mereka berdua di hutan gelap itu. Baik Bagus maupun Herly tidak tahu berada dimana, mereka hilang arah, bingung menentukan tujuan.


"Ini gara gara kamu Her, kalau saja kamu mendengarkan ucapanku, mungkin kita masih berada di jalur dan tak perlu tersesat disini."


Herly yang masih syok dengan kejadian tadi, tak mau menanggapi celotehan Bagus. Dia mimilih duduk di tanah sambil merapikan barang barang, kemudian memasukannya ke dalam tas ransel.


Sementara Bagus berusaha mencari sinar matahari untuk menentukan arah barat.


"Untung ayam cemani ini tidak lepas, kalau tidak, usaha kami pasti akan sia sia."


Bagus masih saja meracau karena kesal. Hatinya tidak tenang. Kalau bukan karena penunggang kuda tanpa kepala itu, mereka pasti telah tewas terkoyak, seperti jasad para pengantar jenazah romo.


Herly masih duduk diam di tanah. Kata kata sang romo membuat Herly merasa bersalah. Romonya telah melarang Herly datang, tapi ia justru tak mengindahkannya.

__ADS_1


Herly kembali ke desa leluhur seperti akan memenuhi sumpah wanita bernama Darsih. Kutukan yang ingin di jauhkan darinya, sehingga suara romo terdengar murka, dan menyebut Herly sebagai pembangkang.


__ADS_2