Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 44 Gadis Kerudung Merah


__ADS_3

Om Bandi memandu Herly dan kawan kawan menyusuri jalur pendakian yang terjal. Kabut pekat, membuat mereka harus hati hati menapak.


Waktu seakan mengejar, mereka berpacu dengan hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Beberapa kali Herly ataupun Bagus harus terpeleset hingga nyaris terjatuh ke jurang.


Namun untungnya mereka berlari cukup rapat dan saling menjaga. Sementara pasukan jin yang akan mengejar mereka dihalangi nyai penasehat raden Aryo dengan mengurung mahluk mahluk itu di mulut goa.


Om Bandi berencana mengunci mahluk yang menempel pada tubuh Darsih di dalam dirinya untuk sementara waktu. Dia ingin agar Herly dan teman teman punya cukup waktu untuk keluar dari desa dan mengatur strategi baru.


"Kalian bertiga turunlah, ikuti peta sebagai pedoman. Jangan pernah menghiraukan yang lain. Saya akan membuat segel untuk menghambat mereka disini."


"Jika ini berhasil, saya akan segera turun menyusul kalian. Kita akan bertemu lagi di tempat mobil kalian terparkir. Tapi bila dalam waktu satu jam saya tidak muncul, maka kalian tinggalkan saja."


"Karena itu berarti saya tidak selamat."


"Tidak om, jangan seperti itu, saya tidak setuju. Kami akan timpang tanpa kehadiran om Bandi."


"Jujur saja kematian Ryo dan Jaka masih menyisakan luka, dan saya tidak mau itu terulang kembali."


"Om Bandi harus tetap bersama kami, agar kita bisa saling menjaga. Kalau ada yang harus tinggal, maka itu adalah saya, bukan om Bandi."


"Saya tidak mau ada nyawa lagi yang berkorban demi melindingi keluarga kami."


Herly menentang keras rencana om Bandi, dia tak ingin apa yang telah terjadi kepada kedua teman mereka terulang sekali lagi.


"Dengarkan saya, apapun caranya kalian harus bisa mengunci tempat ini, dan saya mau kalian bertiga melakukannya tanpa kegagalan."


"Jangan sampai ada kesalahan, karena jika ini gagal, maka wanita bernama Darsih itu akan mengikuti kalian selamanya."


"Iblis itu tidak boles keluar dari desa ini, karena itu kalian semua harus selamat sampai di gapura batu, lalu segel desa ini dengan mantra yang ada di buku tua milik Angga, hanya itu caranya membebaskan keluarga Herly."


Om Bandi tetap bersi keras, akan melakukan ritual segel, sedangkan Angga dan teman teman tidak ingin om Bandi mengorbankan dirinya.


Setelah melalui perdebatan selama beberapa saat, Angga terpaksa menuruti kemauan om Bandi, dan bergegas turun, membiarkan om Bandi melakukan ritual penyegelan seorang diri.


"Maafkan aku om, seharusnya dari awal aku tidak melibatkan om Bandi dalam masalah kami."


"Jaga diri om baik baik, aku akan menunggu om Bandi dibawah sana, jangan sampai tidak datang."


Angga berbicara pada dirinya sendiri. Dalam hati pemuda itu sangat berharap omnya dapat kembali ke rumah dengan selamat.

__ADS_1


Ada rasa bersalah di relung hati yang tak dapat ia bagikan dengan orang lain. Dia hanya bisa berdoa demi keselamatan adik bungsu ibunya.


Om Bandi memulai ritual untuk membuat segel, sedangkan Angga dan teman temannya bergegas memburu fajar. Di sisi lain, dari sebuah tempat yang tersembunyi, sosok wanita berkerudung merah mengawasi mereka.


Wanita itu bergerak lincah dari satu dahan ke dahan lain sambil mengatur jarak agar tidak terlacak oleh indra ke enam Angga, dan teman temannya. Mata tajam wanita bekerudung itu seolah olah mampu membelah kabut tebal yang mulai menipis bersama datangnya pagi.


"Berhenti Ngga...!"


"Ada apa Gus, kenapa berhenti, kita harus cepat cepat, sebentar lagi matahari terbit."


"Perhatikan langkahmu kawan, hati hati, mundur perlahan dan lihat apa yang ada didepanmu!"


"Hussst... Husst...!"


Tiba tiba Bagus, menghentikan langkah mereka, Angga yang tidak fokus lalu melihat kebawah, dan terkejut dengan puluhan ular kobra yang menghadang, nyaris mematok kakinya.


"Sepertinya ini bukan jalur yang benar Ngga, kita sudah melenceng jauh dari peta."


"Apa maksudmu kita melenceng dari peta Gus?"


"Bagus benar Ngga, aku juga tidak mengenal jalur ini. Di depanmu itu sarang kobra, kamu beruntung ada Bagus yang jeli melihat langkahmu. Jika tidak, habislah kita."


Herly membenarkan ucapan Bagus, dia kembali melihat peta, dan ternyata, Angga memang salah mengambil jalur. Mereka terdiam sejenak. Baik Angga, Bagus, maupun Herly tidak tahu dimana keberadaan mereka sekarang.


"Aku akan mengikuti suara terbanyak. Bagaimana menurutmu Gus, Her, apa ide kalian teman teman?"


"Aku buntu, tidak punya ide Ngga, bagaimana denganmu Her, kami akan ikuti saranmu saja."


"Aku juga tidak tahu Gus, kalau kita terus lanjutkan rute ini, aku takut kita akan tersesat, dan lagi kita sudah sepakat dengan om Bandi, akan berkumpul di lokasi mobil, saat sampai di bawah."


Diskusi mereka menemukan jalan buntu. Untuk beberapa menit mereka hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari jalan untuk kembali pada jalur yang benar.


"Aku tidak melihat jalur sama sekali, daripada tetap disini, lebih baik memutar kembali ke atas agar kita berada di track yang benar."


Bagus berusaha memberi saran, dan Herly langsung mengangguk, tanda setuju. Namun tidak dengan Angga, pemuda itu memberi kode agar mereka diam dan melihat ke arah yang ditunjuk Angga.


"Sssttt... coba kalian perhatikan, apakah dia manusia atau sesuatu yang lain?"


"Bagaimana bila dia seorang manusia?"

__ADS_1


"Jika ada perempuan disini, maka kita sudah dekat dengan desa. Kalian tunggu disini aku akan coba mencari tahu, semoga saja dugaanku benar, wanita itu adalah salah satu warga desa di lereng gunung ini."


Angga berinisiatif untuk bertanya pada sosok wanita berkerudung, yang membelakangi mereka. Namun wanita itu seperti sedang mempermainkan Angga. Saat Angga berusaha mendekat, wanita itu sengaja berjalan menjauh dari Angga, seakan akan dia ingin memisahkan pemuda itu dari dua orang temannya.


"Mbak berhenti, saya hanya mau bertanya. Tolong berhenti sejenak, kami bukan orang jahat."


Wanita itu justru berlari hingga kerudungnya terlepas menyapu wajah tampan Angga.


"Wangi ini, aku ingat wanginya, dia wanita yang kami temukan di hutan."


Mbak... tunggu...!"


Angga berlari tanpa memperdulikan Bagus dan Herly. Mereka nampak heran dengan prilaku Angga. Kedua pemuda itu terpaksa mengejar Angga, karena takut terjadi sesuatu pada diri Angga.


Mereka terus belari mengikuti sosok wanita berkebaya merah, tanpa mengingat lagi tujuan awal mereka berada di tempat Itu.


Langit berwarna jingga, mentari saru menampakkan sinarnya. Tanpa sadar mereka telah jauh berlari tanpa henti, dan wanita itu menghilang bersama tetesan embun di dedaunan yang mulai mengering.


"Kemana perginya wanita itu?"


Gus, Her, apa kalian melihat wanita tadi?"


Angga menunjuk arah hilangnya wanita berkebaya merah, sedang Bagus yang sejak awal tak melihat siapa siapa hanya menggeleng bingung.


"Dari tadi kami tidak melihat siapa siapa di sekitar kita. Aku sendiri heran, mengapa kamu menunjuk pohon kering, sedang kami tidak tahu perempuan apa yang kamu maksud Ngga."


"Iya Ngga, aku juga lihat siapa siapa. Kamu hanya bicara sendiri. Kami mengejarmu karena takut terjadi sesuatu."


Bagus berusaha meyakinkan Angga soal halusinasinya. Herly akhirnya mempertegas ucapan Bagus untuk membuat temannya percaya.


"Hei kalian kemana saja, bukankah kita sudah sepakat bertemu di mobil bak sayur?"


Suara om Bandi mengejutkan mereka. Angga yang gembira melihat omnya telah kembali, lalu menghambur memeluk om Bandi dengan mata yang berkaca kaca.


Tanpa sadar Angga menjatuhkan buku yang ia beli di kios loak. Herly segera memungut buku itu dan menyembunyikannya di balik kantung jaket, tanpa di ketahui siapapun.


"Ayo anak anak, kita harus bergerak, saya khawatir iblis iblis itu berhasil lepas dari goa."


Om Bandi segera menggiring mereka menuju mobil bak sayur pengangkut hasil bumi. Herly sempat berdoa dari jauh, sambil menatap makam keluarganya.

__ADS_1


"Her, ayo cepat bro, kita harus meninggalkan desa ini segera."


Suara Angga mengagetkan Herly. Bagus menarik tangan Herly, lalu mobil mereka segera pergi dari areal pemakaman.


__ADS_2