The Bad Boy

The Bad Boy
Bab 20


__ADS_3

Daniel menghembuskan nafasnya pelan, dia menatap kosong kearah taman yang tampak sepi di bawah sana, bayangan William yang tampak ceria kembali mengusik pikiran Daniel. "Ah! ini tidak serius bukan?" desis Daniel pelan.


Flashback


"Kau akan pergi?" tanya Sarah yang kini sedang duduk bersama Daniel, keduanya tengah memperhatikan wajah Daniel dalam sebuah majalah keluar terbaru yang kini sedang laris manis.


"Kau seperti akan berkencan," kekeh Daniel pelan. William pria yang rapi, tapi malam ini dia berpakaian cukup santai namun tetap menampilkan kesan pria maskulin dengan raut wajah yang begitu berseri, layaknya orang yang tengah jatuh cinta.


William terlihat cukup terhibur dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya akan menjemput Anna," kekeh William.

__ADS_1


Sarah yang mendengar itu tampak bersemangat dan membuka matanya dengan lebar. "Apa kau akan menyatakan perasaan mu pada Anna? Oh, astaga William, aku berharap Anna menjadi kekasih mu yang terakhir, aku ingin segera menimang cucu!"


William yang mendengar itu terkekeh pelan, dia lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Tidak Mom, jangan terlalu berharap lebih dulu sebelum aku mengumumkan hasil malam ini," jawab William. "Sudah, aku berangkat sekarang."


"Hati-hati sayangku, semoga aku mendapatkan kabar yang gembira." Senyum Sarah masih mengembang bahkan saat William sudah pergi menjauh dan menghilang di balik pintu ruang keluarga.


Kening Sarah berkerut samar. "Veronica? Apa kau yakin? William selalu menceritakan Anna." Jantung Daniel rasanya berdenyut nyeri, rasa sesak seakan menghantamnya. "Ah, tapi Mom tidak tahu, siapapun wanita yang dipilih William semoga saja wanita yang benar-benar mencintai William dengan tulus," lanjut Sarah sambil tersenyum lembut, dia mengulurkan tangannya dan mengusap punggung tangan Daniel.


Flashback off

__ADS_1


Perasaan tak tenang kini seakan menyelimuti Daniel, belum pernah ia merasa khawatir akan ditinggalkan seseorang, bahkan seseorang yang belum dia dapatkan. Dengan tak sabaran Daniel merogoh saku mencari ponsel miliknya, pikiran kacau seperti ini sebaiknya ia lewati di samping Jacob, pria itu selalu memiliki kata-kata yang membuat Daniel kembali bersemangat dan tak putus harapan. "Kau di mana?" tanya Daniel saat panggilannya diterima.


"Aku berada di minimarket, ada apa? Tumben sekali kau menelpon ku? Belum memiliki sahabat baru dari kalangan seleb-mu?" terdengar kekehan ringan dari sebrang sana, oke Daniel tahu memang akhir-akhir ini ia selalu menemui Jacob jika sedang mendapatkan masalah, sedikit sindiran seperti ini takkan membuat Daniel malu.


"Aku ingin mengajakmu untuk minum, aku akan menjemputmu sekarang juga."


"Wait Daniel, tapi aku ada—"


Daniel menggelengkan kepalanya ringan, tidak boleh ada penolakan untuknya saat ini, Daniel langsung mematikan panggilan dan masuk ke dalam kamarnya mencari kunci mobil dan mengambil asal jaket yang akan dia kenakan.

__ADS_1


__ADS_2