
Pada tanggal 15 keberangkatan Daniel menuju Milan menjadi sebuah berita yang beredar di kantor, banyak para wanita yang mengeluh karena itu artinya Daniel tidak akan datang di acara ulang tahun perusahaan. Seperti Emily sekarang, dia menghembuskan nafasnya pelan dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam laci meja. "Baik lah, tak masalah, mungkin aku harus menghemat uang untuk tidak membeli baju baju," gumamnya pelan. "Tapi, oh ayo lah! aku sangat merindukan Daniel, rasanya sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya," keluh Emily dengan keras membuat Anna yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Bukannya kau selalu mengikuti kegiatannya di sosial media," jawab Anna sambil terus fokus mengetik dan pandangannya tertuju pada layar laptop.
"Tentu saja beda Anna, melihat secara langsung rasanya sungguh mudah untuk di gapai, tapi melihat dari sosial media rasanya ada tembok tinggi yang menjadi penghalang."
Anna terdiam sejenak, sudah hampir 3 Minggu memang ia tak mendengar kabar Daniel, perasaan Anna yang awalnya selalu gelisah dan mengingat pria itu dengan perlahan memudar seiring berjalannya waktu, kesibukannya bekerja dan perhatian William membuatnya bisa terbebas dari pesona Daniel. "Baik melihat secara langsung atau pun tidak tetap saja ada tembok tinggi yang menghalangi," gumam Anna tanpa sadar dan dengan cepat ia menutup mulutnya sendiri, ia menoleh pada Emily yang takutnya mendengar gumaman nya tadi.
Emily tampak cemberut dan memutarkan bola matanya pelan. "Oh ayolah Anna, jangan membuat diri ku ini semakin jatuh, aku tahu aku dan Daniel tak akan pernah bersama, bahkan melirik ku sana tidak pernah," gerutu Emily pelan membuat Anna menghembuskan nafasnya lega karena itu artinya Emily tidak terlalu menyadari maksud ucapan Anna yang sebenarnya hanya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
**
Sementara di ruangan William, pria itu mengetukkan pulpennya dengan pelan di atas meja kayu berlapis kaca, keningnya terlihat berkerut samar seakan menjelaskan jika ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. "Apa dia mencintaiku?" gumam William tampak bingung dan tak percaya.
William teringat akan kejadian kemarin malam, ia tak sengaja bertemu dengan Veronica disebuah mall saat William mengantarkan Mommy nya.
Flashback
"Oh, hai William," jawaban Veronica terkesan begitu dingin, tak ada senyuman di wajah cantik yang biasanya selalu ceria itu.
__ADS_1
William menjelaskan maksudnya tentang mengapa Veronica belum memberikan postingan-postingan kecil tentang iklan produk yang akan tampil beberapa hari lagi setelah ulang tahun perusahaan, biasanya Veronica selalu memposting atau mempromosikan lewat Story sosial medianya tentang iklan yang sudah bekerja sama dengannya. Dan kalian tahu apa yang dijawab oleh wanita cantik itu? "Oh ya aku belum memposting satupun gambar tentang iklan kemarin?" ucapnya tidak terdengar seperti orang yang kaget bahkan terkesan datar. "Aku akan memberitahu sendiri manajerku tentang ini, kau belum mengadu padanya bukan?"
"Oh tentu saja tidak Veronica, aku hanya ingin langsung bertanya padamu. Oh ya, beberapa hari ini aku sudah mengirim pesan padamu dan asisten mu mengenai undangan acara ulang tahun perusahaan, apa Daniel sudah mengajak mu juga? apa kau bersedia untuk hadir?" bersamaan dengan itu terlihat asisten Veronica yang baru saja muncul dengan beberapa belanjaan di tangannya, bisa kalian semua tebak belanjaan yang sedang dia bawa.
Veronica tampak terdiam sebentar, lalu dia menggelengkan kepalanya. "Aku belum melihat jadwal pekerjaanku, seperti akhir-akhir ini sangat padat. Sekarang juga aku harus pergi, masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan agar bisa tidur nyenyak," jawab Veronica dengan senyuman yang lagi-lagi tampak terpaksa. "Permisi William," lanjut Veronica selalu berjalan terlebih dahulu dan langsung diikuti sejajar oleh dua pengawalnya, meninggalkan William bersama dengan asisten Veronica yang baru saja muncul tadi.
"Aku sungguh menyayangi kesempatan emas yang ada di depan mata mu, tapi kau malah memilih wanita lain dan mematahkan hati Veronica yang sekeras batu. Hal itu benar-benar sangat langka padahal," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
Saat Asisten Veronica akan pergi, William dengan cepat menahannya. "Maaf, apa maksudmu?" tanya William hati-hati.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud mengatakan apa-apa, hanya saja ini menjadi pelajaran untuk mu, ketika kau tidak benar-benar mencintai seseorang jangan pernah memberikan harapan apalagi sampai hadiah sebaik itu pada seorang wanita."
flashback off