The Bad Boy

The Bad Boy
Bab 33


__ADS_3

Guys maaf ada kesalahan huhuuu, aku salah masukin cerita semalam, tapi udh aku revisi dan kalian bisa baca ulang ya.



Author semalem ngantuk kayanya😭


**


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu berhasil membuat lamunan William terhenti seketika, ia kini melihat Anna sedang tersenyum di depan pintu dan berjalan dengan perlahan ke arahnya. "Hai, kau sedang memikirkan sesuatu? apa ada masalah?" tanya Anna saat sudah duduk di depan William.


Seketika rasa bersalah William muncul, mengapa juga dia harus terganggu saat Veronica seakan menjauhinya? tentu saja karena menyangkut iklan produk barumu William. Tidak, ini jelas berbeda rasanya, William lebih merasa kehilangan, saat Veronica masih melakukan proses shooting Wanita itu selalu saja menghubungi nya terlebih dahulu, menanyakan segala macam hal bahkan sangat ceria di dalam telepon dan akhir-akhir ini menjadi berubah drastis membuat William merasa kehilangan. "Tidak ada apa-apa," jawab William sambil tersenyum kepada Anna. Ya Tuhan, William, sekarang kau sudah memiliki kekasih yang mencintai mu sejak lama, mengapa bisa kau tega memikirkan wanita lain di dalam pikiran mu! William menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak ingin terkecohkan, dia sudah memilih Anna dan akan terus bersama dengan Anna selamanya.


"Tapi aku merasa kau sedang tidak baik-baik saja, ingin bercerita? semoga saja aku bisa membantu mu," bujuk Anna dengan lembut.


"Ini tentang Veronica. Tidak, maksud ku tentang acara ulang tahun perusahaan, banyak klien kita yang menanyakan kehadiran Veronica dan Daniel, aku sendiri belum berhasil membujuk Daniel untuk pulang terlebih dahulu dari Milan ditambah lagi Veronica yang tiba-tiba saja tidak ingin berbicara denganku, undangan untuk acara ulangtahun perusahaan tidak sama sekali dia bales, tapi aku akan mencoba... Um, untuk Daniel, apakah kau bisa membantuku untuk membujuknya? dia belum memberikan kabar tentang kesediaannya untuk datang atau belum."

__ADS_1


Terlihat jelas raut wajah Anna berubah menjadi terkejut dalam seketika. "A-apa? aku? bukankah dia adik mu? atau kau bisa meminta Mommy mu untuk membujuknya, j-jika kau saja tidak bisa membujuk Daniel bagaimana aku bisa?" tanya Anna yang entah mengapa langsung gugup.


Beberapa detik kemudian William pun mulai mengerti dengan kegugupan Anna, senyumnya pun mulai mengembang dan kedua tangannya terulur menggenggam tangan Anna. "Aku tahu kau mungkin merasa canggung untuk membujuknya, tapi aku ingin kau mencoba untuk mendekatkan diri pada Daniel, bagaimana pun dia akan menjadi adikmu juga, aku yakin dia akan memberikan jawaban jika kau yang membujuknya tidak se-acuh padaku. Urusan Veronica biar aku yang atasi, aku tidak ingin klien kita merasa kecewa karena tidak dapat bertemu mereka."


Tak berapa lama, terlihat Anna menarik nafasnya dalam, dia pun mengangguk pelan. "Baiklah, akan aku coba," jawab Anna membuat senyuman William semakin mengembang. Dan sekarang, William hanya perlu berpikir keras agar Veronica bisa tertarik kembali pada perusahaannya, dia ingin membuat Veronica melihatnya sebagai seorang kakak, bukan seorang pria yang harus ia cintai. Tapi bagaimana caranya? "Kalau begitu aku keluar dulu, aku akan meminta cara pada Emily untuk membujuk Daniel."


Suara Anna membuat William kembali tertarik ke dunia nyata, lamunannya kembali buyar dan tak ingin mengecewakan Anna yang bersedia membantunya William pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Terima kasih sayang ku, beritahu aku jika mendapatkan kabar baik."


"Baiklah William." Saat Anna sudah keluar dari ruangannya, William kembali menarik nafasnya dalam dan menghembusnya kembali. Hubungannya dengan Anna cukup baik-baik saja hingga kini, William tahu Anna belum cukup terbuka bersamanya, juga belum terlalu banyak cerita mengenai keluarga Anna yang Wiliam tahu. Mengenai panggilan mereka berdua, mereka memutuskan untuk memanggil nama terlebih dahulu, walau William sesekali menggoda Anna dengan panggilan sayang namun sekali pun William belum mendengar panggilan sayang yang dilontarkan oleh Anna. Semua perjuangan dan penantian ini William harap berakhir dengan indah, ia ingin dengan perlahan Anna bisa bersikap manja seperti pasangan yang lainnya. William juga berharap masalah Veronica tidak menghalangi dirinya untuk terus bersama dengan Anna.


--


"Tapi aku tidak siap, apa ada cara lain selain mengirimnya pesan?" tanya Anna.


Dengan cepat Emily mengganggukan kepala. "Tentu saja ada."


"Benarkah? mengapa kau tak memberitahu aku sejak awal Emily? bagaimana caranya?" tanya Anna dengan cepat.

__ADS_1


"Kau pergi ke Milan dan bujuk dia secara langsung, dia mungkin akan iba padamu dan menghadiri acara ulangtahun perusahaan."


Terdengar decakan pelan dari mulut Anna, raut wajah itu kembali cemberut karena ucapan Emily yang tidak sesuai dengan bayangannya. "Aku serius Emily!"


"Ya, aku pun sangat serius Anna! ayo cepat kirimkan pesan itu, aku yakin dia akan menjawabnya, setelah dia menjawab kau harus bisa bersikap manis agar Daniel bisa termakan oleh bujukan mu."


"Tapi kata-kata yang kau sarankan ini sungguh tidak masuk akal Emily, bagaimana jika dia berpikiran yang aneh?" desak Anna yang masih ragu dengan ide Emily.


"Apanya yang aneh? itu memang kata-kata untuk membujuk calon adik ipar mu, Anna." Tanpa diduga Emily berdiri dari duduknya dan mengambil paksa ponsel Anna yang soalnya tidak terkunci dan langsung menekan kirim.


"Emily! kau—"


"Apa? kau sangat lama Anna, kita lihat saja apa balasannya."


--


Ada yang bisa tebak apa yang di kirim Anna?

__ADS_1


__ADS_2