
Anna menatap bingung pada Daniel yang sedang mengulurkan tangannya memberikan sebuah jaket berwarna hitam dengan ukuran yang cukup besar. "Kau saja yang menggunakannya, untuk apa aku memakai itu, orang-orang tidak mengenalku," tolak Anna sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau yakin tidak ada yang mengenalmu? bagaimanapun jika nanti ada orang-orang kantor atau justru seseorang yang mengenalku dan tak sengaja memotret mu? Aku tidak masalah dengan itu, hanya saja aku tidak ingin kau merasa tertekan jika menjadi bahan perbincangan orang—"
"Baiklah! aku akan menggunakan ini," potong Anna dengan cepat dan mengambil jaket juga masker yang rupanya Daniel selipkan disana. "Apa kita akan menghabiskan waktu bersama hewan-hewan ini?" tanya Anna seraya mengenakan jaket yang mulai menutupi kemeja berlengan panjangnya.
__ADS_1
Daniel bukannya menjawab malah tertawa kecil melihat Anna yang tenggelam di dalam jaket kebesaran miliknya, ia meraih lengan jaket tersebut dan melipatnya sampai jemari Anna terlihat, hal itu membuat Anna tanpa sadar tersipu malu dengan apa yang dilakukan Daniel. "Tidak, setelah aku puas melihat hewan-hewan kita akan ke tempat yang lebih sedikit privasi," ujar Daniel. "Aku takut kau berpikir yang bukan-bukan, kita akan kemari," lanjut Daniel kemudian mengeluarkan dia buah tiket dari laci penyimpanan mobilnya.
"Avatar? kau menyukainya?" pekik Anna sedikit terkejut karena ia sendiri sangat menyukai jalan cerita film tersebut, setiap Anna akan menonton Emily selalu menolaknya karena Emily kurang menyukai genre tersebut.
"Tentu saja, ayo gunakan masker mu," ujar Daniel. Pria itu dengan secepat kilat sudah mengenakan jaket, masker, topi bahkan kacamata, seakan hal seperti itu sudah sangat sering ia lakukan.
__ADS_1
Sementara di kamar William, dia beberapa kali melihat ponsel, hari ini dia akan menembus rasa bersalahnya pada Anna. Perasaan bersalah kembali muncul saat William mengingat kejadian 2 hari yang lalu, hari dimana ia secara sadar sudah merusak cinta sucinya bersama Anna.
Malam itu William bertemu dengan teman semasa kecilnya di sebuah club malam elit yang cukup terkenal dengan keamanannya, jadi bisa ditebak siapa saja yang menjadi tamu VIP di sana. Satu gelas kecil minuman tentu saja tak akan membuat William mabuk sedikit pun. Hampir 1 jam William di sana ia baru menyadari jika ada kumpulan wanita cantik yang sedang menari dengan gelas kecil di tangannya, salah satu dari wanita tersebut William sangat mengenalnya dan membuat William langsung bangkit dari duduknya. "Veronica?" gumam William pelan sambil memastikan apa yang dia lihat.
Kakinya melangkah menghampiri Veronica yang tampak sedang asik bersama teman-temannya. Sebuah kesempatan juga saat William menyadari tak ada asisten Veronica yang menemaninya. "Veronica, kau disini juga?" tanya William berusaha membujuk Veronica kembali karena Ace pun, sekertaris William, sudah tak mampu membujuk Veronica dengan bayaran tinggi agar bisa hadir dalam acara ulangtahun perusahaan.
__ADS_1
Wajah Veronica tampak sedikit merah, dia tersenyum lebar saat melihat William dan yang William tahu sudah pasti Veronica sedang dalam keadaan mabuk. "William!" pekik Veronica yang seakan mengalahkan suara bising dalam club ini. Tanpa diduga Veronica mengalungkan tangannya pada leher William yang membuat William dapat dengan jelas mencium aroma parfum mahal milik Veronica. Jantung William pun menjadi tak beraturan saat melihat kecantikan alami itu dari jarak yang sedekat ini. "Tidak ada satu pria pun yang menolak ku, mengapa kau bisa dengan mudahnya mematahkan hati ku?" bisikan Veronica bahkan masih begitu terngiang di telinganya sampai sekarang.
William menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuyarkan semua lamunannya tentang malam itu. Bukan hanya dia saja pria dewasa yang melakukan hal itu di belakang kekasihnya bukan? lagi pula Veronica pun tidak meminta hubungan resmi yang membuat William menduakan Anna, masih ada banyak cara untuk memperbaiki semuanya bukan?