The Bad Boy

The Bad Boy
Bab 31


__ADS_3

Setelah urusan Daniel sudah selesai bersama William dia pun langsung keluar dari ruangan dan sialnya dia melihat sepasang mata yang juga tengah menatap kearahnya. Siapa lagi kalau bukan Anna, wanita yang berhasil membuat Daniel jadi tak percaya diri dan harga dirinya pun tersinggung dengan penolakan ini. Dengan memaksakan diri untuk tetap bersikap dingin Daniel langsung memutuskan pandangan mereka, ia mencoba berbincang dengan asistennya.


Sedangkan Anna, setelah pemutusan kontak mata itu ada perasaan aneh dalam dirinya, ada rasa kecewa dan tak menentu yang seakan mengganjal dalam dirinya. "Anna," panggil Emily yang baru saja terdengar masuk ke gendang telinganya. "Kau memperhatikan Daniel sedari tadi, apa kau baru menyadari ketampanannya?" kekeh Emily pelan. "Upss, maaf aku lupa dia calon adik ipar mu," lanjutnya sambil terus menampilkan ekspresi menggodanya.


Bagus, kata-kata Emily seakan menjadi tamparan keras bagi Anna, Emily seakan mengingatkan Anna jika yang ada dipikirannya sekarang adalah calon adik iparnya, sangat tidak sopan alih-alih memikirkan kekasihnya sendiri tapi ia malah memikirkan adik iparnya sendiri! Anna menghembuskan nafasnya dengan perlahan, menatap Emily dengan raut wajah tak bersemangat. "Apa ada Emily? aku sedang tidak ingin bercanda," sahut Anna pelan.


"Bukannya kau sudah ditunggu William? Daniel sudah keluar dari ruangan bukan?" tanya Emily membuat Anna langsung teringat akan pesan William, untung saja dia mengatakannya pada Emily untuk mengingatkannya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengingatkan aku, aku benar-benar lupa." Anna berdiri dari duduknya, saat ia akan beranjak dari kursi Emily lagi-lagi memanggilnya. "Ada apa lagi?" tanya Anna dengan sabar.


Emily tersenyum lebar, seakan sudah memberikan kode jika ada sesuatu yang ingin dia katakan. "Tanyakan pada William apakah Daniel akan datang di malam ulangtahun perusahaan? jika Daniel akan datang aku akan membeli baju baru yang akan membuat Daniel melirik ku," kekeh Emily pelan.


"Huh, tanyakan saja sendiri Emily," jawab Anna sambil tersenyum kecil dan membuat Emily langsung cemberut seketika.


Anna pun mulai berjalan menuju ruangan William, ia mengetuk pelan pintu ruangan itu dan melihat William yang tadinya fokus pada laptop langsung menoleh dan mengembangkan senyumnya. "Oh, hai, masuklah, aku menunggu mu sedari tadi." Saat Anna memasuki ruangan tersebut, ia melihat William mulai mengeluarkan sebuah paper bag kotak sedikit lebar dari lemari mejanya.

__ADS_1


"Jangan kaku seperti itu Anna, kita hanya berdua disini, ayo kita makan siang bersama," balas William dengan begitu semangat, ia memberikan sebuah sumpit pada Anna.


"Tapi ini belum jam istirahat," jawab Anna ragu saat menerima sumpit tersebut.


William melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hanya kurang 20 menit lagi, bukan masalah besar, lagi pula ini adalah kantor ku, kita bisa makan siang kapan saja, jika kau ingin menjadi sekertaris ku pun boleh Anna, jadi aku bisa melihat mu terus," ujar William sedikit terkekeh. Anna tau semua yang dikatakan William adalah candaan ringan, ia menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah William yang tampak kekanakan.


"Aku tidak percaya dihadapan ku sekarang ada William yang aku kenal," sahut Anna.

__ADS_1


"Dan yang lebih tidak percaya lagi di hadapan mu sekarang adalah kekasihmu, apakah kita masih akan memanggil nama? apa tidak ada panggilan khusus?" tanya William yang melihat Anna kini dengan serius.


Anna terdiam sejenak, lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. "Nanti saja kita pikirkan William, sekarang kita makan dulu sebelum ada yang mengetuk pintu ruangan mu dan melihat sang CEO sedang makan siang bukan di jam nya," jawab Anna membuat William tertawa kecil.


__ADS_2