The Bad Boy

The Bad Boy
Bab 22


__ADS_3

Sesampainya di basement Anna dan Emily pun turun dari mobil dan berjalan menuju lift, namun tepat saat pintu lift terbuka Anna baru menyadari sebuah dokumen yang sudah dia selesaikan kemarin sebelum berangkat makan malam dengan William tertinggal di kursi bagian belakang mobilnya. "Kau duluan saja, ada berkas yang tertinggal di mobil," ujar Anna pada Emily yang seakan ragu meninggalkan Anna sendirian.


"Apa mau aku antar?" tawar Emily.


Anna menggelengkan kepalanya, dia melemparkan senyuman kecil pada Emily. "Tidak perlu, jangan mengkhawatirkan aku Emily. Ayo masuk, orang-orang sudah menunggumu," jawab Anna pelan sambil melihat 4 orang yang sudah berada di dalam lift.


"Baiklah, aku menunggu mu di atas ya, maaf sudah merepotkan mu pagi ini."


"Astaga, merepotkan apa? Aku hanya menjemput mu, Emily, sudah masuk saja dan tunggu aku di atas," kekeh Anna pelan.

__ADS_1


Saat pintu lift sudah tertutup Anna pun berbalik menuju mobilnya, ia membuka pintu belakang mobil dan mengambil berkas yang menjadi tujuannya. Tepat saat Anna menutup pintu mobil, sebuah mobil berwarna putih melintas, jantung Anna berdebar dengan kencang, Anna melihat Daniel dari kaca mobil itu. "Tenang Anna, tenang," bisiknya pada diri Anna sendiri, ia mencoba untuk tetap tenang dan berjalan menuju lift, menekan tombol lift dengan sedikit tidak sabaran sambil berharap Anna dan Daniel tidak berada di dalam satu lift yang sama. Kenapa? Oh ayolah, Anna butuh waktu untuk menetralkan pikirannya sendiri, dia masih belum yakin dengan hatinya, dan satu hal yang lebih penting, Anna harus memikirkan baik-baik perasaannya terhadap William, pria itu pasti akan meminta jawaban yang dijanjikan oleh Anna kemarin.


Saat pintu lift terbuka Anna dengan segera masuk ke dalam lift tersebut, dia menghembuskan nafas lega karena Daniel belum turun dari mobilnya. Namun, memang sudah takdir mereka untuk bertemu, Daniel tiba-tiba sama menahan pintu lift yang akan tertutup dengan nafas yang terengah. "Kau tidak menunggu aku?" tanya Daniel yang kini terlihat sibuk mengatur nafasnya.


"Ayo cepat masuk ke dalam, kau ingin aku telat absen?" tanya Anna dengan cepat agar pandangan mereka bisa terlepas dan percakapan mereka bisa terhenti sampai di sana. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung Anna saat ini bagaimana, dia bahkan hampir sulit menyeimbangkan tubuhnya.


"Apa kencan bersama kakak ku sangat menyenangkan? aku tidak pernah melihat kakak ku seceria itu di dalam rumah," ujar Daniel. Tatapan itu terlihat sedikit kecewa, Anna bisa melihat jelas ada kekosongan seperti yang pernah Anna rasakan.


"Benarkah? bukannya William selalu ceria? Mommy mu pernah menceritakan kalian berdua," jawab Anna dengan perasaan yang kian berkecamuk, apakah Daniel benar mencintainya? apakah selama ini Daniel tidak bermain-main? semua pertanyaan itu menghantui pikiran Anna sekarang.

__ADS_1


Daniel menghembuskan nafasnya pelan, dia sedikit berbalik dan menatap tombol lift, kedua pipinya terlihat sedikit di kembangkan dan dengan perlahan mengeluarkan nafas kekecewaan sambil berkata. "Ternyata benar," gumamnya pelan.


Anna yang mendengar itu mengerutkan keningnya pelan. "Benar?" tanya Anna bingung.


"Benar," ucap Daniel menggantung lalu menoleh pada Anna sambil tersenyum kaku. "Kau dan William memiliki hubungan, kau tidak menentang ucapan ku mengenai kencan barusan, itu artinya kalian memang berkencan bukan?"


Baru saja Anna akan menjawab, pintu lift terbuka, Daniel menegakkan tubuhnya dan tersenyum kecil pada Anna. "Aku duluan," ucap Daniel, saat kakinya akan melangkah dia kembali menoleh. "Oh ya, bagaimana pun kau akan menjadi kakak ipar ku, mau tak mau kau harus bersikap baik pada calon adik iparmu ini," kekeh Daniel dengan nada yang terkesan terpaksa lalu pergi meninggalkan Anna yang langsung tertutup pintu lift.


Anna hanya bisa mematung, dia merasa sesak dan seakan mengalami patah hati yang entah sedari kapan perasaan itu muncul.

__ADS_1


__ADS_2