
Daniel menghirup nafasnya sedalam yang ia bisa, udara dingin di pagi ini cukup membuat pikirannya menjadi sedikit relax. Seharian kemarin benar-benar membuat Daniel bahagia, ia sangat berharap dengan cara itu ia bisa melupakan Anna dan menjadi Daniel yang dulu, seorang bad boy yang tak pernah memikirkan satu orang pun wanita yang mencintainya, tak pernah merasa gelisah akan satu wanita yang mampu membuat perasaannya bercampur aduk. "Aku rasa aku akan menemukan wanita cantik hari ini," gumam Daniel, saat ia membuka pesan masuk di ponselnya, ada rasa penasaran dan juga rindu tentang Anna yang tak memberikan kabar apapun sedari malam.
Daniel menggelengkan kepalanya dengan keras, sudah cukup ia memikirkan Anna, jika ia terus mengganggu Anna akan menjadi susah lagi untuknya melupakan wanita cantik itu.
Ting
Suara pesan masuk kali ini benar-benar nyata, jika tadi Daniel hanya ingin melihat pesan-pesan nya kemarin bersama Anna kini ia mendapatkan pesan dari William. [Daniel, aku harap kau bisa menjaga Anna dengan baik, aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan Anna. Aku tahu selama ini kau selalu memperhatikan Anna di kantor, aku yakin kau bisa jauh lebih baik dari ku.]
Deg, jantung Daniel kini berdebar, ada perasaan tak nyaman. "Ada apa ini?" gumam Daniel. Apa William mengakhiri hubungan ini karena tahu Daniel dan Anna bertemu kemarin? Bagaimana perasaan Anna saa ini? Apa semua ini salahnya karena sudah terlalu jauh mendekati Anna.
Dengan cepat Daniel menghubungi Anna, namun sayangnya ponsel wanita itu seakan tidak aktif. Ia dengan cepat mengambil jaket tebalnya dan mengenakan kacamata hitam. Saat berada di Lift, Daniel mulai menghubungi Managernya dan mengatakan akan mengundur kembali pekerjaannya hari ini, ia juga menghubungi asistennya agar cepat turun ke lobby dan mengantarkannya ke Bandara.
"Apa kau gila?" pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulut asistennya, namun Daniel tak mengindahkan semua itu, fokusnya hanyalah pada Anna, ia takut jika wanita itu sedang menangis dan merasakan sakitnya seorang diri.
Selama di perjalanan Daniel hanya meminta asistennya untuk mempercepat laju mobil, ia tidak menghiraukan panggilan masuk dari sang Manager. "Bagaimana jika kau di cap sebagai model tidak profesional? kau tahu bukan kontrak ini sangat berharga untuk mu?"
__ADS_1
--
Anna menarik nafasnya dalam, ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir sore, cukup menenangkan di hari pertamanya menjadi pengangguran. Pagi tadi, Anna memberikan surat pengunduran dirinya juga mengakhiri hubungan mereka, ia awalnya tidak menyebutkan apa alasan Anna kepada William. Saat Anna hendak pergi, William menahan Anna dan William sendirilah yang meminta maaf terlebih dahulu pada Anna tentang kecerobohannya saat mabuk. William rupanya sudah curiga juga wanita itu akan membeberkan semuanya pada Anna.
"Sudah cukup tenang?"
Suara yang cukup familiar di telinga Anna, dengan spontan Anna pun menoleh. "Daniel?" tanyanya bingung. "Kau? bukannya kau sedang ada pemotretan di—"
"Apa kau pikir aku bisa bekerja di sana dengan tenang sedangkan wanita yang aku cintai sedang patah hati di sini?" pertanyaan Daniel membuat Anna tak mampu berkata lagi, ia ingin mengabaikan tetapi hatinya merasa begitu hangat.
"Sudahlah aku ingin sendirian, aku ingin menenangkan diriku dulu."
Daniel menarik nafasnya pelan, dia menolehkan kepalanya dan tatapan indah itu membuat Anna tak bisa menahan senyumnya. "Kau yakin ingin sendirian? aku sudah mengorbankan pemotretan ku untuk menghiburmu."
"Kau tak akan bisa menghiburku," jawab Anna yang mencoba untuk bersikap dingin, menyembunyikan rasa senang yang tiba-tiba muncul, menghilangkan rasa hampa dan kecewa yang dari semalam ia rasakan.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku membuat tantangan?" ucap Daniel. "Jika aku bisa menghiburmu kau harus menjadi kekasihku dalam satu hari seperti kemarin."
Anna membalas tatapan Daniel. "Mengapa harus sehari? kau tidak ingin waktu yang lebih lama?" Anna berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju pagar taman. Daniel yang masih mencerna ucapan Anna menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kau ingin menjadi kekasihku yang sebenarnya?" tanya Daniel dengan cukup kencang.
Anna menoleh sambil mengangkat bahunya pelan. "Aku ingin, tapi kau sama play boy nya dengan kakakmu."
"Tidak! itu dulu, sekarang hanya kau yang ada di pikiranku selalu Anna."
"Benarkah? ayo buktikan."
-Ending-
__ADS_1