The Bad Boy

The Bad Boy
Bab 34


__ADS_3

Daniel baru saja turun dari pesawat dan masuk ke dalam mobil yang sudah lebih awal menjemputnya, Daniel menghembuskan nafasnya pelan karena rasa bosan yang membuatnya mengantuk. "Daniel, kakak mu terus saja mengirim ku pesan untuk menanyakan kabar mu tentang acara ulang tahun perusahaan," ujar Asistennya yang baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. "Bisakah kau yang menjawabnya? aku merasa terganggu dan tak enak jika menolak permintaannya."


"Jika aku yang harus menjawabnya apa guna mu menjadi asistenku? sudahlah aku ingin tidur, bukan masalah uang untuk membayar denda jika pemotretan di undur, tapi masalah profesional ku yang akan mereka nilai."


"Aku tidak mengerti dengan kondisi keluarga mu, kalian terlihat dekat tapi kau tidak ingin membantu perusahaan keluargamu sendiri?" tanyanya bingung.


Daniel yang merasa terganggu mulai menarik nafasnya dalam, dia memejamkan matanya dengan perlahan dan menyandarkan kepala pada sandaran kursi dengan nyaman. "Aku selalu seperti ini jika merasa kalah darinya, lagi pula dia yang paling pintar berbicara, dia pasti bisa menghandle dengan mudah para kliennya."


"Kau merasa kalah dari William? apa Mommy mu sudah menandatangani surat kepemilikan semua harta untuk kakak mu?" tanya asisten Daniel yang tak henti-hentinya berbicara.

__ADS_1


Daniel pun membuka matanya dan menatap malas pada pria yang entah mengapa dia jadikan asistennya ini. "Aku tidak memperdulikan harta, uang yang aku kumpulkan sendiri sudah terlalu banyak."


"Lalu masalah apa?"


"Ckk! Astaga, kau ini asisten ku atau wartawan?" desis Daniel yang berhasil membuat asistennya terdiam dan memutarkan bola matanya dengan malas, dia mengeluarkan ponsel milik Daniel dari dalam tas khusus keperluan Daniel.


"Mainkan ponsel mu, setidaknya kau membuat Story untuk memberi kabar fans mu jika kau masih hidup," ujarnya dengan malas.


Baru saja Daniel membuka pola kunci, pupil mata Daniel seakan membesar dan keningnya berkerut dengan samar, sebuah pesan masuk dari Anna membuat Daniel langsung berpikir keras. Tidak pernah sekalipun Daniel mendapatkan pesan balasan dari Anna, dan untuk pertama kalinya juga Anna mengirimkan pesan terlebih dahulu.

__ADS_1


Dengan cepat Daniel membuka pesan tersebut dan rasanya cukup kecewa karena Anna mengirimkan sebuah pesan bujukan untuk Daniel datang di hari ulangtahun perusahaan, tapi ada yang unik dari pesan tersebut, kata-kata bujukan Anna mampu membuat senyum Daniel sedikit mengembang. "Apa benar dia yang mengetik ini?" kekeh Daniel pelan sedikit menghilangkan rasa kecewa pada wanita itu.


"Pesan dari siapa yang bisa membuatmu tersenyum menyebalkan seperti itu?" sindir sang asisten yang membuat Daniel langsung menjauhkan ponselnya agar asistennya yang cerewet itu tak bisa mengintip.


"Katakan pada kakak ku jika aku akan datang ke acara ulangtahun, tapi jangan ada seorang pun yang tahu dulu," ujar Daniel.


[Hai Daniel, bisakah kau datang ke acara ulang tahun perusahaan? ada banyak orang yang menanti kehadiran mu disana, jika kau ingin aku akan memenuhi 1 keinginan mu sebagai hadiah untukmu🥺. Anna]


Kali ini bukan Daniel yang menggodanya bukan? Anna sendirilah yang menawarkan diri untuk memberikan hadiah dan sekarang Daniel akan memikirkan dengan baik apa yang dia inginkan.

__ADS_1


[Baiklah, jangan sampai mengingkari hadiah yang sudah kau janjikan.]


__ADS_2