The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 11 : Nayra


__ADS_3

 


 


🌾**************🌾


 


Udara dingin masuk ke paru-paruku dan membangunkanku dari tidur yang lelap, aku merasa aku bermimpi sangat panjang namun aku tak ingat mimpi tentang apa.  Mimpi panjang yang membuatku lelah.


Dimensi mimpi itu buyar seketika dan kubuka mataku perlahan, samar-samar aku melihat Nayra yang masih tertidur dengan pulasnya.


Ahh jam berapa ini?


Aku bangkit dan melihat jam dinding dan menempel mesra di dekat pintu, jarumnya menunjuk angka lima dan aku segera bangkit untuk mempersiapkan diriku hari ini. Kuregangkan tubuhku dan turun dari hangatnya kasur dan belaian Nayra yang sedari tadi menempelkan tangan dan kakinya di atas tubuhku dengan mulut sedikit menganga.


Rasanya pagi ini sebenarnya aku tak ingin bangun, aku tak mau ada kejadian-kejadian yang melibatkanku, Juna dan gadis itu. Aku sedang tak ingin terluka dan aku masih lelah dengan semua kenyataan yang hadir dalam hidupku. Segera aku mandi dan membersihkan diriku, aku harus bersiap-siap untuk perjalanan bersama Nayra hari ini.


Hari ini Nayra akan mengajakku pergi hiking dan pergi ke sebuah tempat yang indah, yaa setidaknya itu yang Nayra janjikan padaku.


"Feb.. semalem..." Nayra bangkit dari tidurnya ketika aku keluar dari kamar mandi.


"Kenapa Nay??" Tanyaku, aku meneruskan berdandan di depan cermin.


"Kak Juna memintaku untuk memberikan ini.." ia bangkit dan menghampiriku, dia memberikan sebuah kartu ponsel padaku, aku menerimanya dengan sebuah tanda tanya.


"Pakailah itu, segera lah ganti nomormu.." pinta Nayra.


"Nay?" Aku menatapnya bingung.


"Aku tahu Feb.." ia membuang napasnya berat "kak Juna adalah kakak kelasku dan Hikma adalah temanku dulu sewaktu SMA.." jawabnya.


Aku menatapnya tak percaya, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan mundur.


Jangan-jangan Nayra bersekongkol dengan Hikma.. Aku tak percaya ini!!

__ADS_1


"Feb.." ia menggeleng "aku ada di pihakmu, meskipun aku adalah teman Hikma, aku tak berteman baik dengannya, dia gadis yang arogan dan aku adalah salah satu korban kearogansiannya, aku diteror olehnya, itu sudah menjadi kebiasaannya pada orang-orang yang mendekati kak Juna atau yang kak Juna dekati.." jelasnya.


"Kamu pernah dekat dengan Juna?" Kagetku menyimpulkan.


Nayra menggeleng "Kak Juna yang bikin aku deket sama sosok yang tiga bulan lagi bakal jadi tunangan aku.." jawabnya.


"Tapi kenapa?" Aku penasaran.


"Hikma memang seperti itu, dia sangat arogan dan semena-mena pada orang yang ada di sekitar Juna yang membuatnya cemburu, dia memaki-maki dan meneror orang-orang dengan kata-kata kasarnya.." jelas Nayra.


Aku mengangguk membenarkan ucapan Nayra, itu sungguh sama persis dengan apa yang terjadi padaku selama ini. Aku terdiam dan melihat kartu nomor baru itu, apa maksud Juna memberikan nomor ini padaku?


"Pakailah.. kak Juna memberikan itu supaya kamu tidak tersiksa dengan teror-teror menjijikan Hikma.." katanya.


"Tapi...." aku menatap Nayra masih dengan tatapan heran.


"Kenapa Feb?" Penasarannya.


"Kenapa Juna lebih memilih Hikma?" Tanyaku.


"Maksudmu..??" Aku semakin penasaran saja, Nayra mengajakku ke balkon untuk berbincang sembari menikmati udara pagi itu, namun tak dapat kupungkiri udara pagi ini sama sekali tidak berpengaruh pada diriku sedikitpun, aku hanya peduli tentang Juna dan Hikma saat ini.


Nayra duduk dan memasang mimik muka yang mulai serius seakan ia akan mulai bercerita tentang sesuatu yang sangat penting, aku mengikuti suasana itu dan aku mulai siaga.


"Sudah menjadi rahasia umum jika Hikma mudah terpengaruh hal-hal yang berbau mistis, bahkan ketika ia sedang baik-baik saja ia bisa saja berubah menjadi monster.."


"Monster?" Kagetku, aku jadi teringat apa yang dikatakan Juna ketika ia memintaku untuk menemaninya apapun yang terjadi, Juna benar, Hikma mungkin memang punya penyakit kejiawaan yang berbahaya.


"Iya.. ketika ia marah, tubuhnya akan melemah dan ia akan mudah dirasuki oleh sesuatu diluar dunia kita, dunia manusia.." Nayra menuturkannya dengan perlahan, ia seolah menerawang pada masalalunya "ketika kemarahannya memuncak dan emosinya tak dapat lagi terkontrol, ia akan menggila dan menghancurkan apa yang ada di hadapannya sesuka hatinya yang tertutup gejolak amarah yang dahsyat.. dia bahkan melukai dirinya sendiri dan orang lain jika ia inginkan.."


"Nay.." aku begidik membayangkan sosok Hikma yang anggun dan polos itu mengamuk dan menghancurkan apa yang ada di hadapannya.


"Maka dari itu tak ada yang bisa menghentikan Hikma kecuali kak Juna.." Nayra menatapku, "ketika aku tahu kak Juna kini bersamamu, awalnya aku kaget karena kak Juna selama ini tak pernah dekat dengan siapapun dan perempuan manapun di media sosialnya, hanya dengan Hikma sajalah ia mesra.."


Aku terdiam, aku memikirkan Juna.

__ADS_1


Apa mungkin selama ini Juna tak mau memberitahukan keberadaanku ini karena Hikma? Karena ia tak ingin Hikma marah dan cemburu padaku hingga menerorku dengan gencar dan tak ada habisnya..?


Ahh.. Juna..


 


Aku menatap Nayra, aku ingin memeluknya untuk meredam rasa sakit ini. Nayra bangkit dan memelukku erat, ia seperti memberikan kepercayaan dan energi positiv padaku yang kini hanya terdiam seperti orang bodoh.


"Aku cuma bisa sampein itu Feb.." bisiknya "kamu yang kuat ya.." katanya.


Aku mengangguk, "makasih Nay.."


Nayra tersenyum dan segera ke kamar mandi.


********


 


Aku mencoba untuk menikmati perjalanan Hikingku dan melupakan masalah Juna dan Hikma, aku beruntung Nayra kini ada di sampingku, setidaknya kini dialah yang menghibur dan membuatku senang hingga melupakan rasa sakit yang bertubi-tubi datang pada hatiku, ahh thanks Nayra.


Perjalanan panjang kami diakhiri dengan menikmati matahari terbenam diatas bukit dengan tawa dan keceriaan kami, saling berbagi cerita dan pengalaman masing-masing, di sela-sela menikmati senja yang hangat itu aku teringat ketika Juna memberikanku sebuah permen yang bertuliskan im yours! dan momen dimana Juna memintaku untuk selalu bersama dengannya, itu adalah senja yang terindah yang pernah aku nikmati dalam hidupku.


"Feb.. pernah ga sih kak Juna ngajak ke tempat kayak gini?" Tanya Nayra.


Aku mengangguk dan mulai bercerita bahwa ketika aku masih belum mengenal Juna sedekat kini, aku mengira Juna adalah seorang maniak karena slalu mengikutiku di sekeliling kampus ketika kebetulan lewat dan berpapasan, hingga akhirnya ketika musim hujan dan dia meminjamkan jaketnya karena aku kebasahan di sekitar halte bus depan kampus.


Aku tersenyum mengingat itu, mungkin kini aku bercerita sambil tersenyum dan tertawa bersama Nayra, tapi sungguh itu sangat manis.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2