
Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku takut..
Kakiku berjalan tanpa perintah hatiku, ia berjalan dengan sendirinya, aku tak bisa mengendalikannya, tanganku digenggam Hikma dengan erat dan aku hanya mengikutinya di belakang.
"Ini hampir jam lima Hikma.." ungkap Adi, "di sini tak ada sinyal sama sekali.. dan ponselku low bat.."
"Sebentar lagi kak, hehe" Hikma sudah melepaskan tanganku beberapa menit lalu, ia kini berjalan di sampingku bersama Adi, dan Juna tetap di belakangku.
Kenapa Juna selalu di belakangku sedari tadi? Ada apa?
Adi mengajakku berbincang ringan, ia menanyakan kabar ibuku dan berniat untuk datang menemui ibuku nanti, aku hanya mengangguk dan mengiyakan kata-kata Adi, hatiku tertaut pada sosok yang selalu di belakangku, Juna.
Langit menampakkan kegelapan dan beberapa Bintang muncul disana, indah namun hatiku mulai gusar, tempat yang kini ada di hadapanku sangatlah gelap, apalagi tak ada perbincangan apapun diantara kami yang menambah suasana yang menurutku mistis karena selain gelap tanpa penerangan juga angin dingin terus saja berhembus tak ramah pada kami.
"Berapa jauh lagi Hikma?" Tanya Adi, keadaan sudah sangat gelap dan itu membuatku tak tahu bagaimana keadaan mereka.
"Aku lupa kak.." jawabnya.
"Lebih baik kita kembali.." suara Juna di belakangku membuatku menoleh dan Juna telah menyalakan senter yang ada di ponselnya.
Dhegh!
Wajah Juna terlihat memucat, matanya terlihat lurus dan tertunduk, tatapannya terlihat kosong, bibirnya seperti membisikan sesuatu.
"Jun.. kenapa lo?" Tanya Adi, dia menghampiri Juna dan mengguncang tubuhnya yang terlihat menggigil, ponselnya terjatuh dan ia mematung sembari berkomat-kamit.
Segera aku menyalakan senter di ponselku dan menyorot sekitar kami, suara gemerisik daun yang ditiup angin mengitari kami, sebuah aura yang berbeda menjalar ke tubuhku.
Ya Tuhan..
Aku berdebar dan Juna menatapku tajam, ia berteriak dan kami mulai panik.
"Aaaarrrggghhh!!!!! FEBRIIIIIII!!!"
"Juna?" Aku mundur, senterku masih menyorot pada Juna namun tanganku bergetar tak tertahan.
"PERGI FEBRI!! PERGIII!!!" teriaknya, ia mendorongku dan aku terjatuh, ponselku terjatuh, semuanya menjadi gelap.
__ADS_1
"AAARRGGHH!!" suara Juna terdengar melengking.
Aku yakin itu bukan Juna, itu bukan Juna yang aku kenal, itu orang lain. Aku menelan ludahku, sebuah cahaya senter menyorotku dan membuat anak mataku membesar dan mengecil, ponsel Adi.
"Nas.. kamu gapapa?" Tanyanya, ia menghampiriku dan hendak menolongku bangkit, namun Juna meloncat lalu menerkamnya. Adi terjatuh dan Juna berada diatas tubuh Adi siap menerkamnya dengan buas.
"Aaarrrgghh!! Lo kenapa sih Jun?"
Ya Tuhan.. kenapa? Ada apa dengan Juna?
Semua gelap, aku bangkit dan mencari ponselku dan aku meraba sebuah benda kotak yang ternyata ponselku.
Dhegh!
Aku merasa seseorang berbisik di dekat telingaku. Suara yang tak ku kenal dengan bahasa Sunda yang kental
"SIA KUDU PAEH AYEUNA, DUNUNGAN AING NGEWA KA SIA" bisiknya namun sangat jelas menggema di benakku.*(Kamu harus mati sekarang, majikanku membencimu)
"Nyebut Jun.. nyebut!!" Teriak Adi.
"Aaarrrgghh!!" Aku merasa Juna meremas lenganku sangat keras "Junaa? Ya Tuhan.. apa yang kamu lakukan.." teriakku, rasanya sangat perih dan aku mencoba melepaskan diri.
"Apa-apaan lo?!!" Adi menghadang Juna hingga ia melepaskan diriku, ia menahannya supaya ia tak bisa menerkamku untuk kedua kalinya "*SAHA MANEH? SAHA MANEH? KALUAR TI JASAD BABATURAN URANG!!**" Adi berteriak sembari menahan tangan Juna.
(Siapa kamu? Siapa kamu? Keluar dari jasad temanku!!)
Juna kesurupan?
"AAARRGGHHH!! BINTANG PERGI DARI SINI! CEPAT!"
Ah? Juna?
"Juna.. kenapa kamu?" aku menghampiri Adi yang menahan Juna yang meronta-ronta sembari berteriak kata-kata kasar.
"ANJ*NG SIAAAAA! LEPASKEUN URANG SIA ANJ*NG.. AARGHH! FEBRI.. MANEH PAEH SIAAH!*" teriaknya.
(Anj*ng kamu! Lepaskan aku anj*ng aargh! Febri.. mati kamu!)
__ADS_1
"Nyebut Junaa!! Nyebut!!" Adi berteriak dan membacakan ayat-ayat Tuhan dan Juna berteriak histeris.
"Juna.. ingat Tuhan Junaa!!" Aku ikut memegang Juna dan membisikan ayat-ayat Tuhan.
Juna melemah dan nafasnya menenang. Sesuatu yang dingin berhembus dan berbisik di telingaku "AWEWE LAKNAT SIA!! PAEH!!" *
(Perempuan laknat kamu!! Mati!!)
Jantungku berdebar dengan sangat kencang, ketakutan itu menyeruak kedalam jiwaku dengan sangat agresiv, sebuah aura sangat keras terasa menghancurkan moodku.
Damn!
"AAUUUUUUUUNNGG"
Suara anjing liar melolong terdengar menggema di alam bebas ini, suasana menjadi semakin mencekam. Cahaya bulan purnama yang muncul dari balik awan tebal itu membuat sekitarku terlihat sedikit jelas. Adi terduduk lemas, Juna membuka matanya perlahan dan nafasnya mulai menenang meski terlihat sangat lemas.
Aku merasa berada dalam pikiran yang sangat dangkal karena aku merutuki Juna dan membiarkan diriku mendakwa Juna dan menyalahkan Juna atas semua kejadian ini.
Juna bangkit dan ia menatapku dengan tatapan lemasnya, sekelebat aku membencinya dan aku berpaling darinya.
"Bii.. kenapa??" Tanya Juna.
"Lo gapapa kan Jun?" Tanya Adi, ia menepuk pundak Juna.
Entah mengapa aku kesal pada Juna dan malah bersimpati pada Adi "kamu gak luka kan Di?" Tanyaku sembari mengelus pipi Adi.
"Gapapa Nas.." jawab Adi sembari menggeleng dan tersenyum, butiran keringat meluncur bebas di dahinya.
Baru kuingat Hikma tak kulihat sejak kejadian yang menimpa Juna baru saja.
"Hikma?" Adi menyapukan matanya ke alam sekitarnya, "dimana Hikma?" Tanyanya.
Aku ikut mencari sosok gadis itu namun tak kutemukan, kami mulai kembali ke jalan untuk pulang. Kami berjalan bertiga dengan menyusuri jalan setapak yang ada.
🍁*******🍁
__ADS_1