
"Takkan pernah ada yang benar-benar pulih setelah luka, tapi ia akan meregenerasi jika percaya senantiasa hadir.."
*Author*
💮💮💮💮💮
Hari ini,
Aku masih tak percaya berada di posisi ini, di posisi yang sedari dulu aku inginkan. Bersanding dengan sosok lelaki pengisi hati dan hariku, Juna.
Tangan besarnya meremas tanganku hangat dan lembut, Nyaman. Lelaki itu bersenandung sembari kami menyusuri jalan taman kota yang cukup ramai. kulihat mata yang berbinar dengan senyum yang sangat manis, aku sangat menyukainya sungguh.
"Duduk Bii.." katanya sembari duduk di atas rumput dibawah pohon rindang yang sejuk. Kusimpan keranjang kecil itu di samping Juna, segera saja dia melucutinya dan mengeluarkan makanan-makanan yang sengaja kami masak bersama tadi siang di kosanku, kami memang berniat botram.
Daun-daun yang mulai menguning terlepas dari batangnya seakan pamit lalu diterbangkan angin dengan lembut seakan bilang "saatnya untuk pulang dan kembali ke asalmu, tanah".
Dengan sigap Juna menyiapkan makanan itu sedangkan aku hanya tersenyum melihatnya yang begitu bersemangat, tangannya sudah terampil melakukan pekerjaan rumah -seperti memasak, beres-beres dan hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga-
Kutatap tangan kiriku dengan sebuah senyuman, pupil mataku terfokus pada benda kecil mengkilau yang melingkar di salahsatu jemariku. Sebuah ingatan muncul dalam benakku, moment yang tak bisa kulupakan selama 3 bulan terakhir ini, moment kami berdua. Perlahan aku menerawang dan merangkak kembali ke masa itu.
Flashback
Tugas kuliah akhir-akhir ini terasa sangat menekanku, datang dan pergi silih berganti tanpa mampu ku kontrol. Sebuah dering telpon membuyarkan konsentrasiku di hadapan laptop, manik coklatku segera mengarah pada ponsel yang menyala dan bergetar diatas kasur, segera tubuhku melompat ke atas benda empuk itu dan nama pujaan hatiku terrulis disana. Dengan semangat aku menekan tombol terima dan segera menyambutnya dengan sebuah sapaan hangat.
"Hai Candra, ada apa?"
"Hallo Bintang.. hmmm... Besok malem ada kegiatan gak?" Tanya nya.
"Hmm.. sebentar,.." kulihat jadwal di ponselku lalu ku jawab "ngga ada.. kenapa Candra..? Mau ngajak maen yaa...?" Candaku dan tawanya di seberang terdengar renyah, tawa yang ku suka dan berhasil membuatku tersenyum dalam diam.
"Eh sebentar.." katanya, beberapa saat hening dan aku sempat mendengar suara orang lain di seberang berbisik-bisik "eh, ngga jadi deh Bii.. maaf ya ganggu kamu.." katanya.
What?
Kenapa tiba-tiba membatalkan ajakan begitu saja? Pikirku dongkol. Kugigit bibirku kesal, kubuang nafasku pelan dan memcoba kembali tersenyum.
"Mm.. iya gapapa.." jawabku. Segera dia mengakhiri panggilannya.
Akhir-akhir ini dia membuatku kesal karena tingkahnya cukup aneh, mulai dari sering membatalkan ajakan, tiba-tiba menghilang ketika sedang jalan bersama, dan mengajak temannya ketika berjalan denganku. Hingga pada satu hari dia meminta maaf padaku dan itu membuatku mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Kamu kenapa Candra...??" Tanyaku setelah ia meminta maaf dibawah temaram lampu jalanan dekat rumah kostku.
"Akhir-akhir ini aku sering membuatmu jengkel ya?"
Aku hanya mengangguk tanpa niat menyembunyikan rasa kesalku namun juga tak ingin memojokkannya. Juna hanya terdiam, ia menunduk dengan wajah yang menunjukkan penyesalan dan kebingungan karena aku hanya diam menatapnya dengan dingin.
Dering ponselku memecah keheningan diantara kami, ku terima panggilan yang ternyata dari ibu di rumah.
"Nass.. kamu pulang ya malem ini.." pintanya di seberang sana tiba-tiba.
"Eh kenapa bu? Ini udah malem..." jawabku.
"Pokoknya kamu malem ini pulang!" Tegasnya, panggilan diakhiri. aku hanya mengerutkan dahiku, tak biasanya ibu seperti itu padaku, mungkinkah sesuatu telah terjadi? Kekhawatiranku mulai timbul, hatiku mulai gelisah.
"Kenapa Bii...?" Tanya Juna, ia terlihat bingung.
"Aku harus pulang malam ini.. ibu aneh di telpon tadi" aku menatap Juna dan ingin kulangkahkan kakiku dengan cepat, namun Juna memegang tanganku.
"Tapi kan jauh... hm.. Aku antar Bi.." katanya "tunggu ya, aku bawa motor dulu.." ia bergegas setelah mendapati anggukkanku.
Segera aku pulang ke kost dan menyiapkan beberapa hal penting.
Suara klakson motor terdengar di luar dan segera aku mengunci kamarku, berlari menghampiri Juna. Ia menyodorkan helm yang segera saja kupakai.
__ADS_1
Juna memacu motornya cukup kencang mengingat jalanan saat itu lenggang, aku mencoba menelpon ibu lagi dan lagi, tapi jawabannya selalu sama, nomornya sedang tidak aktiv. Itu membuatku semakin takut dan khawatir. Beberapa motor memepet motor kami, padahal jalan masih sangat luas.
Ada apa ini? Apa kami diikuti oleh geng motor? Atau begal?
"Juna, siapa mereka??" Tanyaku hampir berteriak, Juna hanya terdiam dia fokus memacu motornya.
Motor-motor itu bertambah, dan dibelakang banyak pengendara berjaket hitam mengikuti kami di sepanjang perjalanan ke rumahku.
"Juna aku takut..!!"
Satu jam perjalanan lancar dan sampai di rumahku, kulihat banyak motor yang terparkir di depan halaman rumahku.
Ada apa ini?
Aku turun dari motor Juna sembari melepas helmku, motor-motor yang tadi memepet dan mengikuti kami juga berhenti di depan halaman rumahku.
Ponselku berdering, dari ibu. Segera saja aku menerimanya.
"Cepatlah kesini Nass..." katanya.
"Iya buu... ini Nanas udah depan rumah, tapi banyak motor.. ada apa buu..?." Tanyaku, namun panggilan diputus.
"Arrggh!" Kesalku, namun juga khawatir. Aku bergegas masuk ke rumah dan mendapati banyak orang di teras rumah dan aku mencoba masuk. Keringat mengucur di dahiku dan aku rambutku masai tak beraturan.
"Nass.." seorang perempuan memanggilku, aku menoleh, aku tahu benar itu adalah suara...
"Nay....?" Kagetku, diriuhnya keramaian rumahku aku menghampiri sahabatku itu dan menatapnya dengan tanda tanya.
"Masuklah.." Nayra merapikan rambutku dan tersenyum.
Aku mengangguk "temani aku Nay..." kupegang tangannya dan kuberanikan diri masuk ke ruang tengah, "ada apa sebenernya ini teh Nay..?" Bisikku ketika kami mulai berjalan memasuki ruang tengah rumahku. Nayra hanya tersenyum dan menunjuk ke arah dalam, kulihat arah telunjuknya dan kudapati ibu sedang duduk bersama beberapa orang yang tidak aku kenal, disana juga ada Adi.
"Sini Nass..." panggil ibu.
"Sana..." dorong Nayra, ia tersenyum dan berhenti berjalan bersamaku.
Aku tersenyum pada orang-orang yang kini bersama ibu, menyalaminya satu persatu dan menyebutkan namaku "Febri Anastasya"
"Dari mereka Nass.." ucap ibu sembari menatap orang-orang yang ada di hapadapanku, aku hanya tersenyum dan bertanya-tanya dalam hati.
Apa maksudnya ini? Ini dari Adi? Atau dari mereka yang belum aku kenal?
Mereka siapa? Mereka bukan orang tua Adi..
Kutatap Adi dan mencoba tersenyum, ia hanya tersenyum padaku.
Pssstt psssttt
Terdengar beberapa orang berbisik dari luar, kualihkan pandanganku pada pintu yang tertutup sebagian itu.
Adi yang tadinya duduk berdiri dan menghampiri pintu itu, aku hanya menatapnya menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Jujur saja aku masih bingung dengan semua ini. Dia muncul, sosok di balik pintu itu muncul.
Jantungku berdebar tak karuan, baru kuingat Juna tak mengikutiku sejak aku masuk ke rumah.
"Juna?"
Dia masuk bersama Adi dan ikut duduk diantara kami,
"Itu untukmu Bii.." katanya sembari tersenyum.
Eh? Apa ini?
"Mah, pak..." Juna mencium tangan orang tak kukenal yang ada di hadapanku.
Sebentar... Itu orang tua Juna? Ooohh.. Itu kah mama. Juna? Ya ampun.. Apa ini artinya...
"Nak Febri, maksud kedatangan kami kesini malam ini adalah untuk melamarkan nak Febri atas nama anak kami Juna..."
__ADS_1
Sebuah perasaan hangat membuncah dalam hatiku, Ini begitu manis meskipun membingungkan..
Ahh... Juna... Apa ini rencanamu? Jahat... teganya kamu lakukan ini padaku....!!
Kutatap lelaki itu dengan tatapan tak percaya yang ia balas dengan sebuah senyuman.
Ahhh... Entahlahh..
"Febri Anastasya.." panggilnya, tatapanku melunak dan hatiku mulai meleleh "apakah kamu menerima lamaranku?" Tanyanya.
Eh? Jadi beneran melamar? Ya Tuhaannnnn....
Entah mengapa aku mengangguk tanpa pikir panjang, cincin itu ibuku yang memasangkannya padaku dan pada tangan Juna.
Flashback end
Yaaahh.. itulah malam yang tak bisa kulupakan itu. malam yang kunamai malam Bintang dan Candra. Ternyata ibu ikut andil dalam mengerjaiku dan membuatku takut karena Nayra yang memintanya atas permohonan Juna.
Ternyata selama ini Juna sering hilang atau mengajak temannya saat jalan bersamaku adalah untuk mengkonsep acara malam itu.
Dan ternyata orang-orang berjaket hitam itu adalah teman-teman Juna, mereka bilang dresscode yang cocok untuk rencana malam ini adalah jaket hitam.
Ahh... Junaa... Aku lega...
Kini, ku genggam tangan besarnya itu dengan hangat,
Kuberikan senyumanku untuknya,
Kujadikan dia salah satu yang berharga,
Kusimpan namanya di tahkta hatiku,
Akan kusisipkan ia dalam sederet orang yang ada dalam rencana hidupku hari ini, esok, dan seterusnya.
Dan ini adalah kisahku,
Kisahku bersamanya,
Bersama seorang aktivis kampus,
Yang tak ku kira ia akan ada,
Kutulis semuanya dan kusimpan untuk kuingat kembali satu saat nanti..
This is for you..
Dear you my activist❤
"Kebahagiaan adalah bentuk ketiadaan kesedihan yang diciptakan oleh diri sendiri.. jadi yang mampu membuatmu bahagia adalah dirimu sendiri.."
Salam Hangat Author
The Diary : You Are My Activist
Sumedang, 13 Agustus 2018
Terimakasih sudah membaca cerita ini 😊
__ADS_1
Jangan lupa like, favoritkan, dan komentarnya❤
Tunggu next ceritanya ya😄