The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 39 : The Conscious


__ADS_3

"Rasa sakit itu seperti latihan. Dua kemungkinan hasilnya, entah itu bisa membuatmu menjadi lebih kuat atau malah membuatmu merasa ingin mengakhirinya. Itu semua tergantung pada dirimu."


Suasana ruangan ini terasa begitu dingin, ruangan yang bercat putih dan berbau obat-obatan yang cukup menyeruak di hidungku.


Kusapu pandanganku dan kutatap alat-alat yang berbunyi 'beep' secara teratur dan dingin itu. Pandanganku masih buram, namun aku tahu benar di mana aku berada, Yaa.. Aku di sebuah kamar rumah sakit.


Kubuang napasku, Ya rumah sakit, tempat aku biasa menghabiskan waktuku untuk merenungkan banyak hal ketika tubuhku tak lagi mampu menahan dan mengendalikan gejolak dan emosiku.


Kepalaku rasanya sakit, seperti ada ribuan batu yang menindihnya dan aku hanya bisa meringis. tanganku sulit digerakkan begitupun kakiku, aku hanya bisa menatap sekeliling ruangan dan bernapas meski sedikit tersenggal. Tak terasa air mataku menetes merasakan sakit yang begitu menyengsarakanku.


Sepi, dingin, sendirian, dan aku benci kesunyian ini!


Ahh, shit!


Gejolak dalam dadaku tiba-tiba membuncah, ingatan terakhirku muncul dan membuatku begitu sesak.


Juna,

__ADS_1


Lelakiku,


Kenapa?  Kenapa ini terjadi padaku? Aku begitu memperjuangkanmu, tapi kenapa kau melepaskanku dan membuangku?


"Aaaaaarrrrrggghhhhhhh!!"


Aku menangis semampuku, berteriak sebisaku, mencoba mengeluarkan semua hal yang membuatku sesak.


Memori tentang Juna mulai berkelebatan di pikiranku, bayangan tubuh Juna yang dengan hangat memelukku, tangan juna yang *** lembut tanganku juga mengelus rambutku perlahan, senyum Juna  yang nakal dan menggemaskan, matanya yang tajam dan menggoda, semuanya menguasai ruang imajinasi, ruang ingatanku.


Jahat,


Jahat sekali kamu Juna!


Aku ingin berteriak, aku ingin menangis, aku tak peduli akan apa yang terjadi padaku, aku tak peduli dengan diriku lagi, aku tak peduli pada tubuhku, semuanya sakit tak tertahankan. Aku ingin mati saja.


"Dek?" seseorang memanggilku, "Hikma!" panggilan yang aku mulai terbiasa dan suara yang aku kenal. Aku menoleh dan berhenti menangis meski dengan airmata yang melumuri pipiku.

__ADS_1


Adi?


"hey hey, tenanglah.. " pintanya, tangan besarnya menggenggam tanganku yang kebas dan tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit, beberapa tenaga medis datang menghampiriku, seorang dokter dan dua orang perawat perempuan, dan mereka ikut menenangkanku.


Tapi aku tak bisa mengendalikan diriku, sungguh... ketika aku dalam keadaan seperti ini, semuanya seperti diluar kendaliku, seperti ada yang menguasaiku, mungkin rasa sakitku, sakit hatiku.


Aku tak peduli lagi apa yang akan terjadi besok, atau bahkan lima menit ke depan, yang aku ingin adalah mengeluarkan semua rasa yang mengganjal dalam benakku, semua rasa yang membuncah dalam hatiku. Aku tak peduli bagaimana buruknya wajahku ketika aku menangis dan berteriak,  aku tak peduli betapa tubuhku begitu berjuang kuat melawan nafsuku, aku tak peduli. Sungguh.


 


Seorang dokter menyuntikan sesuatu padaku tepat di tangan kiriku, aku yang ingin mengeluarkan semuanya dengan cara menangis dan berteriak tiba-tiba merasa mengantuk dan otot- ototku mulai terasa melemah.


Aku mulai merasa tenang dan nafasku perlahan mulai pelan, jantungku tak lagi berdebar seperti kuda yang dipacu kencang, pandanganku mulai buram, gelap dan semuanya perlahan hilang.


Seketika itu perasaanku perlahan menghilang, benci, dendam, sakit, sedikit demi sedikit aku mulai tak peduli. Aku tak lagi berpikir dengan baik dan semuanya menenang, aku ingin tidur saja, selamanya.


Aku tak tahu apa yang aku rasakan setelahnya, aku tak tahu apa yang terjadi padaku setelah itu.

__ADS_1


__ADS_2