The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 24 : Bad Feeling


__ADS_3

Aku berjalan menuju seseorang yang tengah sibuk dengan ponselnya di samping tukang mie ayam kesukaanku, ia terlihat sangat serius ketika aku melihatnya dari jauh, Apa ada hal serius saat ini?


Aku belum pernah melihat Juna mengerutkan dahinya dengan sangat kuat selama ini, kuurungkan niat untuk menyapanya, ku pelankan kakiku dalam berjalan, sebuah perasaan tak nyaman menempel di benakku, entahlah..


"Candra.." Sapaku hangat dengan sebuah senyuman.


"Duduk Bii.." ia melepaskan pandangan dari ponselnya, segera ia mematikan layarnya dan menyimpannya di tengah-tengah kami.


"Udah pesan?" Tanyaku, kulambaikan tanganku pada bik Uci -tukang mie ayam- memanggilnya.


Ia hanya menggeleng, ia menatapku dengan mata lelahnya.


"Pesan yang biasa ya neng Febri?" Tanya Bik Uci, ia sudah tahu benar bagaimana selera mie ayam-ku. Ku anggukkan saja pertanyaannya.


"Candra.. pesan apa?" Tanyaku.


"Mie ayam biasa saja bik.." Juna tersenyum pada bik Uci.


"Bentar ya neng Febri, mas Candra.." pamitnya menuju ke gerobak.


Aku tersenyum mendengar kata-kata bik Uci, ia menyebut Juna dengan Candra. Kutatap Juna, ia juga tersenyum, namun senyumannya terlihat begitu hambar. Hatiku tergelitik dan pertanyaan itupun keluar dari lisanku.


"Apa ada masalah, Candra-ku?" Kuelus tangannya lembut, kutatap matanya. Ia hanya berkedip beberapa kali dan tersenyum semu. "Cerita saja.. aku akan dengarkan.." kataku.


"Bintang.." ia menatapku, sebuah garis hitam di bawah matanya tak bisa membohongiku bahwa dia tidak tidur semalam sepulang dari kost ku "aku sepertinya akan mengundurkan diri dari pencalonan menjadi ketua BEM.."


"Kenapa??" Kagetku, aku tahu ia sangat ingin menjadi ketua BEM, dia sangat optimis untuk hal ini. Tapi kenapa ia tiba-tiba ingin menyerah.


"Mungkin kamu pernah dengar, kemarin-kemarin aku bertengkar di depan sekre dengan Hikma?"


Aku mengangguk, aku tahu dari Listi ketika malam itu.

__ADS_1


"Itu membuat banyak omongan, entah itu di Facebook dan Twitter.. masa kampus mulai membully-ku secara tertulis.. dan itu membuat tim suksesku satu persatu mundur.." jelasnya. Aku hanya menatapnya "namun yang membuatku ingin mundur bukan itu.."


"Apa?"


"Aku merasa bukan calon seorang pemimpin yang baik untuk masa kampus disini.. aku merasa tak bisa menjaga Hikma dan membuatnya mengamuk dan bertengkar denganku.."


"Kenapa Hikma marah?" Tanyaku penasaran, namun aku juga peduli pada Candra-ku itu.


"Aku menonaktifkan 'akun Juna' yang ia buat sebagai pembanding, lalu aku mengganti kata sandi akun asli Facebook-ku dan tak ku berikan penggantinya.."


Dhegh!


Berarti benar, itu akun bandingan dengan akun Juna selama ini.


Juna mengetahuinya? Tapi kenapa ia tak marah, padahal akun itu telah ada beberapa tahun yang lalu.


Ahh.. Candra-ku.. kenapa kau begitu baik??


Pesanan sampai dan kami makan terlebih dahulu, ia melahap mie ayamnya dengan semangat.


Ahh apa ia belum makan setelah makan malam bersamaku semalam? Mungkin saking sibuknya, ia sampai lupa makan. Ahh.. Candra-ku.. jagalah dirimu baik-baik.. Aku tak ingin kamu sakit.


Selesai makan siang Juna mengantarku pulang untuk bersiap-siap mensurvey lokasinya.


"Bii.. apapun yang di katakan Hikma tentangku, tolong jangan percaya.." gumamnya, ia duduk di dekat pintu kamar kost ku menungguku berkemas.


"Hmm..baiklah.." jawabku, kumasukkan benda terakhir kedalam tasku, ponsel.


Juna telah berdiri di dekat gerbang ketika aku memakai sepatuku, Juna tersenyum dan aku menghampirinya. Kami menunggu beberapa panitia lainnya di depan sekre BEM hingga semua terkumpul dan bersiap.


Kami semua berangkat pada sore hari, kami sampai di daerah lokasi survey tak lama setelah itu, suasana pedesaan yang masih lekat dengan aroma mistis terasa menyeruak ketika kami mulai memasuki daerah yang terdapat beberapa patung aneh dan rumah-rumah yang masih sangat sederhana. Beberapa warga hanya lewat seperti biasa, namun ada pula yang menatap heran.

__ADS_1


Sekilas seekor burung hitam besar melayang terbang diatas kami, suaranya yang keras dan serak membuatku sedikit merinding dan tak bisa jauh dari Juna, aku berusaha berjalan di dekat Juna, namun ada Adi yang selalu di belakangku dan Hikma yang ada di sampingku, kini aku berada di tengah-tengah Juna dan Hikma.


Beberapa orang berbincang untuk menghindari keheningan dan kebosanan, sedang aku hanya memotret sekitarku sebagai bukti.


"Menurut temen aku, di daerah ini ada lokasi yang cocok untuk pengambilan video nanti.." ungkap Hikma, ia tersenyum padaku dan pada semua orang yang ikut bersama kami.


"Sebelah mana Ma?" Tanya Adi.


"Jalan 10 menit lagi deh kayaknya Kak Adi.." jawab Hikma.


Ia seakan menjadi tour guide bagi kami semua, ia menunjuk beberapa tempat dan menjelaskan tentang tempat itu.


"Kayaknya kamu sering kesini ya, Hikma.." celetuk Azura teman UKM-ku.


"Yaa.. mm.. pernah saja beberapa kali.." jawab Hikma sedikit tertunduk.


Tempat meneyeramkan seperti ini.. Hikma tahu betul tempat seperti ini? Ada yang mengganjal di hatiku.


 


Kami berjalan sekitar lima menit dan Hikma bilang jika disini adalah gerbang tempat itu, tinggal masuk dan berjalan beberapa ratus meter lagi. Sebuah gubuk kecil berdiri di samping papan penunjuk arah, beberapa orang mengeluh dan menyarankan untuk kembali, mereka terlihat sangat takut.


"Kakak, lebih baik kita kembali saja.. kita cari dan survey tempat lain saja.." pinta Sely, anak BEM tingkat satu.


"Iyaa.. sekarang sudah sore dan sebentar lagi mulai senja.." ungkap Azura, ia melihat ponselnya dan mengangkatnya "gak ada sinyal juga nih.." keluhnya.


Aku setuju padanya, lagipula aku takut dan aku tak ingin sampai kemalaman di tempat seperti ini. Beberapa orang memilih untuk menunggu di rumah warga terdekat, namun Hikma tetap bersikukuh untuk meneruskan dengan dalih takkan lama.


"Tinggal sebentar lagi kok, yuk Feb.." Hikma membawaku pergi, aku tak bisa menolaknya karena jujur saja ada sebuah kekuatan aneh yang membuatku tak bisa menolaknya.


Juna berjalan di belakangku, dan Adi berada di samping Hikma membersamaiku.

__ADS_1


Perasaanku tidak enak,  ya Tuhan.. 


__ADS_2