The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 34 : Something Creepy


__ADS_3

"Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi tergila-gila, tapi jika itu membuatmu melakukan hal gila yang mengancam, dan itu keterlaluan. Mungkin itu bukan cinta, itu ambisi dan nafsu yang mengatasnamakan cinta. Kadang kita berbuat bodoh karena cinta, tapi jangan sampai berbuat hal gila dan tak masuk akal"


*Author*


**********


 


Kakiku berjalan menyusuri gang kecil dengan semangat, aku baru saja kembali dari kaffe Nayra dan membeli beberapa makanan ringan untuk nanti jika Juna datang ke kostku. Aku rindu padanya, meski belum 24 jam aku berpisah dengan sosok pengisi hatiku itu. Tapi pertemuan terakhirku rasanya sangat sebentar, aku hanya melihat senyumannya dan mendengar suaranya yang menurutku seksi. Hmm.


Ponselku berdering di dalam tas kecil, kubuka dan kudapati sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal. Dengan ragu aku menerimanya.


"Hallo?" Jantungku terasa berdebar-debar entah mengapa, suara di seberangpun hanya keheningan sambil sesekali ada keributan obrolan manusia. 30 detik sudah panggilan itu terjadi, namun aku masih belum mendengar apapun, dan aku tak berani untuk menanyakan apa yang kini ada di dalam pikiranku. Ada perasaan yang sangat kuat menyeruak di benakku, perasaan dingin dan tak nyaman. Suasana gang yang sepi malah menambah rasa kacau dalam diriku, aku merasa jika aku tengah sendirian dan seseorang mengawasiku entah dari bagian mana.


Ada apa ini? Siapa ini?


"Hallo Bintang.." suara yang terdengar angkuh, suara seorang gadis. Aku masih terdiam, aku takut untuk meresponse ucapan orang dari seberang itu. Bulu kudukku merinding dan tubuhku serasa kaku. Perasaan apa ini? Menakutkan.


"Hihihihii..." gadis itu sepertinya tertawa cekikikan, "hahahaaa... Selamat, kamu pemenangnya.. " katanya.


Pemenang? Pemenang apa? Lotere? Tidak! Aku tak pernah berjudi, ayolaaahhh!!

__ADS_1


"a-a-apa maksudnya?" Kuberanikan untuk bertanya.


"Nghahahahahaa... kamu menang gadis sialan! Nghihihihiii.. Juna milikmu sekarang! " Cekikikannya begitu menyeramkan, aku tahu, dia Hikma.


"Maaf..." aku merasa menyesal karena pernah membuatnya menggila gara-gara dia tahu aku bersama Juna yang ternyata begitu ia cintai.


"Persetan dengan kalian! Nghahahahahahahahaaa" suara di seberang mulai terdengar ricuh bercampur tawa yang mengerikan "tanggunglah dosaku!!! Nghahaahahahaaaaa"


Jantungku semakin berdegup kencang,  Ketakutan akan terjadi sesuatu mulai menyeruak dalam hatiku.


Sayup-sayup terdengar teriakan orang-orang di seberang sana, beberapa terdengar ribut "jangan teh!! Jangan loncat!!"


"HIKMAAAAAA!!!!! Aaaaaaaaaaaaaarrrggh" seorang perempuan menjerit, suaranya samar menghilang digantikan suara angin dan terdengar seperti benda terjatuh dan ponsel yang terbentur keras, tak lama dari itu panggilan terputus.


Suasana gang kecil itu cukup sepi, sehingga aku bisa mendengarkan apa yang terjadi di seberang panggilanku.


Jantungku rasanya terhenti, bulu kudukku terus saja merinding, takut dan begitu gelisah. Tenangkan dirimu Febri.. tenangkan.. Semua akan baik-baik saja, tenang..


 


Aku kembali berjalan untuk pulang, namun jujur saja aku tak bisa tenang dan kejadian barusan sangat menggangguku.

__ADS_1


 


**************


 


Aku menghubungi Nayra dan mencoba mengobrol dengannya, aku menceritakan apa yang terjadi padaku beberapa saat lalu, dan Nayra sepertinya mengiyakan apa yang kuceritakan karena ia masuk klub jurnalistik di kampus, ia mendengar berita bahwa ada kejadian percobaan bunuh diri yang dilakukan seorang gadis mahasiswa di dekat kampus.


"Keadaannya cukup kritis, dia masuk UGD beberapa saat lalu.." pungkas Nayra.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan Nay? Dia menelponku sebelumnya..." aku benar-benar gusar dan takut terseret dalam lingkar kasus ini, meskipun aku tak melakukan apapun pada Hikma. Aku mulai menangis, tertekan.


"Tidak apa-apa Feb, tenangkan dirimu. perlu aku datang ke tempatmu?" tanyanya.


"Jika tidak memberatkanmu.." jawabku sembari terisak.


"Hmm.. baiklah, tunggu ya..." ucapnya sebelum ia mengakhiri panggilannya.


 


Aku beruntung memiliki Nayra sebagai sahabatku, dia peduli padaku dan aku sangat menyayanginya. Dia pernah bilang 'persahabatan adalah sebuah komitmen yang tak pernah tersurat, namun sama kuat dan sakralnya dengan sebuah pernikahan, ketika pernikahan adalah mendapatkan teman hidup secara tersurat, maka  persahabatan adalah mendapatkan teman hidup secara tersirat'.

__ADS_1


Sambil menunggu Nayra, aku mencoba menghubungi Juna, namun sepertinya ponselnya mati karena ketika aku menelponnya hanya jawaban dari operator yang memberitahu bahwa nomornya sedang tidak aktiv.


Tak lama Nayra datang dan dia menemaniku hingga menginap di kost-ku karena Juna belum menghubungiku sama sekali, aku belum bisa tenang.


__ADS_2