The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 33 : Wake Up


__ADS_3

"Karena sejatinya Tuhan memberikan alasan terindahnya dalam segala ujian hidup makhlukNya selalu di waktu yang tepat"


*Author*


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


 


 


Seseorang mengelap butiran air di dahiku dengan handuk dingin, aku berusaha menempatkan diriku dan menyadari tempat yang kini aku diami. Sosok lelaki itu duduk di sampingku, menatapku. Dia yang ternyata menyeka keringatku.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya seorang gadis yang duduk disamping lelaki yang kurindukan itu. Dia adalah Nayra, sahabatku.


Aku masih sangat lemas, tubuhku rasanya sangat pegal dan suaraku terasa berat, kucoba menenangkan diriku meski dengan perasaan yang masih bingung. Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Kapankah ini? Jam berapa sekarang?


Aku hanya bisa menatap mereka sembari mengumpulkan nyawa yang perlahan-lahan mulai kembali. Aku mencoba mengingat hal terakhir yang terjadi padaku, tapi semuanya seakan ditelan, hilang. Juna.. Ya Juna.. Lelaki itu yang kini menatapku. Aku rindu padanya, rindu senyumnya, rindu tawanya, dan rindu semua yang ada di dirinya. "Tidurlah dulu, Bii, kamu pasti sangat lelah," dengan lembut ia mengelus tanganku sembari memijatnya perlahan. Seperti bius, kata-katanya membuatku tenang dan memutuskan untuk melanjutkan tidurku.


********

__ADS_1


Kegelapan seakan menyelimuti pandanganku, meski nafasku sudah sangat tenang dan nyaman. Aroma gurih ayam goreng menyapa hidung lalu pikiranku, hingga tanpa aba-aba perutku merespon dengan bunyi yang bisa kurasakan. "Feb..." panggil seorang perempuan, aku tahu benar suara siapa yang menyebut namaku itu. Kubuka mataku dan benar saja, kudapati ia tengah menyiapkan segelas susu dan semangkuk bubur di sampingku.


Dan di sampingnya seseorang  yang begitu aku cintai, satu-satunya milikku selamanya, ibu. Dia memanggilku dan mengelus tanganku "Nas.. Gimanana perasaannya nak?"


 


"Eh.... ibu, Nay, sedang apa? Jam berapa sekarang? Hari apa?" Tanyaku sembari mencoba bangkit. "Weiss.. santai Feb.. ini jam 9 pagi, hari Sabtu.." jawab Nayra.


"Ada apa ini?" Masih dengan kebingunganku, Nayra memberikanku segelas air putih yang ia siapkan bersama bubur dan susu tadi.


"Kamu pingsan Feb.." jawab Nayra "semalem..."


"Kenapa aku pingsan?" Kagetku, karena aku belum bisa mengingat kejadian terakhir yang kualami itu.


"Lebih baik sepertinya Nay.. makasih.." aku menyimpan gelas air putih itu di samping tempat tidurku.


"Makanlah, kamu pasti sangat lemas..." pinta Nayra, ia mencoba menyuapiku bubur yang wanginya sedari tadi menggoda pemciumanku. Enak.


"Makasih ya Nay..." aku melahap bubur itu, bubur kesukaanku. Kusapu pandanganku pada sudut-sudut kamar kecilku itu.

__ADS_1


"Ibu sengaja kesini untuk menengokmu Nas..  Ibu tiba-tiba rindu dan ingin bertemu denganmu" ibu mengupas buah jeruk "Perasaan ibu tidak enak, subuh tadi ibu telpon kamu, tapi kamu gak angkat, ibu telpon berkali-kali sampai diangkat oleh Nayra. Ibu bertanya keadaan kamu ke Nayra dan Nayra bilang terjadi sesuatu ke kamu Nas, kamu pingsan.  Ibu berangkat langsung dan ketika ibu sampai ternyata ada Nayra dan Juna di kost mu.." jelas ibu.


"Makasih bu, mau nengokin Nanas.." aku tersenyum dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu. "Nanas baik-baik aja kok sekarang"


"Oya Nas..  Juna ternyata ganteng yah..  Hehe" celetuk ibu, ia menyuapiku jeruk yang tadi ia kupas. Aku hanya terkekeh menanggapi ucapannya itu. Nayra juga terlihat tersenyum dan menutupi mulutnya, tertawa kecil.


Oh iya,  Mana Juna?


*****************


Ponselku bergetar, sebuah pesan muncul di layarnya yang berkedip-kedip. Pesan dari Juna. Sambil bersandar di tembok kamar, aku mencoba mengingat apa yang harus aku ingat, apa yang sebenarnya terjadi padaku, karena sungguh aku tak ingat sedikitpun.


Kembali ponselku bergetar, nama Juna masih saja muncul di layarnya. Penasaran, aku membuka pesan itu.


Selamat pagi, Bintang.. Bagaimana perasaanmu saat ini? Semoga sudah baikan yaaa.. maaf tadi subuh aku pulang, tapi ada Nay yang menemanimu kan? Aku sudah membeli bubur kesukaanmu itu, semoga kamu makan sampai habis ya🙂 cepat sehat dan ayo kita bercanda bersama lagi, aku rindu..


Sambil tersipu-sipu aku membaca rentetan kata-kata itu, hingga pesan kedua pun aku baca langsung,


Hari ini ada beberapa acara kampus yang tak bisa ku tinggalkan, jadi hari ini tolong isi saja celengan rindunya untukku🙂 Jaga kesehatan, akan ku kabari segera jika semua acara telah selesai. Aku menyayangimu, Bintang..

__ADS_1


Aku membalasnya dengan senyuman. Yaaa.. baiklah, aku harus kembali bersemangat jika begini caranya. Sepertinya aku tak usah memikirkan hal-hal yang sedikit mengganggu pikiran beberapa saat lalu.


****************


__ADS_2