
"Menjadi kuat adalah pilihan, begitupun dengan mengambil langkah untuk memulai jalan yang baru"
🌺🌺🌺🌺🌺
"Hikma.. Hikma.. Hikma" suara itu, bisikan itu, suara yang lagi dan lagi memanggilku.
Aku mencoba membuka mataku dan menstabilkan nafasku. Ruangan itu masih tetap sama, masih bercat putih, berbau obat-obatan, dingin, dan sunyi. Hanya suara dari mesin yang tak henti-hentinya berbunyi secara teratur dan jam yang berdetak saling berahutan.
Apakah aku masih hidup? suara siapakah tadi? suara yang memanggil-manggil namaku.
Aku lelah, namun jelas kusapu pandanganku ke sekitar ruangan itu, tak ada siapapun,
Suara tadi.. Siapa yang memanggilku?
Kenapa tak ada orang di dalam ruangan ini padahal jelas aku mendengar dia memanggilku? Apa itu Juna? Apakah Juna kembali? Benarkah?
Aku harap dia kembali... Kembali padaku..
Menjadi Junaku lagi,
menjadi Juna yang hangat..
Menjadi Juna yang mampu menghapus semua kegundahanku...
Menjadi Juna yang selalu mampu mengambil hatiku..
Kuharap itu Juna...
Suara pintu terbuka itu membuyarkan pikiranku, Kutemukan dua orang yang begitu aku cintai masuk ke kamar dingin ini.
Mereka adalah mama dan papa, mereka berdua menghampiriku dengan senyuman lega, Mereka menangis lalu mengusap tanganku yang sudah mulai dapat merasakan sentuhan, tangan mama yang hangat, tangan yang selama ini menjagaku, tangan yang penuh kerut sebagai Bukti perjuangannya dalam hidupku, dan tangan kasar yang menjadi gambaran betapa kerasnya kehidupan ini.
Aku memanggilnya dan menangis "Maa...mama, maafin Ima ma, Maaf Karena Ima selalu menyusahkan mama" kataku, sembari menangis tak kuasa menahan airmataku.
__ADS_1
Sosok itu hanya menggelengkan kepala dan tersenyum meski matanya masih saja mengalirkan cairan bening itu "Nggak nak, yang penting sekarang kamu sehat, kamu sembuh, kamu kuat lagi"
Tak ada yang bisa aku ungkapkan, aku hanya mengangguk sembari tetap menangis dan merasakan sakit.
Sebuah rasa muncul dalam benakku, rasa yang membuatku malu karena telah melakukan banyak hal bodoh akhir-akhir ini, aku hanya mampu menatap sosok wanita tegar itu.
 
🌾🌾🌾🌾
 
 
Wanita itu dengan tenang mengupaskan sebuah apel di samping ranjangku, Ia tersenyum menatapku seakan berkata 'Cepatlah sembuh nak.. Mama merindukanmu'
Seseorang mengetuk pintu kamar dan meminta izin untuk masuk, Seseorang yang terakhir aku lihat ketika aku pertama kali sadar, ia memberikanku sebuah senyuman dan membawakan parcel buah di tangannya.
Ia menyapaku dan memberikan senyuman hangatnya "Apa kabar dek? Udah mendingan? gimana perasaanmu sekarang?" tanyanya padaku, aku hanya bisa menatapnya, rasa malu muncul ketika aku mengingat apa yang kulakukan terakhir kali di hadapannya.
"iya mah, gimana sekarang keadaanya mah?"
"lebih baik"Â jawab mamaku, ia tersenyum.
"syukurlah mah.. Ini buat mamah" katanya sembari memberikan bingkisan buah di tangannya.
"lhoo? Bukan buat Ima?"
"buat mamah aja" dia tersenyum. Mamaku hanya tersenyum.
Adi, sosok kadep*ku yang ramah dan bertanggung jawab. (Kadep = Kepala Departemen di BEM).
"cepet sembuh ya dek, kita berjuang lagi di BEM, masih banyak lho proker kita yang belum terealisasi" ucapnya menyemangati "oya, sebentar lagi temen-temen mau dateng kesini"
__ADS_1
Ahh iya, rasanya sudah lama aku meninggalkan hingar bingar dunia BEM semenjak aku sibuk mengurusi caraku membuat Juna tetap bersamaku.
Kubalas ucapannya itu dengan senyuman.
Ibu menyuapiku sepotong apel, lalu dia menyerahkan potongan apel itu pada Adi, "mamah titip ini dulu ya nak, tolong suapi Ima" pintanya, Adi mengangguk dan ibu pergi.
"hmm.. Ima yah?"
Aku hanya tersenyum, Adi menyuapiku potongan apel itu.
"kamu siumannya lama banget sih dek"
"lama? Berapa hari kak?" penasaran ku.
"2 minggu" jawabnya "kamu kalo mau maen di rooftop hati-hati, kan jadinya kepleset"
"eh?" aku berhenti mengunyah dan menatap Adi, dia sepertinya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Baiklah tak apa.
"makasih kak" ucapku.
"cepet sembuh kamu tuh.. Gak mau kan prestasi departemen terbaik dipindah ke departemen lain?" katanya, sebuah senyum yang mulai terbiasa kulihat itu tertaut di bibirnya.
"iya siap pak Kadep" jawabku.
Suasana hening seketika, aku masih sibuk dengan apel dimulutku dan Adi dengan potongan apelnya.
"Maafin Juna ya.."
Dhegh!
"maksudnya kak?" tanyaku, Seketika kepalaku terasa begitu sakit, Seketika ingatan Juna hadir dan seketika itu pula Adi menggenggam tanganku.
"Juna cerita semua padaku, aku tahu" katanya "kamu harus move on Ima"
__ADS_1
Dhegh!
Berani-beraninya dia!