
"Cahaya menunjukkan bahwa gelap selalu menyimpan sesuatu yang tak bisa kulihat. Dan kamu adalah cahaya untukku"
*Febri*
π·π·π·π·π·π·π·
γ
Baiklah.. Kuizinkan dia untuk berbicara.
"Duduklah.." pintaku, aku mencoba melepaskan genggamannya, namun Juna seakan tak ingin melepaskanku. Sembari duduk, Juna menatapku dengan tatapan yang tak kupahami. Rasanya risih namun aku merasa dekat dengan Juna, maksudku dia seperti bukan orang asing untukku.
"Kenapa kak?" Tanyaku, memulai perbincangan setelah beberapa saat kami terpenjara dalam keheningan.
"Dimana gelangnya?" Tanya Juna "gelang yang takkan kamu lepaskan itu..?"
*******
Gelang? Gelang yang mana? Aku punya beberapa gelang, tapi yang mana yang dia maksud?
"Gelang manik-manik cokelat.." jawabnya.
Ahh yaa.. gelang itu! gelang itu selalu tersimpan di dekat cermin, beberapa hari lalu memang tak kupakai karena aku sedang malas memakai itu.
__ADS_1
"Mm.. ada.." jawabku, "mau aku ambilkan?" Tawarku.
Dia mengangguk pelan dengan keringat yang masih bercucuran di dahinya. Sejujurnya aku masih sangat bingung dengan keadaan ini, dan Juna pun tak kunjung memberikan penjelasan.
Aku masuk dan mengambil gelang itu, namun ketika tanganku menggenggam gelang manik-manik itu, Juna telah berada di belakangku dan mengambil sesuatu disamping tanganku yang tengah menggenggam, danΒ dengan cepat keluar dari kamar.
Apa yang dia lakukan..? Apa yang dia ambil? Apa yang membuat dia nekat melakukan itu?
"Eh kakak?" Aku mengejar Juna, namun kepalaku tiba-tiba sakit tak tertahankan, tubuhku rasanya oleng dan tak bisa menahan keseimbanganku. Aku terjatuh dan mengerang tak tahan.
Ingin rasanya aku berteriak, merasakan kesakitan itu dan tubuhku terasa sangat panas. Sebuah bayangan menghampiri ingatanku di tengah rasa sakitku, bayangan Juna, bayangan senyum Juna yang hangat, dan sebuah perasaan muncul.
Apa ini? Apa ini? Kenapa? Juna?
Tubuhku rasanya lemas, aku tak bisa membuka mataku, semuanya terlihat gelap dan perlahan bayangan-bayangan kebersamaanku dengan Juna menghampiriku, aku dan Juna. Yaa aku dan Juna.
Dia adalah.....
kekasihku?
Semuanya gelap, dan aku tak mampu menahan rasa sakit dan panas itu lagi, aku lelah.
γ
__ADS_1
ππππππππππ
Angin semilir itu menerpa wajah dan rambutku, kubuka mataku dan Juna tersenyum padaku sembari menggenggam tanganku lembut.
Juna, dia mengelus rambutku dan memelukku, menyelinapkan kedua tangan besarnya di pundakku. Aku rindu pelukan dan genggaman itu.
Ya aku rindu, rasanya seperti bertemu kembali dengan separuh hatiku yang sempat hilang. Semua terasa sangat mudah, dan beban selama aku tak bertemu dengannya terlepas digantikan dengan kebahagiaan yang membuncah begitu saja dalam dadaku, hangat. Aku rindu kehangatan ini, rindu tangan yang terampil membuatku tenang dan rindu deru nafasnya yang kentara di telingaku. Bagiku pertemuan ini terasa nikmat karena sudah sangat lama aku tak merasakan ini, karena Hikma dan banyak hal yang menghalangi keintiman kita.
Tangan besarnya menyapu pipiku dengan lembut, lengan kekarnya menarikku dan menyatukan tubuh kami perlahan, dan tanpa izinku Juna mengecup pipi dan bibirku perlahan, mengecap rasa yang begitu dirindukan dan saling menikmati sesapan demi sesapan juga lumatan demi lumatan itu.
Juna mengelus kepalaku sembari mengatur nafas kami yang seakan habis hasil kenikmatan tiada tara sesaat lalu.
γ
"Bintang... B A N G U N...." bisiknya.
"Ahn?" dia memanggilku.
"Bintang?" Lagi dia menyebut nama panggilanku.
Kubuka mataku dan kudapati lampu terang dalam pandanganku, tubuhku rasanya pegal dan keringat terasa membasahi bajuku.
"Kak Feb.." panggil seseorang yang diiringi dengan sentuhan di lenganku.
__ADS_1
Ahh dimana aku?
ππππππ