
"Seberapapun disembunyikan, Kebenaran itu akan terungkap, cepat atau lambat! "
*Author*
**************
Dhegh!
Lelaki ini tahu? Darimana? Kenapa dia tahu hal-hal yang bahkan teman dekatku saja tak tahu.
"Habiskan ya Bii.." pintanya, ia menghabiskan mie ayam terakhirnya. Aku berhenti makan dan mulai bertanya padanya.
"Jadi.. ada apa kak Juna kemari?" Tanyaku. "Apa kamu terluka ketika malam kemarin?" Aku menggeleng. "Apa aku menyakitimu ketika aku mengamuk kemarin..?" Tanyanya lagi.
Kembali aku menggeleng, apa maksudnya bertanya seperti itu? "Aku baik-baik saja kak.." jawabku "tolong kalo udah selesai makan kakak boleh pergi, ini udah malem soalnya.." Juna bangkit, dia terlihat murung dan berjalan keluar kamarku pamit
"Bii.. aku pamit yaah.." katanya.
Listi lewat di depan kamarku dan menyapa Juna "ehh.. kak Juna.. kenapa jam segini udah pulang? Atau kalian mau keluar ya?" Aku tak percaya akan apa yang Listi katakan, aku tak mengerti dan hanya menggeleng pada Listi. "Hahaa.. kak Febri-nya lagi sakit dee.. tolong jagain dia yaa.." kata Juna.
__ADS_1
"Ha?" Aku heran.
"Kak Febri sakit apa?" Tanya Listi.
"Aku gak sakit Listi.." jawabku, namun Juna terkekeh dan meminta Listi untuk menjagaku lalu pamit.
********
Ddrrrttt dddrrttt
Ponselku bergetar, pesan dari Juna. "Selamat malam Bintangku.. aku sayang kamu.."
Dhegh!
Aku scroll bagian pesan sebelumnya dan kubaca perlahan-lahan, sebuah kenyataan yang tak dapat kupercaya. Chat itu sangat mesra dan aku melakukannya dengan Juna. Kenapa? Sejak kapan? Bagaimana bisa?
Segera aku menghubungi Nayra dan menanyakan beberapa hal, namun jawaban Nayra juga membuatku tak percaya. Ia memberitahuku bahwa Juna memang kekasihku dan itu sudah berjalan hampir satu tahun ini, ia mengatakan bahwa Hikma adalah orang yang selalu mengancamku. Otakku rasanya terus berputar dan aku pikir aku harus istirahat untuk malam ini, karena aku sudah sangat lelah. Kutatap mie ayam yang ada di mangkuk, belum kuhabiskan, perutku sebenarnya masih lapar dan aku senang dengan mie ayamnya, jadi ku lahap saja mie ayam itu.
*********
Aku membuka mataku dan menyadari tengah berada di ruangan yang berisikan beberapa orang yang tengah mengobrol entah tentang apa, Sora dan Azura sedang sibuk dengan laptop mereka masing-masing. Dan aku, hanya diam dan menyapu pandang di sekitarku, kini aku berada di sekre.
__ADS_1
Dddrttt dddrrtt
Ponselku bergetar dan kulihat layarnya, sebuah pesan masuk dan aku membacanya, pesan dari Juna yang mengingatkanku makan. Kenapa Juna harus mengingatkan hal-hal seperti itu padaku, aku segera menuju ke kantin untuk makan siang karena aku memang sudah sangat lapar. Ku pesan lontong kari dan menunggunya, Adi tiba-tiba duduk di depanku dan ikut memesan bubur.
"Hey Nas.." sapanya, jantungku tiba-tiba berdegup kencang, senyuman Adi membuat hatiku rasanya berbunga-bunga. Aku hanya tersenyum dan menyimpan ponsel yang sedari tadi kumainkan. Tak lama pesananku datang dan aku tinggal menunggu pesanan Adi, "Nunggu ya Nas? Hhee" katanya.
Aku mengangguk dan tersenyum, seseorang menepuk pundakku dan menyapaku. "Hey Bii.." Juna duduk di sampingku dan ikut berbincang, Adi terlihat akrab dengan Juna, mereka sepertinya adalah sahabat. Aku pamit setelah menghabiskan makananku karena aku merasa hanya jadi pendengar mereka berbincang, perbincangan merekapun hanya sebatas perkuliahan dan kegiatan BEM yang tak kupahami.
"Kemana Nas?" Tanya Adi.
"Mau pulang.. hehe" jawabku.
"Ohh.. hati-hati yah.." Adi melambai dan tersenyum padaku.
"Jangan lupa kuncinya bawa lagi ke dalem yaa Bii.. jangan ditinggal di depan pintu.." Juna ikut melambai.
Dhegh!
Lagi, hal itu terjadi lagi..
Kenapa Juna tahu aku suka lupa membawa kunci kamarku dan membiarkannya terpasang di pintu luar? Ahh.. Apakah benar Juna adalah kekasihku?
__ADS_1