
Setelah kejadian itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bersama Juna. Aku menjalin hubungan dengannya seperti biasa lagi, dan kami mulai menikmatinya kembali meski kami tak bertemu untuk waktu yang cukup lama.
Liburan semester telah selesai, Nayra kini kuliah di tempatku dan intensitas pertemuan kami bertambah, kami terkadang pulang bersama dan hang out melepas lelah awal perkuliahan.
Hari ini ia mengajakku ke rumahnya dan kami bercerita banyak tentang masalalu kami masing-masing, ia menceritakan tentang Juna dan Hikma. Entah mengapa aku sangat tertarik jika berbincang mengenai Juna dan Hikma.
"Dulu, Hikma dan Kak Juna adalah pasangan yang adem ayem Feb.. hampir selama 2 tahun gak ada orang ketiga sama sekali, keliatannya bahagia banget.." ujar Nayra.
"Mm.. kalo di lihat sih emang iya, mereka serasi.. Hikma manis dan Juna keren.. mereka terlihat cocok.." kataku membayangkan.
"Iyaa.. tapi dibalik itu semua, ada hal yang janggal dan membuatku penasaran.."
"Hmm?? Apa??" Tanyaku sambil mulai mendekat pada Nayra.
"Ada temanku yang hampir meninggal karena sebuah kecelakaan.." katanya. Aku mengerutkan dahi mencoba memahami alur cerita selanjutnya.
"Hikma.." ucapnya tiba-tiba, aku hanya menatapnya.
"Pelakunya Hikma??" Tanyaku, ia menggeleng.
"Kak Juna.." tatapan Nayra menerawang , ia terlihat sedih.
__ADS_1
"Juna pelakunya?" Kagetku tak percaya, ia hanya menggeleng.
Lalu?? Kemana arah cerita Nayra sebenarnya??
"dia adalah sahabatku, Julia.. dia mengatakan padaku bahwa kak Juna mendekatinya dan akhir-akhir ini mereka dekat, ketika kejadian itu terjadi kak Juna sedang bersama Julia dan mereka bertemu Hikma. Hikma marah dan ia mengancam akan bunuh diri dengan berdiam diri di tengah jalan raya, Julia yang merasa bersalah bermaksud meminta maaf pada Hikma, namun ketika ia hendak minta maaf Hikma mendorongnya dan membiarkan kak Juna berlari untuk menolongnya namun mobil dengan kecepatan tinggi di jalan raya itu tak terkendali hingga beberapa kali mengklakson. Julia berusaha bangkit dan berlari namun kakinya terkilir dan kak Juna segera meraihnya, namun Julia terserempet bersama kak Juna dan terpental hingga beberapa meter .. Julia koma dan kak Juna mengalami luka ringan.." jelasnya, ia menatapku nanar "Hikma pandai bermain drama Feb.. Julia mundur dan meninggalkan Kak Juna, ia tak tahan dengan teror Hikma dan lebih memilih untuk pindah SMA, sebelum ia pergi, ia menceritakan itu padaku.."
Aku hanya menatapnya tak percaya,
Bagaimana bisa Hikma melakukan itu pada Julia? Dia bisa saja melakukan hal yang sama padaku..
"Berhati-hatilah Feb.."
Aku mengangguk, aku mulai merasa insecure dengan keadaan ini.
Sinar mentari menyengat kulitku, bulir demi bulir keringat meluncur indah dari keningku. Aku berjalan di sekitar fakultas FPOK tempat Juna kuliah, aku berencana untuk menengok Candra-ku yang akhir-akhir ini aku rindukan.
Ahh, sebenarnya setiap hari aku memang merindukannya..
Ahh, panas sekali..
__ADS_1
Ku kipas-kipas tanganku yang kecil itu, ahh.. tidak terasa.
Samar-samar aku seperti melihat sosok yang aku kenal, sosok tinggi dengan senyum ceria khas miliknya. Aku merasa aku melihat Adi dari kejauhan, ia menyiramkan air dari botol tempat minumnya ke wajahnya yang memerah kepanasan, ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang tidak terlalu panjang. Ia terlihat begitu menikmati guyuran itu dan meminum air sebagiannya lagi.
Aku menelan ludahku untuk membasahi tenggorokanku yang kering.
Apa ini fatamorgana?? Adi kuliah di sini??
"Bii.." seseorang memanggilku, aku menoleh ke belakang dan mendapati Juna melambai sembari memberikan senyumannya, kubalas senyumannya. Sekelebat ingatanku pada Adi buyar digantikan Juna.
"Hey.." segera kuraih tangannya dan berbisik di telinganya "Hati-hati, jika ada Hikma bagaimana??" Khawatirku.
Juna tersenyum dan mengacak rambutku dengan gemas, aku hanya celingak-celinguk takut Hikma melihat kami.
"Tenang saja.. Hikma hari ini keluar kota urusan keluarga.."
Aku menatap sosok Juna, ada raut bahagia di wajahnya.
Kenapa?
"Ikut ke sekre yuk.." ajaknya.
__ADS_1
What? Is he serious?