
*Ketika ada seseorang yang tertawa bersamamu dan juga menangis untukmu**Pertahankan dia!!*
*Author*
**********
Flashbackš
Hujan turun begitu lebatnya, aku berlari menuju tempat untuk berteduh terdekat dari tempatku kini dan memutuskan untuk berada di halte bus. Petir menggelegar dan kilat seakan membelah langit sore itu, mentari tak mampu menahan awan-awan hitam yang bergumul mesra di sekitaran daerah kampusku, sejauh mata memandang langit bagai berduka dengan airnya yang tumpah ruah.
Aku termenung menunggu hujan reda di halte sendirian, beberapa mobil mengklakson dengan harapan aku adalah penumpang pengisi pundi-pundi rupiahnya, namun sayang aku diam disini karena aku hanya menunggu hujan reda bukan menunggu mobil yang akan mengangkutku menuju tujuan. Ahh.. maafkan aku mang angkot.. (Angkot : Angkutan Kota)
Musik yang kuputar di mp3 tak dapat mengubah suasana hatiku yang sebenarnya takut ini, aku mencoba menaikkan volumenya dan berkonsentrasi pada lagunya. Kilatan yang sekejap tampak bagai cahaya lampu sorot yang kontras dan menyilaukan menghampiri di depan mataku, jantungku rasanya sangat sesak dan aku sungguh takut, kutundukkan pandanganku dan mencoba setenang mungkin.
ć
BLEDARRRR!! BLLEDAAARR!!!
ć
Kakiku bergetar dan jantungku rasanya ingin keluar dari tubuhku, ingin rasanya aku berteriak dan berlari pada siapapun disana untuk mengurangi rasa takutku, tapi tak ada siapapun di halte, hanya ada aku, sendiri.
Petir itu berlalu dan aku mencoba menenangkan diriku sendiri hingga rasanya aku ingin mati saja, aku sangat takut. Bajuku basah kuyup dan rambutku seperti seekor anjing yang kuyu. Ā Aku menggigil dan berusaha menghangatkan diriku dengan menggosok kedua telapak tangan berulang-ulang namun masih terasa dingin.
Dari kejauhan, mataku menangkap seseorang tengah berlari menuju ke tempat ini dengan sebuah payung hitam, ia berhenti tepat di sampingku dan menyimpan payung itu di bawah. Dengan cepat ia mengelap bajunya dengan tangan mencoba mengurangi kadar basah di bajunya.
"Hey Feb.." sapanya, aku menoleh dan mengerenyitkan dahiku merasa heran. Dia berhenti mengelap bajunya dan tersenyum padaku "nunggu bus?" Tanyanya, ia mengacak-acak rambutnya yang basah, mungkin mencoba membuat air yang membasahi rambutnya terjatuh karenanya. Air menetes dari ujung rambut klimisnya pada kemeja cokelatnya yang juga basah, ia masih memperlihatkan senyumannya dan matanya masih tertuju padaku, untuk beberapa detik pandangan kami saling terpaut. Aku memikirkan apakah aku mengenalnya dan mungkin ia berpikir bahwa aku adalah orang asing yang basah.
__ADS_1
Tapi, tadi ia memanggilku 'Feb' .... mungkinkah ia mengenalku??
"Febri Anastasya?" Tanyanya, aku mengangguk spontan "nunggu angkot ya?" Tanyanya sekali lagi.
"Ahh? Mm.. enggak.." jawabku, untuk beberapa saat aku terdiam melihat alis tebal dan kumis tipis dengan senyuman ramah makhluk yang ada di depanku.
Kembali ia tersenyum, "trus disini ngapain? Nunggu hujan reda ya?" Lagi lagi ia bertanya.
Lagi-lagi aku mencoba memaksakan ingatanku, siapa ya laki-laki ganteng ini? Kok aku gak inget si??
Aku mengangguk ramah, angin berhembus membawa air hujan menciprat padaku dan mungkin pada lelaki di sampingku. Aku menggigil dan mencoba memeluk tubuhku sendiri untuk menghangatkannya.
"Baju kamu basah ya Feb..mm..." lelaki itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah jaket, ia memberikannya padaku "pake aja.. daripada nanti kamu sakit" tawarnya, sebuah senyuman lagi-lagi menghiasi bibirnya yang penuh.
Ahh berapa kali ia tersenyum padaku? Apakah ia tak bosan memandangku dengan matanya yang tajam itu?
Dia mencoba memakaikan jaket itu padaku, aku hanya memandangnya tak percaya.
Seketika saja aku menunduk dan merasakan wajahku memanas, aliran darahku serasa naik ke ubun-ubun, jantungku berdebar dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Aku maluuu!! Ahhh... Febri Anastasyaaaa!!
Apa yang laki-laki itu katakan barusan? Apa mungkin telingaku salah mendengar? Lelaki ganteng di sampingku.. Apa dia kesambet jin yaa? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu??
Sebuah tawa renyah menyadarkanku, tawa lelaki itu. Aku membuka tanganku dan berhenti bertindak bodoh dan kekanak-kanakan, lelaki itu memainkan rambutnya yang basah.
"Kenapa sih Feb?" Tanyanya "jangan-jangan lupa sama aku ya?"
__ADS_1
Bravo!! Benar, sepertinya aku memang lupa.
Aku mengangguk mantap, ia terkekeh sambil masih memainkan rambut klimisnya.
"Aku Juna.. yang waktu itu minta bantuan bawain barang pas baksos.." jelasnya.
Aku masih berpikir dan mencoba mengingat-ingat.
"Ya ampun Feb.. kamu bener lupain aku? Padahal baru dua bulan yang lalu.." Tanyanya dengan wajah kaget.
Aku mengangguk, aku sungguh tak ingat Juna saat itu.
"Ya sudah, kita kenalan aja lagi.." katanya, ia menyodorkan tangannya menyebutkan nama "Juna Satria.."
Ku sambut tangannya dengan nama yang ikut terucap "Febri.."
"Anastasya.." ia nyengir "jadi, kita berteman ya mulai sekarang.."
Aku hanya mengangguk, benar-benar hanya mengangguk seperti orang bodoh. mungkin aku terpesona pada senyumannya atau mungkin pada alis tebal dan kumis tipisnya.
Apa ini mimpi? Aku berkenalan dengan lelaki ganteng di bawah hujan lebat dan petir yang menggelegar?
Itulah kali pertama aku dekat dengan Juna, benar kata orang-orang..
"Hujan adalah waktu yang tepat untuk menciptakan kenangan.."
Aku tersenyum "terima kasih untuk jaketnya Juna.."
__ADS_1
Juna hanya mengangguk, kami menikmati hujan dengan berbincang ringan dan mengenal satu sama lain. Ahh... indahnyaa..
Flashback endš