The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 21 : Intimate


__ADS_3

"Semakin aku dekat denganmu,  semakin aku terhanyut dalam imajinasi liarku"


*Juna*


***********


Aku terdiam dan hanya bisa mengikuti gerakan Juna, ia mengecup bibirku bergantian dan menggigitinya perlahan.


Entahlah, aku tak tahu apa yang harus aku pikirkan selain Juna,  Juna,  dan Juna.


Tak Ada yang aku ingin saat ini selain hanya bersama lelaki yang kini tengah mendekapku erat.


Jangan berhenti, jangan..  Aku mohon.


Uughhhhh...


Aku bersumpah, aku ingin menghentikan waktu saat ini, aku ingin berada di posisi ini untuk waktu yang lebih lama.


Deru nafasnya terasa jelas hingga aku merasa itu adalah nafasku. Nafas kita. Lidahnya menari lembut didalam mulutku, ada sebuah rasa unik darinya, rasanya seperti...


Udang....Udang ajaib bumbu cinta? Hmm.. aku suka!


Tangannya mengelus pundakku dan aku sedikit menggelinjang geli, aku selalu seperti ini ketika Juna melakukannya.


Pasti dia sengaja melakukan ini padaku, ahh usil sekali dia.


Juna mempererat pelukannya hingga aku merasa tak ada jarak diantara kami, ia membuatku duduk di lahunannya dan aku ikut memeluknya seperti anak kecil memeluk boneka.


Aku merasa tak berdaya. Aku tak tahu bagaimana jalannya cerita film itu, yang aku tahu Juna begitu hangat malam ini. Ia seakan tahu apa yang ku butuhkan, aku ingin ketenangan dan hiburan, aku ingin melupakan luka yang tadi ditorehkan oleh Hikma.


Aku ingin dia, aku ingin Juna.


Kurasakan keringat mengucuri punggungku, hawa panas itu menjalar di dalam tubuhku. Tangan besarnya menggenggam tanganku, dan jemari panjangnya menautkan jemariku.


Aku takkan melupakan saat saat ini, saat bersama Juna yang begitu intim.

__ADS_1


Perlahan Juna melepaskan bibirku dan kami mengambil nafas bersama-sama, aku baru sadar bahwa aku kehabisan nafas dan membutuhkan oksigen. Kucuri pandang pada wajah Juna yang tersorot lampu kamar yang temaram, ia menutup matanya dan memperlihatkan bulu matanya yang tebal dengan alis yang seperti ulat bulu itu, bibirnya sesikit terbuka kemudian tertutup dan tersenyum, hangat.


Kami terengah-engah bersama, ia melepaskan rengkuhannya, menggantinya dengan sebuah dekapan. Tubuhku menenang.


"Mmm... " Juna menatapku,  sedikit raut wajah bersalah tersirat darinya "maaf Bi.. " ia menggigit ujung bibirnya.


"eh?  Kenapa?" heranku.


"apa aku berlebihan?" tanyanya sambil tak henti menatapku.


Hah? 


Aku menggelengkan kepalaku pelan.


"aku takut kamu merasa tak nyaman dengan apa yang aku lakukan barusan" ucapnya.


Eeehhhhhhh... Dia memikirkanku ternyata. 


"gapapa.." aku tersenyum "makasih" kuelus rambut klimisnya, ia hanya menunduk "makasih yah udah dateng malam ini, aku seneng"


Ia menatapku yang mencoba memberikan senyuman padanya. Dengan senyuman dia memegang kedua bahuku.


Tapi bagaimana aku meninggalkan Hikma? Sedang dia selalu mengawasiku seakan aku adalah binatang buruannya?


Kustabilkan nafasku dan ku buang jauh-jauh Hikma dari pikiranku. Kami duduk kembali dengan tertib, Film yang sempat kami tinggalkan itu pun kembali kami tonton. Dan aku lebih memilih tidur di dekapan Juna.


 


Film selesai dan Juna membangunkanku untuk pamit, jam di kamar menunjuk angka 11 dan itu artinya sudah malam dan beberapa saat lagi ibu kost akan mengunci gerbangnya. Aku bangun dan membiarkan Juna bangkit, ponselku berdering dan Juna mengambilkannya untukku,


"Dari siapa?" Tanyaku.


Ia melihat layar ponselku, mengerutkan keningnya dan air wajahnya tiba-tiba berubah,  "Dari Adi.." jawabnya.


Dhegh!

__ADS_1


 


Mataku yang tadinya mengantuk kini terbuka sempurna, aku menatap Juna yang juga menatapku.


"Selamat tidur, katanya.." sebuah tatapan yang tak kumengerti ia lemparkan padaku. Tak ada senyum juga tak ada delikan dari matanya, matanya terfokus pada layar ponselku.


"Juna?" aku menggenggam tangannya, berharap ia tak berpikir macam-macam tentang Adi.


 


"Sudah malam, aku pulang dulu Bii.." gumamnya, ia terlihat kehilangan semangatnya, ia mengecup keningku pamit, melepaskan genggamanku.


"Hati-hati Juna.." aku mengantarnya hingga keluar kamar dan melihatnya berlalu, tanpa lambaian.


 


Aku tak percaya ini!


Aku masuk kembali ke kamarku dan ku lihat ponsel yang teronggok di samping laptop yang menyala, aku melihatnya, pesan dari Adi..


Gimana janjinya? Semoga berjalan dengan lancar yaa.. selamat tidur Nas..


 


Segera saja aku hapus pesan itu, namun ketika aku hendak menghapus pesan itu sebuah pesan baru masuk, dari Juna


Janjinya berjalan lancar, Selamat tidur Nas..


 


Aku menelan ludahku, pahit.


Ya Tuhan.. Bagaimana ini??


 

__ADS_1


 


🍁*********🍁


__ADS_2