
Dengan manja senja menyapa langit, awan mega berarak lincah dalam pandanganku, angin semilir mengantarkanku pulang dari lelahnya kuliah hari ini.
Alunan lagu Yui berdendang kuat di telingaku menambah indah suasana sore kali ini, tubuhku sudah cukup lelah dan aku ingin segera mandi dan bersiap-siap untuk jalan-jalan malam ini bersama Juna. Suasana jalananpun cukup ramai karena mungkin inilah waktunya untuk sebagian orang kembali pada kehangatan keluarganya.
Seseorang menepuk pundakku pelan, aku menoleh dan mendapati seorang gadis dengan senyuman manis yang mengerikan itu menatapku dengan tatapan lembut yang mematikan
Hikma.
Musik masih mengalun keras di telingaku, Hikma berbicara padaku namun aku tak dapat mendengarnya dengan jelas. Jantungku rasanya ingin berhenti, keringat dingin tiba-tiba muncul melewati punggungku. Aku hanya terdiam mematung menatap gadis itu, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Ia seolah berbisik dengan mata tajamnya, namun aku tak dapat mendengarnya, musik yang ku putar cukup keras. Aku hanya bisa melihat bibirnya yang seolah berkata 'kau- ha-rus -ma-ti'
Aku mengerutkan dahiku dan berusaha untuk berkata-kata "ke na pa?" namun...
PLAAKK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, beberapa helai rambutku ikut terbawa, sshh perih.
Beberapa orang yang lewat hanya menatap kami, aku menatapnya dan sebuah amarah membuncah dalam hatiku.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Apa maksudnya?
Kulepaskan headset yang menempel di telingaku dengan paksa, kuhadapi sosok yang selama ini meresahkan hidupku itu meski dengan hati yang amat takut karena aku dapat merasakan aura negatif yang ia sebarkan di sekitarku. Aku menelan ludahku dan bertanya padanya "apa-apaan ini?" Aku mengelus pipiku yang perih dan panas.
"Kenapa lo ga pernah dengerin gue anjing?" Bisiknya dengan tatapan dinginnya hampir tanpa ekspresi, sekilas jarinya menunjuk ke arah wajahku "sekali lagi lo deketin Juna, lo gakkan pernah ketemu sama orang tua lo selamanya!" Ancamnya dengan suara berbisik.
Cih..
Suara halusnya itu bagai petir yang menyambar jantungku, gadis gila ini akan berurusan denganku jika sesuatu terjadi pada ibuku. "Lakuin kalo kamu berani.." suaraku ikut berbisik dan mataku membulat lebih dari biasanya.
Aku pergi dari hadapannya dengan jantung yang rasanya berhenti beberapa saat lalu dengan hati yang menahan amarah.
Sebuah perasaan sesak menyelubungi diriku, kupasang kembali headset dan musik itu bergema di telingaku. Pipiku masih terasa perih dan panas, butiran bening dari mataku menghujani pipiku. Aku berlari ingin segera sampai di kost ku, dan menangis sejadi-jadinya. Baru ku rasakan aura negatif yang ada di sekitarku saat Hikma ada di sana.
Aura apa itu? Kenapa? Ada apa dengan aura itu?
Sesampainya di kamar ku dapati diriku di depan cermin dengan airmata yang tak berhenti berderai, aku menangis.
Aku menangis karena rasa perih di pipiku dan rasa sesak di dadaku, aku takut Hikma akan benar-benar mencelakaiku dan ibuku.
__ADS_1
Ahh.. Juna, kenapa ibu harus masuk dalam lingkaran setan Hikma? Cukup saja aku yang merasakannya!!
Kubuka ponselku dan segera kutelpon ibu, beberapa nada sambung melewati telingaku, aku mencoba setenang mungkin. Panggilan diterima, suara ibu membuatku bernafas lega, syukurlaah.
"Ibu sedang apa?" Tanyaku, suaraku sedikit tersekat namun aku mencoba untuk biasa.
"Sedang ngobrol sama tetangga Nas.. kenapa nelpon ibu? Ada apa?" Tanyanya.
"Ngga bu.. Nanas kangen ibu aja.." jawabku "ibu jaga diri baik-baik ya.."
"Iya Nas.. ibu disini juga kangen Nanas.. kapan pulang Nas?" Tanyanya.
"Nanti awal bulan ya bu.." jawabku, ku hapus airmataku "Nanas mau mandi dulu ya bu.. baru pulang kuliah.." kataku.
"Iyaa.. yang sehat disana yaa.. lancar segala-galanya.." suara di seberang terdengar serak, ibu menutup telponnya.
Aku terduduk di sudut kamarku, kupeluk lututku dan menangis.
Jika kau berani menyentuh ibuku, aku takkan tinggal diam Hikma!
__ADS_1