
"Menghabiskan waktu denganmu, aku takkan pernah bosan"
*Febri*
************
Jam berdetak detik demi detik, jarum jamnya menunjuk angka tujuh dan aku terdiam di depan pantulan diriku. Mataku sembab dan pipi sebelah kananku masih memerah, aku menyentuhnya dan itu masih terasa perih bahkan bertambah linu.
Apa tamparannya sekeras itu?
Kuoleskan cream pada wajahku dengan sedikit meringis, ku rapikan penampilanku sebelum semuanya selesai. Pipiku masih saja memerah.
Ponselku berdering, panggilan dari Juna.
"Aku udah depan kost kamu nih Bii.." katanya di seberang, aku membuka kamarku dan memunculkan sebagian diriku memastikan kehadiran Juna.
Seorang laki-laki melambai dan tersenyum padaku, "boleh masuk?" Tanyanya.
"Yaa.. masuklah.." jawabku, ia membuka gerbang dan menghampiri kamarku.
"Bii?" Ia menghampiriku, tatapannya berubah ketika ia melihatku murung, matanya tertuju pada diriku, ia mengelus rambutku dan bertanya "kenapa?"
Aku menatapnya dengan mata sembabku, aku memintanya masuk ke kamarku dan aku mulai menangis kembali, aku tak bisa menahannya.
Sebuah dekapan ia berikan padaku, tangan besarnya mengelus pundakku lembut "kenapa Bii?? Cerita ke aku"
Aku menggeleng, aku hanya ingin berada di pelukannya saat ini, aku tidak ingin bercerita apapun dulu.
"Nangisnya jangan keras-keras Bii.." bisiknya di telingaku "tenanglah tenanglah..."
Aku berusaha menenangkan diriku, kueratkan pelukanku pada tubuh Juna. Saat ini yang aku butuhkan adalah sandarannya.
"Mm.. ya udah.. tenang ya.." Juna mengelus rambutku dan nafasku mulai menenang, ia menengadahkan wajahku dan menyeka airmataku "pipimu kenapa Bii? Ini bengkak.." tanyanya.
Aku hanya menggeleng, "gapapa Candra.." aku mencoba tersenyum "maaf ya tiba-tiba seperti ini.."
Ia menggeleng, sebuah senyuman tertaut di bibir penuhnya "sepertinya jalan-jalannya di ganti jadi makan-makan deh.."
__ADS_1
Aku tersenyum "maaf ya.. keadaanku sedang tidak enak.."
"Iya Bintangku.." Juna memainkan anak rambutku dan menautkannya ke daun telingaku.
"Mau makan apa?" Tanyaku.
"Terserah.. apapun yang kamu masak bakal aku makan kok Bii.." katanya.
Aku melepaskan pelukannya dan keluar kamar menuju dapur umum, tadi siang aku memang berencana untuk memasakkan sesuatu untuk Juna. Aku sudah belanja.
Aku mulai memotong beberapa bahan masakan dan memasaknya.
Tak sadar tangannya melingkar di pinggangku, membuatku merinding karena tiupan ringannya di bawah tengkukku.
ia berbisik seduktiv di telingaku "Masak apa Bi??"
"Coba tebak!" Jawabku, aku merasa tubuhku tak bisa bergerak dan jantungku berdebar-debar.
Selalu saja seperti ini.. ahh..
"Mm.. ada sosis, sayuran, paprika, dan... itu apa?" Ia menunjuk pada potongan-potongan kecil yang bercampur dengan yang lain itu "mm itu udang yaa?" Tebaknya.
"Mm... belum ada namanya ya?" Tanyanya "itu rasanya bagaimana?"
Aku mengambil setetes kuah dari masakan itu dan memberikannya pada Juna "bagaimana??" Tanyaku.
"Mm.. namanya Udang ajaib bumbu cinta.." ia terkekeh, ia memberikannya padaku "cobain deh.."
Aku menerima sendok darinya dan mencicipinya, aku tersenyum malu, masakanku terasa aneh. Juna terkekeh, ia mengambil alih wajan dan memasukan beberapa bumbu dapur yang ada, ia kembali mencicipinya dan tersenyum.
"Sekarang cobalah.." ia memberikan sesendok padaku, aku mencicipinya dan benar saja rasanya sedikit lebih baik.
"Hahaa.. terima kasih Junaa.." aku mengambil nasi dari rice cooker dan Juna memindahkan masakannya ke dalam piring.
"Makan di kamar yaa.." pinta Juna.
"Ehh.. kenapa?" Tanyaku, aku menyiapkan beberapa piring dan gelas untuk dibawa.
"Yuk.." ia membawa masakannya menuju kamarku.
__ADS_1
Aku menggeleng "hahaa dasar Candra-ku.." aku membawa yang lainnya ke kamar.
"Nah.. mari makan.." ajakku, nasi telah terhidang dengan sayur dan 'udang ajaib bumbu cinta'
Juna mengangguk, ia menunduk dan aku ikut menunduk, kami berdoa.
"Maaf yaa aku tak pandai memasak.." kataku.
Juna menggeleng "kamu bisa belajar nanti.. kalo perlu nanti aku minta mama untuk mengajarimu memasak..."
"Mmhh.. maluu.." aku melahap masakanku sendiri dengan susah payah.
"Ini enak kok.. lagian.. masakannya terlalu rumit, yang simple saja misalkan cah kangkung, kwetiau atau seafood sederhana yang di tumis atau di goreng.." komentarnya.
Aku mengangguk sembari tersenyum "makasih ya chef Juna, hehee"
Setelah makan Juna meminta untuk menonton film yang ada di laptopku, kami menonton film yang aku download kemarin. Film bergenre horror berjudul "the haunting of connecticut", aku tak tahu ternyata film ini sangat menakutkan dan membuatku merinding, beberapa kali aku menutup wajahku karena takut dan tak mau melihat beberapa adegan di film itu.
"Heyy.." Juna berbisik.
"Hmm?" Aku menoleh padanya.
"takut?"
Aku mengangguk, seketika itu Juna membenamkan kepalaku dalam pelukannya.
"Jangan takut, ada aku.." bisiknya.
Spontan aku merasakan panas yang tak terkira di wajahku. Juna terdengar terkekeh.
"Terpesona yaa?" Celetuknya.
What the..? Aarrggh!
Aku melepaskan pelukannya dan tertawa kecil, kupukul lengan besarnya "rese yah.."
Ia beralih menghadapku dan tangan besarnya merengkuhku,
__ADS_1
Jantungku? Mana jantungku??