The Diary : You Are My Activist

The Diary : You Are My Activist
Episode 27 : Feeling Different


__ADS_3

"Karena ketika hati kecilmu yang paling dalam mulai berbisik mengusik kegundahan jiwa, logikamu akan takluk.."


*Author*


********


 


Perasaan ini..


Dekapan ini..


Deru nafas ini..


Dan elusannya .. berbeda..


Berbeda dengan mimpi yang barusan aku alami..


Yaa.. berbeda..


"Maafkan aku Adi," aku melepaskan pelukanku karena malu, aku berhenti menangis karena beberapa orang menatap kami. Ia menggeleng, "syukurlah kamu baik-baik saja Nass.." ia mengelus rambutku. Kami pulang dan tak jadi menjadikan tempat itu sebagai tempat acara BEM, semua menyetujui keputusan ketua pelaksananya, Juna. Ahh.. iya, Juna tak banyak bicara, hanya Adi yang terlihat menjawab semua pertanyaan yang ditujukan pada ketua pelaksananya.


Semua kembali seperti biasa dan pulang ke tempat masing-masing, aku kembali ke kostku bersama Azura yang mengantarkanku. "Makasih Zura.. maaf merepotkanmu.." kataku setelah sampai di depan kostku.


"Iya kak Feb.. ga masalah, lagipula kak Juna yang memintaku secara pribadi untuk mengantarkanmu.."


Juna? Untuk apa Juna melakukan itu? Ahh.. mungkin tanda kepedulian seorang ketua pelaksana pada anggotanya.


Azura memberikan sebuah benda yang terbungkus sebuah kain warna abu-abu "ini dari kak Hikma, ia menitipkannya untukmu.." Aku menerima benda itu, dan segera masuk ke kamarku setelah Azura hilang dari pandanganku. Kusimpan benda itu diatas meja riasku, aku ingin segera mandi dan istirahat karena tubuhku sudah sangat kotor dan butuh air untuk membersihkannya. Mandi memang sangat efektif untuk mengembalikan moodku yang buruk, aku men-charge ponselku dan menghidupkannya hingga beberapa notifikasi muncul di layarnya.

__ADS_1


Kulihat satu persatu notifikasi itu dan banyak sekali pesan dari Adi dan Juna, kubuka pesan dari Adi terlebih dulu dan aku tersenyum senang melihat perhatian Adi padaku, ia menanyakan keadaanku dan memintaku untuk istirahat. Setelah itu kulihat pesan dari Juna, ia meminta maaf dan ia akan datang ke kost-ku malam ini.


Ada apa Juna mau menemuiku? Juna tahu kost-ku?


Padahal aku ingin Adi yang mengatakan itu, aku sudah rindu sekali padanya meski baru berpisah beberapa jam lalu. Ketika kubalas pesan itu, operatorku memberitahu bahwa kuota paketku sudah habis.


Ahh.. damn! Aku malas untuk pergi ke counter dan memutuskan utuk beristirahat saja, tubuhku sudah sangat lelah.


********


Dddrrrtttt ddddrrrrttt


Dering ponsel menggema di kamar kost-ku, aku mencoba membuka mataku yang masih rapat, aku merasakan tubuhku sangat sakit dan sulit untuk bergerak. Aku lihat layarnya, nama Juna tampak jelas sebagai pemanggilnya. Aku mengerutkan dahiku, Ada apa Juna menelponku? Apa mungkin urusan acara BEM itu?


Dengan ragu aku menerimanya "yaa Hallo?" aku memulai menyapanya.


Apa? Juna ada di depan kost-ku? Mie ayam? Kaffe Nayra? Kenapa ini bisa terjadi?


"Bii..? Hallo? Hallo?" Suara seberang menyadarkanku "aku masuk nih yaa.. aku udah depan kamar kamu.."


Dhegh!


Apa? Kenapa? Kenapa Juna bisa ada disini? Aduuh apa yang harus aku lakukan?


"Bii.. buka pintunya.." katanya. Pintu diketuk, dan itu pasti Juna, aku mencoba bangkit dan membuka pintu dengan rasa takut dan waswas. Kriiiieeeeeeett


"Haii Bii.. sudah makan?" Tanyanya di balik pintu itu, ia tersenyum sangat manis dan hatiku sepertinya meleleh pada sosok lelaki yang ada di hadapanku.


Aaaarrgghh! Tidak Febri! Di hatimu hanya ada Adi, yaa hanya Adi. "Mm.. kak Juna.." aku tersenyum paksa, aku bingung harus melakukan apa di depan lelaki keren itu.

__ADS_1


"Bii? Kamu baik-baik aja kan?" Tanyanya, aku mengangguk pelan. Ia masuk ke kamarku dan segera mengambil mangkuk lalu menuangkan mie ayamnya "makan yuk Bii.." ajaknya.


"Bii?" Aku mengerutkan dahi "Bii itu siapa?" Tanyaku heran.


Ia sontak berdiri dan menghampiriku, ia menatapku heran. Ia mengelus pipiku hangat, ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, ia memiringkan kepalanya dan mendekati wajahku.


Aarrgghh! apa yang akan lelaki keren ini lakukan padaku? Apa ia ingin menciumku? Ada apa ini? Ahh.. Adii!! Tolong akuuu!


Aku menamparnya pelan, "apa yang kakak lakukan??" Kagetku. "Bii.. kamu kenapa?" Tanyanya, ia menatapku namun kini tangannya memegang lenganku.


"Bii? Siapa Bii? Kak Juna mungkin salah orang.." aku mencoba melepaskan tangannya. "Ya Tuhan.."


Ia melepaskan tanganku, ia mundur dan menatapku tak percaya "kamu Bintangku.. Bii.. Bintang.." katanya "aku kekasihmu Bii.. kamu biasa memanggilku Candra.."


"Kenapa harus memanggil itu? Kapan kita menjadi sepasang kekasih?" Bingungku. "Jangan bercanda Febri Anastasya.." katanya terdengar tegas.


"Bercanda apa maksudnya? Aku tak mengerti.. aku tak mengerti apa yang kak Juna katakan.. jangan membuatku bingung.."


"Febri, aku Juna Satria.."


"Yaa.. aku tahu, kakak Juna Satria.. kakak ketua pelaksana acara BEM itu kan?" balasku, Ia menepuk dahinya, ia duduk bersila dan memakan mie ayamnya. Aku hanya terdiam melihatnya makan sendiri, aku ikut duduk. "Makan dulu Bii.." katanya, ia sodorkan semangkuk mie ayam dari kaffe Nayra itu "aku lapar dan ingin makan dulu, nanti aku akan teruskan bicara denganmu.." katanya.


Aku melihat mie ayam itu, aku memang lapar beberapa waktu lalu, dari siang aku memang belum makan. Aku melihat Juna dengan semangat melahap mie ayamnya, ia menatapku dan mempersilahkanku makan.


Aku mengambil mangkuk itu dan menyuapkan mie ke dalam mulutku, ini mie yang sangat enak, aku suka. "Kesukaanmu Bii.. ekstra kecap.." gumamnya dengan mie masih bergelantungan di mulutnya.


Dhegh!


Lelaki ini tahu? Darimana?

__ADS_1


__ADS_2