The Future Queen

The Future Queen
Semua Akan Tahu


__ADS_3

Pagi ini Aldrick sudah bersiap, dirinya sudah berpakaian rapi, parfumnya semerbak memenuhi ruangan.


Dhion yang dari tadi duduk melihat dirinya dengan pandangan menjijikan.


"Kau sungguh mengerikan Aldrick"


Aldrick tidak menghiraukannya, dirinya masih bercermin.


"Aku sudah menunggu sampai susah bernafas mencium parfummu"


Aldrick hanya menatapnya dan kembali bercermin.


"Bagaimana penampilanku Dhion?"


"Sangat tampan"


Aldrick terlihat sangat puas dengan jawaban Dhion. Setelah bersiap, mereka pergi ke lantai dasar.


"Kudanya sudah aku siapkan, apa kau mau berkuda atau kita berjalan kaki?"


"Kuda? berjalan kaki? Tidak.. Tidak, kereta kuda.. Dhion"


"Kereta kuda? Kau bilang kereta kuda hanya untuk wanita dan orang tua, untuk pejuang seperti kita.. Kuda atau berjalan kaki"


"Kau tidak lihat aku sudah wangi, cepat siapkan kereta kudanya"


Dhion pergi ke pengawal yang sedang duduk.


"Siapkan kereta kuda"


"Kereta kuda ratu? Baik, aku akan siapkan bersama pengawal ratu"


"Bukan ratu, tapi pangeran"


"Hah?! Pfffttt hahahahhaahahahahahahahahhahaaaaaa....."


"Sudah kuduga" Dhion menggelengkan kepalanya


"Ehemm...maaf..aku tertawa, akan aku ambilkan kereta kudanya, yang warna apa?putih? Merah? Coklat apa hitam?"


"Hei prajurit, jangan sampai pangeran jadi berkeringat disana.. Kalau sampai berkeringat, kau yang dijadikan kuda olehnya percayalah"


"Baik.....!!"


Prajurit segera pergi mengambil kereta kuda dan kusirnya.


Pletak...pletok...pletak...pletok..


Kereta kuda dan kusirnya datang, mereka pergi menuju istana Timur.


"Hanya demi bertemu Putri itu kau sampai begini Aldrick?" Tanya Dhion


"Kau belum tau rasanya jatuh cinta Dhion"

__ADS_1


"Terserah kau sajalah"


----------------------------------------------------------


Kediaman Roselyn


Tok... Tok... Tok..


Krietttt bunyi pintu gerbang dibukakan


"Halo, Putri Roselyn ada?"


"Masuklah pangeran, putri sedang menulis"


"Kau ingin masuk Dhion?" Tanya Aldrick


"Tidak usah pangeran, aku bersantai diluar saja" Jawab Dhion


Aldrick masuk ke dalam rumah Roselyn dan menemani Roselyn menulis.


"Kau berpakaian rapi dan menggunakan wewangian?" Tanya Roselyn.


"Ah iya... Kau suka wanginya?"


"Hm.... Lumayan, tapi terlalu banyak sepertinya kau gunakan"


"Aku terlalu bersemangat bertemu kau Roselyn jadi hampir kugunakan semua parfumnya dibadanku"


"Hah?!" Roselyn bingung dengan jawaban Aldrick


Rila yang sudah selesai membereskan rumah pergi keluar menemui Dhion.


"Hei...."


"Apa? Kau tidak ikut mereka menulis?"


"Untuk apa? Hei, mengapa pangeran menemani putri menulis. Tumben?"


"Mana aku tau, tapi katanya karena naskah Putri Roselyn tertumpah air minumnya"


"Air minum siapa?"


"Air minum Putri Roselyn lah, air minum siapa lagi!!"


"Siapa yang bilang seperti itu?"


"Putri Roselyn sendiri kemaren yang ngomong sama pangeran.. memangnya ada apa?"


"Hmmm.... Memang putri yang baik"


"Ada apa? Maksudnya?"


"Kau jangan bilang-bilang pangeran ya awas!"

__ADS_1


"Bilang apa?"


Rila mendekati Dhion dan Rila berbicara pelan.


"Apa? Ah tidak mungkin"


"Ya sudah kalau tidak percaya.. aku pergi saja ah mengobrol dengan para dayang di taman"


Rila pergi menuju taman meninggalkan Dhion yang bertanya-tanya


"Masa sih...!?"


Hari sudah menjelang sore.


"Sepertinya sudah cukup menulisnya, lebih lama dari biasanya" Roselyn membereskan alat tulisnya dan kertas naskahnya.


"Yah, lumayan tiga lembar terselesaikan. Mungkin besok atau lusa akan bertambah lagi tulisanmu"


"Ini berkatmu Aldrick, terimakasih ya"


"Ah...tidak usah begitu.. panggil saja aku, akan ku bantu"


"Aku antarkan ini dulu ya"


Roselyn berjalan menuju kamarnya. Setelah dia kembali, gaun panjangnya terinjak dan tubuhnya oleng


"Aaaahhhhhh"


Roselyn berteriak.


"Awas!!!"


Aldrick dengan cepat menangkap Roselyn yang sebentar lagi akan jatuh. Akhirnya Aldrick berhasil menangkapny.


Tangan kiri Aldrick melingkar dipinggang Roselyn, dan tangan kanannya menangkap tangan Roselyn. Mata Aldrick dan Roselyn saling beradu sepersekian detik


"Hmmm...Aldrick maaf, bisa tolong aku berdiri"


"Oh iya maaf...."


Aldrick membantu Roselyn berdiri.


"Kau tidak apa-apa Roselyn?"


"Tidak papa, makasih sudah menolong aku"


"Sama-sama, aku pulang dulu ya"


Roselyn mengantarkan Aldrick menuju depan pintu gerbang rumahnya. Seperti biasa, Aldrick mengecup punggung tangan Roselyn.


----------------------------------------------------------


"Mengapa kau senyum-senyum begitu? Kau aneh sekali hari ini"

__ADS_1


Pertanyaan Dhion tidak dijawab karena Aldrick dari tadi hanya senyum sambil melihat pemandangan diluar.


'Aku ingin cerita tapi melihat kondisinya begini jadi ragu, ku biarkan saja dia kasmaran untuk hari ini' gumam Dhion.


__ADS_2