
Hampir seminggu Roselyn berada di Loque, dirinya berusaha merayu raja agar bisa pergi ke Assiria.
Seberapapun dirinya merayu ayahnya itu, tetap tidak diijinkan. Ratu sudah membujuk raja agar raja melemah, rupanya raja tidak bergeming.
"Ayaaahhh... tolonglah... Setelah menyelesaikan tulisanku, aku akan kembali.." Bujuk Roselyn.
"Tidak Roselyn" Raja masih keras hati.
"Yang Mulia, tidak mudah bagi Roselyn untuk menulis riwayat suatu kerajaan.. Tidak pantas Roselyn menyelesaikan hanya separuh. Itu merupakan penghinaan bagi Raja dan Ratu Assiria" Ratu membantu menjelaskan kepada raja.
"Ratu memang pandai membujuk" Puji Raja.
"Tidak pandai.. Beberapa kali membujuk yang mulia, tapi yang mulia tidak mengijinkan" Suara ratu yang lembut menenangkan.
"Apabila ratu sudah berkata seperti itu, baiklah.." Raja melemah.
Pesona dan kelembutan Ratu Mary yang membuat orang lain luluh dan jatuh cinta kepadanya. Itulah mengapa Raja George memilih Ratu Mary menjadi istrinya. Saat dirinya sedang dilanda kecemasan, sedih, kecewa, marah. Ratu Mary selalu berhasil membujuknya.
"Terimakasih ayah" Roselyn memeluk ayahnya itu dengan perasaan bahagia.
"Tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya ayah"
"Pengawal, panggilkan Abel"
Raja memanggil pengawal penjaga.
"Apa?!!! Abel??? Ayaaaahh, kau bercanda" Wajah Roselyn kusut.
"Aku tidak bercanda, kau ditemani Abel saat berada di Assiria" Ujar raja.
"Ayah serius? Abel menemani Roselyn?" Rosary yang baru saja datang kaget mendengarnya.
"Ayah tidak perlu sampai Abel menemaniku, aku bisa menjaga diriku sendiri" Roselyn merengek, dirinya tidak menyangka akan ada yang menemaninya saat di Assiria nanti.
"Terlalu berlebihan ayah, Abel harus turun tangan" Rosary menyetujui rengekan kakaknya itu.
"Roselyn anakku, kau adalah calon Ratu Loque. Ayah tidak mau ada yang menyakitimu saat berada disana"
"Tidak ada yang akan menyakitiku ayah" Bujuk Roselyn.
Suasana ruangan itu berubah. Wajah Roselyn muram, dirinya bukan tidak menyukai Abel, tetapi untuk apa sampai Abel menemaninya.
"Kau bisa memilih anakku, kau tinggal di Loque atau kau pergi ke Assiria bersama Abel?"
Pertanyaan yang sulit. Tapi jelas Roselyn memilih pergi ke Assiria dengan Abel, dirinya menyetujui pilihan kedua.
Yang Mulia, ada apa mencariku" Seorang wanita muda berlutut dihadapan Raja George.
Wanita muda dengan sorot mata yang tajam berambut pendek berwarna hitam, dengan pakaian yang juga hitam. Terlihat pedang berada di pinggang kirinya.
__ADS_1
Abeltra Manila nama wanita itu, biasa dipanggil Abel. Salah satu panglima perang terbaik di Loque.
Seseorang yang paling ditakuti musuh Loque, strategi perangnya ditakuti kerajaan lain dan juga sangat handal berperang. Ribuan orang mati ditangannya, panglima yang haus darah.
Sungguh terlalu berlebihan apabila raja menyuruh Abel menemani Roselyn.
"Abel, kau menemani Roselyn selama dia berada di Assiria, kupercayakan keselamatan Roselyn ditanganmu" Ujar raja.
"Baik baginda" tanpa tersenyum Abel menjawab perintah Raja.
"Abel sudah setuju menemanimu,. Berangkatlah.. " Senyum terlintas dibibir raja. Dirinya lega, dengan Abel disamping Roselyn, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
------------------------------------------------
Kamar Roselyn
"Hahahahaha.. Diriku tidak menyangka kalau ayah akan menyuruh Abel menemanimu" Rosary tertawa mengingat kejadian tadi.
"Terlalu berlebihan sekali, aku kan hanya menulis bukan berperang"
"Tidak papa, kau harus terbiasa kakakku.. hahahahaha"
Tak henti-hentinya Rosary tertawa mengejek kakaknya itu.
"Ngomong-ngomong, kapan kau akan pergi ke Assiria?"
"Besok mungkin" Jawab Roselyn singkat.
"Semakin lama aku disini, aku akan lupa tulisanku"
"Mengapa kau tertarik dengan Assiria? Kau tertarik dengan negaranya apa tertarik dengan pangerannya?" Tanya Rosary penasaran.
"Pangeran.. pangeran... Jangan mengada-ada Rosary"
"Ya sudah, aku kekamarku dulu ya..." Rosary pergi keluar.
"Tolong panggilkan Abel" ujar Roselyn kepada dayangnya.
Beberapa saat kemudian...
"Nona memanggilku?"
"Abel, kita akan berangkat ke Assiria besok... Bersiap-siaplah" Perintah Roselyn.
"Baik nona" Abel pergi dari kamar Roselyn.
Roselyn tidak terlalu akrab dengan Abel, karena Abel pendiam, tidak suka banyak bicara.
Malam ini Roselyn berkemas, bersiap berangkat besok.
------------------------------------------------------
__ADS_1
Kerajaan Assiria
"Pangeran, ratu memanggilmu"
Seorang pengawal mengantarkan pesan ratu kepada Pangeran Aldrick.
Aldrick bergegas menuju istana, karena saat itu dirinya sedang dilapangan berlatih pedang.
"Aldrick..." Ratu mendekati Aldrick.
"Bagaimana kondisi ayah, ibu"
Ratu Karina hanya mengelus bahu Aldrick.
Aldrick mendekati ayahnya yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Ayah, bagaimana keadaanmu" Tanya Aldrick dengan raut mata yang sedih.
Raja terdiam, dirinya tidak menjawab pertanyaan Aldrick. Dirinya terbaring lemah, matanya tertutup.
"Ibu, apa kata tabib dan dokter?"
"Tidak ada perubahan anakku" Ratu terlihat letih. Sudah beberapa malam dirinya tidak tidur, menemani raja.
"Kau harus tidur ibu, nanti kau sakit"
"Ibu tidak bisa tidur anakku, melihat ayahmu tidak berdaya seperti ini" Air mata ratu menetes, dirinya sedih melihat suaminya terbaring tidak berdaya.
"Sudah ibu, kau harus kuat... Aku akan membunyikan lonceng"
Aldrick berlari menuju menara, terlihat dirinya berbincang dengan penjaga menara.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi lonceng sebanyak 5 kali. Tanda bahwa raja sedang sakit keras.
----------------------------------------------------------------
Kediaman Duke Victor
"Teng..... Teng..... Teng..... Teng..... Teng.... "
"kau dengar lonceng itu Nagie" Duchess Elizha yang saat itu sedang berbincang dengan anaknya Nagie.
"Kau dengar itu anakku? Lima kali. Kau tahu artinya? Raja akan mati. Hahahahahahahaaaa..." Duchess Elizha tertawa senang, karena akhirny eranya akan tiba.
"Raja sakit keras ? " Tanya Nagie.
"Si tua bangka itu sudah sepantasnya mati, sampai berapa lama dia akan menguasai Assiria?" Duchess Elizha menyeruput kopi panasnya.
"Tapi masih ada Ratu Karina" Ujar Nagie
"Tenang saja anakku, setelah kau jadi ratu, dia tidak ada apa-apanya.. Kau lempar saja dia ke laut"
__ADS_1
Begitu jahatnya rencana Duchess Elizha dan Nagie.