
Sudah satu bulan lebih Roselyn berada di Assiria, dirinya berencana untuk kembali ke Loque.
Ya, dirinya merindukan ayah dan ibunya dan juga adik semata wayangnya Rosary.
"Kapan nona akan ke Loque?" Rila membuyarkan lamunan Roselyn.
"Mungkin besok atau lusa" Roselyn melanjutkan menulisnya. Hari ini dirinya berusaha menulis lebih banyak lagi sebelum pulang ke Loque.
--------------------------------------------------
Disuatu ruangan di istana barat. Ratu Karina yang saat itu menggunakan pakaian kerjanya berwarna cokelat dengan jubah kulit berwarna cokelat juga terlihat sedang menunggu seseorang.
Raut wajahnya serius. Rambut panjang hitamnya di sanggul tanpa hiasan apa-apa. Sesekali dirinya berjalan melihat ke jendela.
"Yang mulia, nona Maika sudah tiba" seorang dayang berlutut didepannya.
"Bawa dia masuk" Perintah Ratu.
Ratu tersenyum. Sepertinya dia senang seseorang yang bernama Maika sudah datang.
"Salam Ratuku" Wanita itu meletakkan tangan kanannya di bahu kirinya dan berlutut.
Ratu mempersilahkan wanita itu duduk.
Hanya dengan tatapan mata ratu. semua dayangnya keluar meninggalkan mereka berdua.
"Sudah lama aku tidak ke Assiria"
"Hahaha....Anakku, tepat sekali.. Bagaimana keadaan ibumu?"
"Sangat baik ratuku, ini ada hadiah dari ibuku" Maika mengeluarkan kotak segiempat kecil dari dalam kantongnya dan menyerahkannya kepada Ratu
Ratu mengambil dan membuka kotak itu.
"Wahh... Apa ini? Indah sekali?" Ratu tersenyum melihat hadiah kecilnya.
Sebuah bros bebatuan berbentuk bunga mawar berwarna biru keungu-unguan. Tapi yang unik dari bros ini adalah bunganya terbuat dari batuan yang tidak dibuat dengan tangan.
"Itu adalah bros batu Azurite ratuku. Salah satu batuan terlangka didunia dan sangat berkhasiat untuk memancarkan aura.. Ratu adalah satu-satu orang yang mempunyainya" Maika menjelaskan hadiah yang diberikannya.
"Hadiah yang indah.. terimakasih karena sudah membawakannya" Ujar ratu sambil menerawang brosnya ke langit-langit ruangan.
__ADS_1
"Oh iya ratuku, apa yang membuat kau mengundangku?"
Seketika raut wajah ratu kembali serius. Hadiah tadi dimasukkannya kembali ke kotak.
"Maika, kau tau raja sekarang sudah sakit-sakitan.. Kabar ini sudah menyebar seantaro negeri"
Maika mengangguk paham.
Ratu kembali berbicara.
"Raja ingin menyerahkan posisinya kepada Aldrick... Tetapi Maika..."
"Aku paham maksud anda yang mulia.. Nagie kan?"
"Ya Nagie dan Elizha adalah hambatan terbesar.. Cepat atau lambat bibi dan pamanmu akan terusir"
"Ku dengar Nagie semakin menjadi-jadi karena ada tuan putri di Assiria?" Maika berdiri mengambil apel dari sudut ruangan.
"Betul sekali, mereka berusaha ingin membuat Roselyn pulang ke negaranya"
"Kau tenang saja ratuku, aku akan mengutus seseorang untuk menjadi mata-matamu"
"Bibi senang apabila kau membantu bibi"
Setelah Maika pergi, ratu masih memegangi brosnya dan terkagum-kagum pada hadiah itu.
--------------------------------------------------
Kediaman Roselyn.
"Hayo tebakkkk siapaaa aku?" Sepasang tangan menutupi mata Roselyn.
"Bisakah kau sembunyi dengan benar hahahaa" Roselyn memegang tangan itu dan berbalik. Mata mereka beradu. Jantung Roselyn berdegup kencang begitu juga dengan Aldrick.
'Sadar Roselyn... Sadar... Selirnya ada tiga' terdengar suara dari dalam kepala Roselyn.
Lamunannya buyar, dengan segera Roselyn mundur dan membalik badannya. Tapi dengan cepat Aldrick menarik tangannya dan Roselyn berbalik. Aldrick memeluknya dengan erat.
"Aku menyukaimu Roselyn" Aldrick membelai rambut pirang Roselyn.
Roselyn terdiam.. Pikirannya berkecamuk.. Bingung atau senang. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
Roselyn melepaskan pelukan Aldrick dan mundur beberapa langkah.
Dr
"Ada apa Roselyn? Kau tidak menyukaiku?"
"Ah... Bukan apa-apa... Aku hanya takut terlihat Rila"
Aldrick mendekatinya dan membelai rambutnya.
"Roselyn... Aku tau ada keraguan di hatimu... Tapi aku sudah berjanji padamu.. Saat naik tahta, mereka aku ceraikan" Ujar Aldrick optimis.
Roselyn tersenyum simpul.
Setelah hampir 1 bulan setengah Roselyn berada di Assiria, dirinya sudah terbiasa dengan perlakuan Aldrick padanya. Ada perasaan suka Roselyn kepada Aldrick.Tapi, disatu sisi hatinya menolak Aldrick.
Walaupun Aldrick berjanji akan menjadikannya Ratu dan menceraikan selirnya.
"Mengapa tuan putri melamun?"
Lamunan Roselyn buyar, Rila duduk disebelahnya.
"Tidak apa Rila, biasa saja"
"Hmmm.. Setelah pangeran pulang, tingkah nona aneh" Rila memegang bibirnya.
"Rila, aku ingin bertanya padamu.."
"Hmm.. silahkan nona"
"Misalkan salah satu selir Aldrick jadi ratu, bagaimana nasib selir yang lainnya?"
"Ohhhhh pertanyaan itu" Rila tersenyum
"Tergantung selir mana nona? Kalau Nagie, sepertinya nasib selir lain di ambang perceraian. Tetapi kalau Putri Lesly atau nyonya Almira mungkin mereka akan berbaik hati pada selir raja masa depan"
"Oh.... Terus, kalau Aldrick jadi raja. Dia akan cari selir lain?"
"Sepertinya nona, ah sudah jangan dipikirkan.. ayo kita makan, Rila sudah siapkan bubur jagung dan daging tumis untuk nona"
"Kamu memang terbaik Rila"
__ADS_1
Roselyn beranjak menuju meja makan.