
Malam itu terasa dingin sekali. Setelah Aldrick pulang, yang tersisa adalah kehangatan pelukan dari Aldrick.
Roselyn masih bertanya-tanya dengan tingkah laku Aldrick hari ini.
"Nona, siapa datang?" Tanya Rila sambil membereskan bekas makan mereka tadi.
"Bukan siapa-siapa Rila" jawab Roselyn tersenyum.
"Aku tidur dulu ya Rila"
"Baik nona, selamat tidur"
------------------------------------------------------
Tokk...tokk...tokk...
Pagi ini Aldrick datang bersama pengawalnya Dhion mengunjungi Roselyn.
"Nona, Pangeran Aldrick datang" seru Rila.
"Iyaaaaa... Aku akan keluar sebentar lagiii" Sahut Roselyn.
Seperti biasa Aldrick membantu Roselyn menyelesaikan tulisannya.
"Aldrick ngomong-ngomong aku tidak pernah pergi ke pasar rakyat"
"Kamu tidak pernah kesana?" Tanya Aldrick.
Roselyn mengangguk manja
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu ya"
Aldrick mengelus kepala Roselyn dengan lembut. Roselyn sangat senang karena akhirnya dia akan pergi ke pasar rakyat.
Saat itu ditempat yang berbeda
"Nagie anakku, apa yang terjadi? Ibu mendengarkan kabar dikalangan istana kalau kau mengganggu Roselyn?"
Rupanya Duchess Elizha ibunda Nagie berkunjung kerumahnya. Setelah mendengar kabar yang beredar dikalangan istana.
"Ibuuuuuu, Aldrick membentakku gara-gara wanita itu"
Nagie mengadu kepada ibunya bagaimana perlakuan Aldrick, bagaimana kehidupannya sebagai selir beberapa waktu ini.
"Wanita itu siapa? Apa benar-benar putri kerajaan?"
"Iya betul ibu, putri kerajaan Loque"
"Lesly juga putri kerajaan, kau tak khawatir.. Mengapa sampai Aldrick membelanya?"
"Ibu tidak tau Kerajaan Loque... Assiria hanya sepertiganya saja bu"
"Apa?! Besar sekali, untuk apa seorang putri kerajaan besar pergi ke negara kecil?"
Nagie hanya menggeleng.
"Aldrick tidak pernah menghampirimu?"
"Tidak ibu.."
"Walaupun ada Willy?" Tanya Duchess Elizha lagi.
Nagie mengangguk.
Duchess Elizha berdiri dari tempat duduknya berkeliling seperti mencari ide.
__ADS_1
"Nagie, kau terlalu gegabah.. Untuk apa kau menyiram seorang putri? Ibu paham kekhawatiranmu.. Tapi, bisakah kau bermain cantik agar harga dirimu tidak dipermainkan orang?"
"Ibu membela wanita itu juga?"
"Tidak seperti itu anakku.."
"Apa yang harus aku lakukan ibu? Aldrick sangat-sangat membenciku"
"Nagie anakku, kejadian ini masih memanas... Panjang sekali urusannya apabila kita menghadapinya dengan keegoisan kita"
"Lalu?..."
"Ibu ada ide"
"Ide apa ibu? Tanya Nagie penasaran.
"Kalau kau ikuti kata-kata ibu, kau bisa menguasai Aldrick"
Nagie mengangguk.
"Pertama, biarkan dulu sampai kabar ini mereda. Kedua, jangan pernah kau memaksakan kehendakmu kepada Aldrick. Ketiga, apabila Aldrick sudah menyapamu.. Minta maaflah, kemudian kabari ibu apabila dia menerima permohonan maafmu"
"Iya ibu..."
"Baiklah ibu pulang dulu, ayahmu pasti lama menunggu"
---------------------------------------------------
Kediaman Roselyn
"Roselyn, hm....kau sudah punya kekasih?"
"Hmm? Kekasih? Tidak... Karena aku suka pergi ke negara-negara jadi tidak terpikirkan olehku"
"Apa? Aku tidak mendengarnya"
"Ah..tidak papa"
Aldrick memegang tangan Roselyn
"Roselyn, aku menyukaimu... "
Roselyn hanya terdiam mendengar Aldrick berbicara seperti itu.
"Kau kenapa?"
"Ah tidak papa, aku hanya kaget mendengarnya" Jawab Roselyn sambil menarik tangannya.
"Mungkin terlihat aneh kalau aku berbicara seperti itu, tapi itulah yang aku rasakan"
"Aldrick, kau kan memiliki tiga selir... Apa kau tidak mencintai mereka satupun?"
"Roselyn...kau tau kalau pernikahanku hanya pernikahan politik. Tidak ada yang benar-benar sesuai keinginanku. Aku akan menceraikan mereka semua apabila kamu mw jadi permaisuriku nanti"
Roselyn kembali terdiam mendengar Aldrick berkata seperti itu
Aldrick menarik tangan Roselyn dan memeluknya..
"Ini janjiku.. Setelah aku naik tahta, kau yang akan jadi permaisuriku"
Tok...tok..tok..
Aldrick terkejut, dia melepaskan pelukannya.
"Tunggu, aku bukakan pintu dulu"
__ADS_1
"Maaf putri, seperti ya aku harus bicara pada pangeran"
Ternyata yang mengetok Dhion.
"Ada apa?" Tanya Aldrick
"Menteri Shu dan Menteri Ladon menunggu diruang rapat. Ada hal penting.
"Aku lupa, hari ini ada pertemuan dengan mereka"
Aldrick berpamitan dengan Roselyn dan bergegas pergi ke Istana Barat.
------------------------------------------------------
"Maaf Menteri Shu dan Menteri Ladon..Aku terlambat, ada hal yang harus aku lakukan tadi"
"Pangeran, Panglima Kota Eze melaporkan kalau ada pergerakan pasukan Kerajaan Elburg mencoba menguasai kota Eze"
Menteri Ladon membuka gulungan peta negara Assiria.
"Berapa pasukan Elburg yang datang ke Eze?" Tanya pangeran sambil menggulung lengan bajunya
"Tidak banyak pangeran, menurut mata-mata.. ada 20 orang. Tapi kita tidak tau dibelakangnya karena posisi kota Eze diatas tebing"
" Terlalu riskan untuk berperang di Eze mengingat medan Eze sangat terjal" sambung Menteri Shu
"Apa mata-mata kita tau, apa yang dicari orang Elburg di Eze?" Pangeran mencari sesuatu di peta tersebut.
"Mata-mata belum tahu apa yang diinginkan Elburg" Menteri Ladon membuka gulungan peta lagi.
"Menteri Ladon.. Aku ingin tahu mengapa tanah Eze seperti bukit berbatu?"
"Menurut Ahli, dibawah Eze banyak sekali hasil buminya"
Aldrick mencari sesuatu dalam tumpukan gulungan-gulungan.
"Menteri Ladon dan Menteri Shu, kita harus melindungi Eze, ada hasil bumi langka yang terdapat dibawah Eze... Dhion, panggil Jendral Marcus kemari"
Tak lama kemudian.
"Pangeran memanggil hamba?"
"Jendral Marcus, Elburg akan menyerang Eze"
"Karena posisi Eze yang terjal, pasukan pemanah dan prajurit pedang akan aku tugaskan"
"Aku serahkan semua padamu Marcus"
"Menteri Shu, setelah kita berhasil mengusir pasukan Elburg.. bawa beberapa ahli untuk mengetes hasil bumi Eze"
"Laksanakan pangeran"
"Menteri Ladon, kirimkan mata-mata ke Elburg, apa yang mereka inginkan dari Eze dan berhati-hati"
"Baik pangeran"
Rapat hari ini selesai. Aldrick masih duduk di meja kerjanya
" Ada apa Aldrick?"
"Dhion, Elburg kerajaan besar.. Akan sangat berbahaya bagi kita"
"Mereka belum benar-benar menyerang Aldrick, kita masih bisa ke jalan perundingan dengan mereka" hibur Dhion
" Semoga saja.." jawab Aldrick
__ADS_1