
-The Gangstar King-
.
.
.
"bad idea."
.
.
.
.
“Van kau gila, kau gila, kau gila.” Green bergumam, mengatakan hal yang sama berulang kali. Layaknya sebuah mantra sihir untuk menyadarkan sahabat karibnya.
“Aku tidak gila! Dia saja yang gila karna tiba tiba menyatakan cinta! Aku saja tidak tahu dia siapa!”
Green meraung, berteriak dan memaki. “Astaga Vaniaku yang manis! Dia itu Graha putra permana, anak bungsu Keluarga Permana! Dan dia juga merupakan pemilik bar dimana tempatmu bekerja! Dan kau! BARU SAJA MENOLAKNYA 5 MENIT YANG LALU!” pekiknya seraya mengacak rambutnya kesal.
Sementara itu Vania melotot, merasa syok mendengar fakta yang diberikan oleh sahabat pirangnya. Ia meremas tangannya.
“Jadi lelaki sinting itu tadi adalah bossku?! ASTAGA AKU MAU GILA SAJA!”
Kedua gadis itu berteriak frustasi.
“Ano… Vania bekerja?”
Green menggebrak meja sekaligus mengatur nafasnya “Ya, dia bekerja dibar daerah A. Dan si bodoh ini malah menolak pernyataan cinta bosnya secara kurang ajar. Bahkan dia memaki ‘sinting’ pada Graha!”
Ino menutup mulut dan menaikan alisnya, menatap kedua gadis yang lagi-lagi melakukan aktivitas rutin, adu mulut. Untungnya Ino mulai terbiasa walaupun pada awalnya ia gemetaran dan hampir menangis. “Tapi bukankah murid SS(Skylight School) itu dilarang bekerja?” ujar ino menghentikan pertengkaran kedua gadis itu.
“Jika aku menuruti peraturan, aku pasti akan mati kelaparan.” Vania menghela nafas panjang seraya menyumpalkan roti cokelat kemulut Green “Aku meski menghidupi diriku sendiri, aku bukan anak orang kaya yang bisa menghamburkan uang orang tua setiap harinya,” imbuhnya santai.
__ADS_1
“Maksudmu kau it—"
“Yap, aku yatim piatu.”
Ino menatap vania iba.
“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka dikasihani.”
Ino menundukan kepalanya “Maaf,” sesalnya.
“Mm sebenarnya Vania tidak disebut yatim piatu juga sih. Dia masih punya bibi,” ujar Green seraya mengunyah roti cokelat yang beberapa menit lalu disumpalkan kedalam meulutnya. Dia menyangga dagu, mengabaikan tatapan penasaran yang tercetak diraut wajah Ino dan dengusan khas Vania.
“Lain kali aku ceritakan.” Sambar Vania cepat. Membuat Green menutup mulutnya yang akan terbuka. Perkataan yang tadinya mau ia keluarkan terasa menyangkut ditenggorokan.
“Ah, hei kalian berdua! Barusan aku mendapatkan ide bagus!” seru Green tiba-tiba dengan wajah girang bukan main.
.
.
.
.
Vania menelan ludahnya gugup, jemari lentiknya meremas seragam kerjanya hingga kusut. Sementara itu dibelakang Vania terdapat kedua gadis dengan seragam yang sama. Ino dan Green.
“Ayolah, aku tidak perlu melakukannya. Lagipula dia tidak menyadari aku bekerja disini kan,” ungkap Vania dengan jeritan tertahan. Gadis itu merasa bahwa ia ingin mati saat itu juga.
“Ya untuk saat ini mungkin begitu. Tapi bagaimana dengan kedepannya? Bagaimana kalau dia mengetahuinya? Kau pasti akan dipecat detik itu juga.”
Gadis maniak hijau itu menaruh jari telunjuknya dileher dan menariknya kesamping—gestur menyembelih. Diikuti dengan si gadis imut, Ino.
Rupanya bergaul dengan Green membuat otak gadis imut itu sedikit bergeser.
“Sudahlah, lebih baik kau berjalan kearahnya. Meminta maaf sembari membungkuk sopan. Setelah itu kau pergi dari sana dan semua masalah sialan ini beres!” ungkap Green sembari mendorong sahabat karibnya maju.
Gemerlap lampu menyambutnya kala melewati pintu yang menjadi penghubung ruang pelayan dan ruangan menyebalkan yang enggan ia jelaskan. Vania menutup telinganya saat suara memekan telinga memasuki indera pendengaran. Gadis itu mendecakan lidah saat menatap sosok Dj stylish yang nampak asyik memutarkan lagu dengan suara luar biasa keras.
__ADS_1
“Tsk, inilah kenapa aku membenci bar.”
Vania melangkahkan kaki jenjangnya, berusaha keras melewati orang-orang yang tengah menggerakan badan mereka sesuai dengan nada dan irama. Melewati ini bukan perkara mudah. Vania harus menjaga badannya agar tidak disentuh oleh para laki-laki yang tengah menatapnya penuh nafsu. Matanya terfokus pada remaja yang tengah duduk di sofa biru seraya dikelilingi banyak perempuan dengan pakaian minim.
GREP
Vania tersentak, lengannya dicekal oleh pria tinggi besar.
“Sweety, wanna play with me?” ujar pria tersebut sembari menjilat bibirnya seduktif
Iris onyxnya melebar kala mendapati bahwa pria menjijikan itu merangkulnya dan berniat mencium bibirnya. Sekuat tenaga Vania berontak, menggelengkan kepalanya. Namun tenaga si pria jauh lebih kuat. Ia menutup mata seraya menutup bibirnya.
SRETT
“She is mine. So, don’t touch her with your fucking hands. Bastard.”
Aroma mint yang khas menyapa indra penciumannya. Vania langsung membuka mata dan mendongak. Manik jelaganya mendapati lelaki dengan surai coklat tengah mendekapnya erat. bisa ia lihat, iris hazelnya sukses membuat pria menjijikan tadi terdiam dan izin pergi dari hadapan mereka.
“Sudah kuduga kau akan mencariku. Sayang.”
Refleks Vania mendorongnya dan menatap lelaki itu sengit. Manik jelaganya menelisik penampilan lelaki itu. Kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka, jas hitam yang tersampir disofa serta wajahnya yang terbias gemerlap lampu.
‘Graha’. Gumamnya pelan.
Sedetik kemudian tatapannya menajam kala mendapati Graha satu langkah mendekati dirinya. Bibirnya mengatup dan ia tetap mempertahankan tatapan tajamnya.
“Wow… wow… santai saja say—“
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”
“Ugh, baiklah Vania, jika kau ingin bicara biar kita cari tempat yang cocok. Disini terlalu gaduh. Bagaimana?” ujar Graha.
Vania mengangguk, dan mengikuti langkah kaki lelaki jangkung didepannya.
.
.
__ADS_1
.
TBC