THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 4 5 Boys


__ADS_3

-The Gangstar King-


.


.


.


"5 boys"


.


.


.


BRAK!


“Yo guys! Coba tebak apa yang aku dapatkan.”


Ketukan dengan suara diluar nalar nampak membuat seluruh orang dalam ruangan itu nyaris meloncat kaget, beberapa diantaranya melotot pada lelaki dengan surai coklat sebahu yang sedang tersenyum lebar dengan gadget canggih ditangan kanannya.


“Aku berhasil menggaet kakak kelas yang katanya paling cantik se-angkatan yuhuuu!” perkataan lelaki itu membuat orang diruangan itu mendengus jengkel.


“Nah nah, karna aku menang taruhan. Jadi sekarang beri aku mobil Ferrari kalian!” imbuhnya dengan semangat membara


Selang beberapa menit kemudian 3 buah kunci mobil seharga jutaan dolar telah terkumpul diatas meja. Seisi ruangan menyesal telah ikut taruhan dengan playboy kelas kakap itu. Padahal hasilnya juga pasti akan kalah.

__ADS_1


Damn it.


“What?! kemarin aku sudah mencobanya dan yang kudapat adalah elusan serta anggapan bahwa aku ini anak junior high school yang tersesat!” Salah satu diantara orang diruangan itu nampak menggertakan gigi kesal “Tsk Graha, padahal aku kan lebih kaya darimu.”


Lelaki dengan surai coklat sebahu itu bernama Graha Aditya Permana, ia merupakan playboy super kakap dengan kekayaan melimpah, Ayahnya merupakan CEO perusahaan Permana Corp yang nyaris merajai ekonomi, ibunya merupakan seorang mentri. Sementara ia sendiri merupakan seorang model dan memiliki bepuluh puluh bar dan casino. Sekali lagi ku katakan Graha merupakan playboy kelas kakap, dengan wajah campuran jerman-jepang, ia bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun.


“Ah c’mon V, setidaknya kau harus mempunyai tinggi badan minimal 180! Dengan begitu kamu bisa masuk kategori cowok tampan!” Setelahnya graha tertawa terbahak bahak, membuat seorang remaja laki-laki dengan wajah baby face kesal bukan main. “jika kurang dari itu, kau masuk kategori cowok dibawah standar!” tawanya makin membahana.


“Ck, orang tinggi kelihatan tua tau!” wajah baby facenya mengerut imut.


“Kalau begitu apa aku terlihat tua?” nada datar nan dingin mengaggetkan si empu berwajah imut. Ia tersenyum lebar sebelum akhirnya menjawabnya tanpa ragu.


“Ah kalau boleh jujur sih iya.”


“VIRGO!”


“Pfftt Rangga, tinggimu kan 185. Ah… kau memang tua haha!”


“Shut up!”


Lelaki dengan wajah datar itu bernama Rangga Wijaya Pratama. Jangan heran atau sakit hati akan ucapan maupun tatapan dinginnya, itu merupakan sifat alami yang sudah menjadi ciri khasnya. Bibirnya tipis, alisnya tebal dan matanya tajam. Kulitnya putih, badannya lebih gagah dari usia anak seumurannya—jangan lupakan abs yang merupakan hasil gym rutin itu. Tak heran jika ia masuk jajaran lelaki ‘most wanted’ dinegaranya. Ia juga merupakan pewaris tunggal perusahaan yang merupakan salah satu dari tiga perusahaan terkenal di dunia. Ah sudahlah, jika kau memaksaku untuk menuliskan semua kelebihannya, aku yakin ini tidak akan selesai sampai last bab.


“1… 2… 3… eh? kurang satu!”


semua orang dalam ruangan itu mendengus jengkel.


“Berhentilah bersikap seperti orang melarat.” lelaki dengan kulit putih pucat menatap Graha dengan tatapan dingin. Bibirnya merah merona, onyxnya makin menajam seiring bertambahnya kekesalannnya.

__ADS_1


Virgo mengangguk setuju dengan ucapan yang dilontarkan Leon. “Padahal kau bisa 15 ferrari jika kau mau.” Ungkapnya sembari bermain dengan robot anjingnya.


“Ah ayolah Leon! Bukan soal melarat, hanya saja ini soal taruhan.”


Leon namanya. Ya, hanya Leon. Lelaki itu enggan mengatakan marganya. Bahkan sahabat-sahabatnyapun tidak pernah tahu. Tidak banyak yang mampu dijelaskan dari pria misterius dengan manik lebih kelam dari malam. Ia memiliki wajah bak Adonis dengan sorot mata tajam, alisnya tebal, bibirnya tipis dan merona alami. Menurut pengakuan Graha, jika Leon di beri make up maka ia akan jauh lebih cantik dari gadis tulen. Dan semua orang menyetujuinya. Adapun sepintas leon mirip sekali dengan Rangga. Namun pada kenyataannya ia sangat jauh berbeda dengan Rangga. Ia merupakan lelaki yang otaknya mampu menyaingi Virgo, hal itu membuatnya mampu mengelola perusahaannya sedari umur 15 tahun. Berkat ke jeniusannya itu Leon membawa perusahaannya menjadi perusahaan yang begitu besar hingga bisa masuk dalam jajaran perusahaan terkemuka di dunia. Berbeda dengan Rangga yang sudah mendapatkan kekayaan sejak usia dini. Bahkan Graha mengaku, Rangga hampir tidak pernah mengalami kesusahan dalam hidupnya—bahkan dalam urusan wanita.


“Oh ya ngomong ngomong—” suara virgo mengambang, remaja pendek itu menjeda kalimatnya. Membuat seluruh atensi terpusat kepadanya “Gadis podium itu cantik ya.”


Graha nampak melongo. Ia begitu heran dan kaget, sejurus kemudian ia mengucek mata dan mencubit dirinya demi membedakan kenyataan dan mimpi. Bagaimana mungkin seorang virgo yang jelas jelas mengalami fhobia langka bisa mengucapkan hal se-aneh itu?


“V! Serius ini kamu? Bukan hantu, dedemit atau semacamnya, kan?” suara histeris Grahalah yang terdengar pertama kali


“Yah, aku setuju.” ucapan Rangga dibalas oleh anggukan tanda setuju dari Leon. “Gadis itu memang cantik” imbuhnya setelah disibukan dengan ponsel pintar digenggamnnya.


Rahang graha nampak seperti akan terjatuh dari tempatnya. Tunggu dulu, ini benar-benar mereka bukan sih?!


“Kalian kenapa sih?!”


Mungkin setelah ini Graha akan mengguyur kepala ketiga sahabatnya dengan bunga 7 rupa dan membacakan doa-doa. Sepertinya santet dari pesaing bisnis ketiganya ini berhasil membuat mereka semua gila.


.


.


.


Tbc~

__ADS_1


__ADS_2