
-The Gangstar King-
.
.
.
"Senior Raihan"
.
.
.
.
"Astaga sahabatku BakaVan! I Miss you, my beloved Athii!"
"Green no froogy?!"
Dalam larinya yang dramatis demi mencapai sahabat sialannya. Tiba-tiba Vania menubruk seseorang berbadan besar dan kekar, ia pun tersadar dan refleks menoleh ke kanan kiri. Tunggu, kenapa banyak sekali orang orang berjas hitam dengan wajah tak bersahabat?!
Green tersenyum lebar.
"Tadi aku bilang ke papa kalau aku tersesat, jadi papa kirim aku beberapa orang buat nganter ke kelas." ujarnya dengan kekehan khas sembari menjawab banyak pertanyaan dari Ben. Seketaris pribadinya yang kini menghadiri rapat di Kanada untuk menggantikan dirinya.
'Dia bilang apa? Beberapa bodyguard? Apa Green tidak lulus materi hitungan? Bodyguard puluhan ini dia bilang beberapa?!' batin Vania meraung raung menyadari ke missqueenanya "Hah inilah kenapa aku benci orang kaya," gumamnya pelan
"WAHHHHH SENIOR RAIHAN?!"
Astaga, jeritan Green persis di telinga Vania. Nyaris saja gadis bersurai hitam legam itu tuli permanen jika tidak cepat cepat menjauh dari suara dengan frekuensi 2000000+ Hz.
"Van! kok kamu bisa lebih hoki dari aku?! Curang, kamu selalu satu langkah didepanku! bagaimana mungkin kamu bisa diantar ke kelas oleh salah satu 'most wanted' disekolah ini!"
"Oh itu berkat kamu yang meninggalkanku sendirian."
Vania bersidekap, memalingkan wajahnya dari Green, membuat gadis imut itu memanyunkan bibirnya dan menempel di punggung Vania, Raihan tersenyum tipis.
"Ah, hehe maafkan aku."
"Hm."
Green mencolek pinggang jahil. Hal itu sukses membuat Vania mendelik dengan tatapan tajam. Yang tenyunya dibalas dengan tawa dan sikap luar biasa santuy.
"Ekhem, jadi namamu siapa?"
"Green! Aah panggil saja Tata!"
Vania cengo, namanya itu Green Al. Darimana coba panggilan 'Tata' itu diambil? Dasar sinting.
"Kalau dia?' tanyanya lagi sembari menatap lembut Vania.
"Ah, Ini Vania! Panggil dia Athii!"
"Hei! Sudah kubilang! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!"
Green tersenyum lebar "memangnya kenapa?nama panggilan itu kan imut buatmu," ujarnya tanpa beban.
"Iya, aku setuju dengan Tata."
__ADS_1
Senyum lebar Green luntur seketika. "senior salah makan ya? Padahal itu nama panggilan ejekan. Kok imut?" ujarnya sembari menatap Raihan heran.
Krik...krik...
Raihan tersenyum tipis, mata teduhnya beralih menatap gadis imut yang kini bersidekap sambil mengerucutkan bibit pinknya-ngambek "Ah, mm... tunggu kenapa kamu dipanggil Tata?" ujar Raihan tertawa kecil-mengalihkan topik pembicaraan.
"Karna kuda hijau ini terlalu bebal untuk sekedar membuat nama panggilan." Vania menyerobot dialog yang harusnya menjadi bagian Green.
"Ulangi sekali lagi ucapanmu itu primata!" Green melotot, wajahnya memerah sempurna. Lantas ia menoleh ke Raihan, menarik dasi lelaki itu dan menatapnya lekat.
"Senior tahu kenapa Vania dipanggil Athii!?"
"Mm kenapa?"
"Karena vAnia anak syaTHon!"
Raihan menaikan alisnya heran "kalau begitu jadinya 'ATH' dong? Huruf 'I' nya itu darimana?"
"Idiot sInting." Green tersenyum lebar tanpa rasa bersalah
"SIALANNN!!!!!"
Raihan tertawa, matanya menyipit dan aura charming langsung menguar dari tubuhnya. Astaga, jika mereka berdua tidak sigap memakai kacamata hitam, pasti mereka sudah pingsan dengan hidung mengeluarkan banyak darah.
"Kalian itu akrab sekali ya?" ujarnya sambil membenarkan dasi yang ditarik Green beberapa menit yang lalu.
Ah, ini lah yang dinamakan seram jantung.
"Tidak!" sepasang sahabat itu berseru bersamaan, saling membelakangi satu sama lain dan menggerutu. Membuat Raihan tertawa lagi karenanya.
"r u fucking kidding me?! Siapa juga yang mau temenan sama prim-"
"seru ya ngobrol gitu, anak muda mah bebas," ujarnya dengan sindiran keras yang ketara
Lah ibu ngapain nguping gitu?pake bawa rotan segala.
"Ah Mrs Asti, ini saya mengantarkan anak kelas 10 yang tersesat."
Seketika nada bicara Mrs Asti langsung berubah. "Astaga, Raihan. Baik sekali kamu, ibu beruntung sekali yaa bisa mengajar disini dan bertemu anak sebaik kamu" ungkapnya sembari berkedip genit.
Vania dan Green hampir muntah mendengarnya.
"Dasar tante girang." Bisikan Green mendapat anggukan setuju dari sahabat sehidup-sematinya.
"Memang dasar BuAs," Imbuhnya lagi dengan wajah memerah menahan tawa.
"Ayo kalian berdua masuk, untung pelajaran belum dimulai karna masih perkenalan... ish dasar anak-anak nakal," Ungkap Guru bahasa itu dengan ujung kalimat yang dipelankan.
Manik legam Vania melirik Raihan yang ternyata sedang memandanginya juga.
"Thanks." Vania langsung memasuki kelasnya usai mengatakan sepatah kata yang cukup membuat Raihan menyunggingkan senyum tipis.
Green mengerlingkan manik emeraldnya "Dadah senior," ujarnya sembari mengekor dibelakang Vania.
Suasana dalam kelas dengan dinding bercat putih itu nampak begitu berisik . Hal itu dikarenakan anggota kelas tersebut sibuk akan kegiataannya masing masing, yap bisa kita lihat disana ada--
"Virgooo!! Majuuu 45 NE NEEEEEEEE!!"
"2 squad knock! Bagi minum!"
"V, posisi!"
__ADS_1
"Arah jam 2, 14 meter dari posisi kita ada 3 orang. Arah jam 5 dan 7 ada sekitar 4 orang. Arah jam 10 ada 1 orang, 15 meter arah jam 12 ada 4 orang."
"Perkiraan hasil V?!"
"jika melihat ke tol*lanmu dan kejeniusanku dalam memainkan game. Menghitung waktu, jumlah musuh, posisi, persediaan bahan healing, jarak antara kita dengan musuh serta kapasitas peluru kita berdua. Mungkin kita mampu mengalahkan pemain dalam waktu 47 detik, namun karena kamu akan knock karena kehabisan peluru. Mm... dan juga jika kulihat waktu perpindahan, letak serta pola zona mungkin zona akan menyusut dan berpindah 126 meter kearah selatan hal itu membuat musuh dari arah utara akan mendekati posisi kita. kesimpulannya kita mampu mengalahkan musuh dalam waktu 1 menit 7 detik-termasuk healing kau yang nanti knock. Tetapi musuh dari arah utara juga patut dipertimbangkan."
Kumpulan orang dengan bentuk melingkar itu kompak cengo, ternganga dengan kalkulator berjalan dihadapan mereka.
"Auto chicken nih."
--yang ngegame.
"Batalkan semua agenda untuk besok karena aku akan terbang ke Indonesia untuk menghadiri rapat penting."
"Hallo--ah Rangga, perusahaan dari Skotlandia menawarkan kerja sama dengan hadiah yang menurutku cukup besar."
"Sebutkan hadiahnya."
"Pertambangan emas, tanah di wilayah bagian barat dan 1 buah jam rolex khusus untuk anda."
"Tolak."
--Yang berbisnis.
"Kamu tau gak kalau si dia itu bla bla bla"
"Sok banget ya! Cewek yang naik ke podium itu! Cih aku benci dia!"
"Kudengar dia anak beasiswa. Pantas saja kelakuannya kurang ajar."
--bahkan yang ngeghibah pun ada.
Klik
Ting!
Pintu dengan teknologi canggih yang tentu saja buatan si cebol Virgo nampak terbuka, setelahnya masuklah Mrs. Asti dengan kedua gadis yang mengekor dibelakangnya bak anak itik, Hal itu membuat kelas yang semulanya berisik menjadi tenang.
"Baiklah disini ada teman kalian yang akan memeperkenalkan diri." Guru sastra itu melirik, memberi kode kepada kedua gadis itu untuk segera memperkenalkan diri.
Green maju selangkah, dengan riang ia memperkenalkan diri. Senyum manisnya membuat kadar keimutannya menjadi 2 kali lipat "Halo, namaku Green Al, salam kenal dan mohon bantuannya ya."
'imut' adalah kata yang terlintas di fikiran penghuni kelas kala melihat gadis mungil itu.
Setelah Green memperkenalkan diri, kini saatnya giliran Vania untuk melakukan hal yang menurutnya begitu merepotkan. Kaki jenjangnya membawanya maju selangkah, dibahunya tersampir jas hitam khas SHS. Manik jelaganya mengamati seisi kelas. Tanpa sengaja, matanya bersiborok dengan manik yang memiliki warna yang sama dengannya. Ya, pemilik manik kelam itu adalah orang yang ditemuinya tadi pagi. Segera, ia mengalihkan pandangan.
"Vania Anathasya," ujarnya singkat tanpa minat
Seluruh kelas langsung heboh begitu Vania memperkenalkan diri.
"Oh! Kamu pasti gadis yang tadi pagi maju ke podium karna terlambat ya!?"
Ingatkan Vania untuk meninju wajah anak-anak manja itu nanti.
.
.
.
Tbc~
__ADS_1