THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 23 cream


__ADS_3

-The Gangstar King-


.


.


.


"Cream"


Kicauan burung membangunkan tidur Vania, dengan sigap dia bangkit dari ranjang keras yang semalaman ini telah menjadi alas tidurnya. Hal pertama yang Vania jumpai kala membuka pintu kamar adalah dua sosok manusia berlawanan jenis tengah melakukan sesuatu yang disebut bereproduksi dalam pelajaran biologi, adapun bagi Vania itu lebih mirip cara hewan memuaskan hasrat.


Ingin rasanya Vania menulikan pendengan supaya suara-suara laknat itu tidak memasuki gendang telinga. Demi tuhan, mereka melakukan hal tidak senonoh diatas sofa keluarga—tempat yang harus Vania lewati untuk mencapai kamar mandi.


Persetan! Jangan pedulikan itu, masuk aja ke sana, mandi, kemudian berangkat sekolah!


Beruntungnya Vania berhasil melakukan hal diatas tanpa diganggu. Kini dirinya bisa tenang memakai seragam dan sedikit merias diri—lebih tepatnya menyamarkan bekas tamparan yang ada.


CKLEK


“Ternyata kau nakal ya, tapi itu tato yang bagus, nak.”


Cepat-cepat Vania memakai atasan seragam, dibibir pintu telah berdiri sosok pria dengan seringaian menjijikan, sedari tadi matanya tak lepas dari tubuh Vania. Itu memuakan, usai melakukan hal tidak senonoh bersama wanita tua itu dia malah mendatangi kamar Vania saat si pemilik kamar sedang memakai bajunya. Menjijikan, benar-benar pria menjijikan.


“Bibimu tidak pernah bilang padaku kalau dia memiliki keponakan yang menggoda sepertimu.”


Pupil mata Vania membesar kala pria itu mendekat seraya melepas jas yang ia kenakan. Dilanjutkan dengan mencengkram lengan Vania. Pria itu menjilat bibirnya seduktif, sorot matanya bertumpu pada dada Vania. Ingin sekali dia menyentuh dada menggoda itu.


“Wah, iris matamu cantik sekali.”

__ADS_1


Seakan tersadar oleh sesuatu, Vania meronta dan mendorong pria itu sekuat mungkin. Sayangnya perbedaan antara kekuatan laki-laki dan perempuan membuatnya kewalahan. Sementara itu pria didepannya makin gencar menggerayangi tubuhnya.


“Jangan sentuh ****** cilik itu sayang, dia ini belum matang. Kau tidak akan puas.”


Gerakan pria itu terhenti, dengan kasar dia menghempaskan badan Vania keranjang hingga dahinya terantuk meja. lalu pria menjijikan itu berjalan keluar kamar. Menemui si titan tua itu dan melanjutkan kegiatan panas mereka.


Vania mendecih, buru-buru dia mengambil peralatan sekolahnya dan kotak kecil diatas meja. Dirinya benar-benar tidak tahan berada dirumah ini. Semuanya membuat Vania muak, dia berdoa dalam hati agar dapat terbebas dari neraka ini.


Sementara itu diwaktu yang sama. Pada sebuah jalanan dengan kendaraan yang tak pernah berhenti hilir mudik. Ada seorang gadis manis dengan perawakan tinggi dan berwajah campuran asia-eropa nampak sedang berjalan kaki dengan santai. Ditangan kanannya terdapar sebuah roti yang telah tergigit sebagian. Sementara itu matanya terfokus pada baris demi baris yang terdapat pada buku bacaan yang berada di tangan kirinya.


Tragedy


Adalah judul buku yang tengah ia baca, bercerita tentang seorang remaja perempuan yang menuai serangkaian tragedi yang merubah kehidupannya. Benar-benar buku yang kelam yang didominasi dengan adegan pembunuhan, pertempuran, dan kekerasan. Walau tidak dapat dipungkiri kisah cinta didalamnya tak kalah dengan cerita romansa.


“Ahh ... aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya kisah ini akan terjadi pada dunia nyata.” Gadis itu menghela nafas dan menaruh kembali buku favoritnya kedalam tas sekolahnya. Kemudian ia mendongak dan menatap hamparan indah hasil karya tuhan,walau tak dapat dipungkiri bahwa kabut hitam dari cerobong besi membuat lukisan indah itu nyaris kehilangan warna. Hei! Melihat hamparan kapas itu mengingatkan dirinya akan sahabat kecilnya—Vania.


Semalaman Vania mengabaikan panggilan telfon dari dirinya. Bisa ditebak bahwa dia sedang berada dirumah bibinya, sebab Vania tidak ada di apartemen yang ia dapatkan setelah menenangkan taruhan. Dia juga tidak ada di mansion Graha.


“Tapi sepertinya kamu hendak menyangkal fakta tentang betapa paniknya kau saat Vania hilang di bar, hm?”


Green tersentak dan menolehkan kepala pirangnya. Uwah, senior Raihan! Apa sekarang dia beralih profesi jadi cenayang? Curang sekali bisa membaca fikiran Green.


“Tidak kok ish! Siapa juga yang panik!” gerutu Green dengan wajah memerah


Raihan terkekeh, “Terus yang menangis sampai membuat Ino kewalahan siapa dong?”


“Senior!!!”


Pipi Green yang menggembung sebal membuat Raihan tertawa kecil, “Kenapa jalan kaki? Mobilmu kemana?” tanyanya dengan tatapan penuh minat, Green ini benar-benar menggemaskan.

__ADS_1


Green mengendikan bahu dan memalingkan muka, cepat-cepat ia menghabiskan roti krim vanilla favoritnya itu. Sekaligus mempercepat langkah kakinya, berharap Raihan akan tertinggal, walau itu percuma saja, kaki panjangnya dan langkah lebarnya membuat dia bisa mengejar Green hanya dengan beberapa langkah saja.


“Mobilku ada dirumah kok,” tutur Green, manik safirnya mengerling ke samping. “Senior sendiri kenapa jalan kaki?”


Raihan mengulas senyum simpul, “Itu karena aku melihat segerombolan lelaki sedang menatap lekat seorang gadis—”


“—jadi aku disini untuk menjaganya.”


Refleks Green mengedarkan pandangannya, tak jauh dari mereka ada segerombolan lelaki yang sedang merokok. Oke berarti omongan Senior Raihan benar, tapi Green tidak menemukan gadis yang dimaksud. Selain mereka tidak ada orang lain yang juga sedang berjalan kaki. Kecuali dua orang dibelakang mereka, itupun bukan juga seorang gadis.


“Gadis yang kumaksud itu sedang memegang roti.” Green menoleh, Senior Raihan tengah menatapnya lembut. “ Dengan krim disudut bibirnya.”


Disentuhnya pipi putih Green, mengelap krim roti disudut bibir anak bungsu keluarga Al itu. serta merta membuat Green merona hingga ketelinga karenanya. Tak cukup disitu, Green nyaris memekik kaget adalah saat Senior Raihan menjilat ibu jarinya—dimana disitu terdapat krim yang beberapa detik lalu berada disudut bibir Green.


“Manis,” ujar Senior Raihan tanpa beban. “Green, bukankah itu sahabatmu?”


Tak jauh dari mereka Vania tengah berjalan seraya memainkan gedget. Telinganya disumpal earphone dan penampilannya sama seperti saat pertama kali dia masuk Skylight, berantakan dengan dasi yang tak terpakai dengan benar dan jas sekolah tersampir dibahu kecilnya.


“Vaniaaa!” seruan Green diabaikan, gadis itu malah memasuki gerbang SHS tanpa menyadari keberadaan Green dan Senior Raihan. Hal itu sukses membuat Green mencebik kesal.


“Ayo senior!” ditariknya dasi Raihan, terpaksa si pemilik dasi harus mengikuti si gadis atau dia akan berakhir tercekik.


Astaga, gadis ini....


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2