THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 8 Be Your Girlfriend?


__ADS_3

"The Gangstar King"


.


.


.


"Be your Girlfriend? Go die, freak."


.


.


.


"Van, kau mau masuk ekstra apa?"


Green mengintip kertas formulir ekstra milik Vania yang harus dikumpulkan setelah jam makan siang. Dan sialnya sekarang merupakan jam makan siang.


"Ini gawat, aku tidak minat apapun."


Vania dan Green mendesah bersamaan.


Sejujurnya banyak sekali ekstra dalam SHS ini, contohnya; ekstra basket, voli, takraw, kasti, sepak bola, English club, jurnalistik, musik, akustik, seni rupa, dance, theater, kir, bela diri, melukis, Sastra, memasak. Dan masih banyak lagi.


"Hei Ino, kamu masuk ekstra apa?"


Ino berjengit kaget, kertas digenggamannya jatuh ke lantai.


"Uh... emm ano...." Ujarnya dengan wajah merah merona.


Dengan sigap Green mengambil kertas putih yang dijatuhkan Ino dan membacanya. "Wah, ino masuk ekstra music!" Green berteriak lantang, membuat wajah ino memerah sampai ketelinga.


"Keren, Ino bisa alat music apa saja?" tanya Vania antusias.


"I-iya... emm ano... aku bisa biola. S-sedikit bisa harpa juga."


Vania dan Green menggebrak meja. Ino nyaris terjungkal dari kursinya. Suara keras yang dihasilkan oleh pita suara kedua remaja unik itu sukses menarik atensi penghuni kantin.

__ADS_1


"Astaga! Keren!" pekik keduanya bersamaan.


"Ah itu bukan apa-apa, lagipula Green lebih hebat, pemenang lomba piano tingkat internasional."


Green tersenyum lebar, "tapi aku bukan pemenang lomba biola tingkat nasional," godanya sembari menusuk-nusuk pipi Ino dengan jari telunjuknya.


Wajar ino makin memerah. Kawaii~


"Jangankan tingkat nasional, cara Green memegang biola saja mirip seperti tukang pukul memegang palu," sindiran telak menghantam harga diri Green.


"APA KAU BILANG?!"


"Dasar nona muda preman."


Tiba tiba kantin yang awalnya hanya didominasi dentingan peralatan makan menjadi ramai penuh teriakan yang didominasi para kaum hawa. Vania mendesah pelan, hendak bertanya kepada Green. Namun ternyata gadis imut itu telah raib alias hilang entah kemana.


"Kemana Green?" tanya Vania dengan nada dongkol yang ketara.


Ino menunjuk ke belakang Vania, dimana terdapat segerombolan (coret; sapi betina) siswi yang menggerubungi sesuatu, hal itu mengingatkan vania akan pudding cokelat yang dikerubungi semut tadi malam.


"Apa sih yang mereka ributkan disana?"


"5 boys? Pfftt, itu benar-benar menggelikan. Mirip seperti judul drakor favorite Green dulu."


Ino mengangguk singkat seraya menyungingkan senyum tipis "tapi mereka sangat terkenal," ujarnya.


Lantas vania menyangga dagunya, dengan nada malas ketara ia berujar,


"Apa mereka se-terkenal itu?"


"Oh, tentu saja kami sangat terkenal. Sayangku."


Vania tersentak, refleks ia menoleh. Namun sejurus kemudian ia dikagetkan oleh wajah tampan yang terpaut jarak 5 cm dari wajahnya. Vania menahan nafas. Ia ingin tenggelam sekarang juga.


Anyone! Help!


"Bagaimana? Apa sekarang kamu tahu kenapa kami terkenal?"


Vania mencium bau mint yang menguar dari mulut lelaki didepannya, diam-diam ia mengamati visual Adonis yang begitu dekat dengan pandangan matanya. Sengaja! Pasti dia sengaja ingin membuatnya mati kikuk!

__ADS_1


"Graha."


Vania terkesiap, menyadari bahwa laki laki didepannya telah menjauh beberapa langkah. Seketika ia mengambil nafas panjang tanda lega seraya melemaskan ototnya yang terasa kaku.


"Ah maaf Rai, aku benar benar tidak tahan," ujarnya sembari tertawa tanpa dosa.


Sejurus kemudian Graha duduk persis didepan vania, diikuti oleh ke-4 temannya-yang sama-sama tampan tentunya. Sementara itu Green nampak berbinar menatap senior tercintanya yang tengah duduk santai didepan mereka sembari menyeruput secangkir cappuccino.


"Hei Vania, jadilah pacarku."


JDERRR!


Pernyataan cinta dari Graha bak petir di siang bolon, Seketika Virgo menyemburkan jus avocado favoritenya, Raihan menghela nafas panjang, Rangga mendengus dan Leon kembali menyeruput kopi hitamnya-nampak sangat tidak peduli. Kantin langsung sunyi senyap. Sementara itu Vania mematung, mencoba memahami perkataan lelaki aneh didepannya. Barangkali dia keliru atau otakknya konslet hingga mengatakan hal yang sangat tidak masuk di akal.


"Jika terus begini, aku akan kehabisan nafas"batin vania meraung sebab merasa sesak dengan suasana hening serta atensi yang berpusat pada mejanya dan err... jangan lupakan para wanita yang menatap Vania sengit sebab merasa tidak terima idolanya direbut.


Siapa juga yang merebut, Graha sendiri yang menembaknya tanpa tau tempat.


Vania menghela nafas kasar "apa kamu mabuk?" ungkapnya blak-blakan seraya menatap sengit lelaki dihadapannya.


"Ya, aku mabuk karena pesonamu."


Vania speechless dengan perempatan siku imajiner mulai terpatri dipelipisnya. Ia memejamkan mata kembali menghela nafas panjang. Berusaha menenangkan diri. Sementara itu Graha menyangga dagu sembari menatap Vania yang tengah berusaha menahan amarahnya.


Lucu sekali, begitu fikirnya.


"Dasar sinting."


Usai mengatakan sepatah kata yang mungkin dapat diartikan sebagai penolakan telak. Vania berdiri dari kursinya, menarik ino yang tengah meringis-mengucapkan 'maaf' berulang kali pada kelima remaja tampan dimeja mereka. Keduanya meninggalkan kantin yang mulai heboh. Akibat peristiwa yang disebut sebagai 'iman baja seorang gadis podium' membuat vania mendapat gelar wanita pertama yang menolak salah satu 'most wanted' di Skylight.


"Ah, jangan buat aku tertantang dong. Bodoh." Graha tersenyum iblis, menatap punggung mungil Vania yang mulai hilang dari jarak pandangnya.


.


.


.


Tbc~

__ADS_1


__ADS_2