THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 10 Graha=Danger


__ADS_3

-The Gangstar King-


.


.


.


"Graha\=Danger"


.


.


.


.


"Green?"


Green tersentak, patah-patah ia membalikan badannya. Manik safirnya langsung menangkap sosok lelaki tampan yang tengah menatap mereka dengan senyum ramah seperti biasanya. Ditangannya terdapat kaleng soda serta kunci mobil ditangan kanannya.


"A-ah haha s-senior, kenapa s-senior disini?"


Raihan menaikan satu alisnya, Green mencoba mengalihkan topik ya?


"Ah, aku mencari Graha. Tadi kulihat dia berjalan keruang pelayan. Kau sendiri?"


Green bergerak gelisah, gadis cantik itu meremas rok hitam pendek setengah paha yang ia kenakan hingga kusut. Hal itu membuat Raihan makin curiga. Ditambah dengan penampilan Green yang memakai seragam pelayan bar membuat kecurigaannya makin berlipat ganda. Tidak mungkin kan gadis ini bekerja part-time disini?


"Kami sedang menunggu Vania yang sedang meminta maaf terhadap Graha. Tapi tiba-tiba Vania menghilang. Senior bisa tolong carikan Vania, tidak? Tadi Green hampir menangis karna panik."


Rahang Green serasa mau jatuh dari tempatnya, ia menatap gadis mungil yang tengah tersenyum manis dengan wajah tanpa dosa. Apa-apaan dia, setengah mati dirinya menyembunyikan kebenaran. Tapi dengan seenak udel Ino membeberkan semuanya. Mana dia ngadu tentang aibnya lagi. Padahal Green sudah mengatakan dengan sangat gamblang bahwa ini merupakan misi rahasia.


Ah, tidak adil. Ino mengatakannya dengan wajah super imut. KALAU GITU MANA BISA AKU PUKUL DIA! jerit Green dalam hati. Ia sangat lemah dengan hal-hal berbau imut dan tampan.


Wajah imut itu benar-benar kriminal. Kejahatan kelas kakap, umpatnya lagi.

__ADS_1


Kekehan keluar dari mulut Raihan. Pantas saja daritadi Green hanya menunduk dan enggan menatapnya. Rupanya gadis cantik itu tengah menyembunyikan matanya yang sembab.


Headpat lembut dari Raihan dihadiahkan untuk gadis didepannya ini.


"Baiklah, biar kucarikan Vania." Raihan tersenyum lembut. "Kau bawa mobil?" tanyanya lagi.


Green mengangguk pelan.


"Kalau begitu kalian pulang duluan ya. Nanti Vania biar aku saja yang antar."


Ino tersenyum lebar, ia menarik lengan Green dan berlari keluar melalui pintu belakang yang terhubung dengan ruangan pelayan. Raihan mengulum senyum tipis kala sosok Green menjauh usai membisikan sepatah kata.


"Tolong cari Vania ya... jika sudah ketemu, kabari aku."


Benar-benar persahabatan yang manis.


~our king~


Semilir angin malam mengalun lembut, menerbangkan helaian surai hitam dengan wangi khas yang menggoda. Sepasang remaja nampak tengah berdiri diatas rerumputan. Hening menyelimuti sebelum akhirnya Graha membuka mulutnya.


"Jadi?" ucapnya singkat. Aroma mint menguar, membuat hidung Vania tergelitik.


Ia menghela nafas panjang sebab merasa lega. Entah permintaan maafnya akan diterima atau tidak, yang terpenting adalah peluang ia dipecat akan mengecil-namun jika yang terjadi malah sebaliknya sepertinya Vania akan memilih menenggelamkan diri saja.


Salah satu alis tebal Graha naik. "Hm." Tak ada jawaban berarti. Namun dibalik itu, batinnya sudah memekik kegirangan sebab mendengar permintaan maaf dari gebetannya itu. walau disisi lain dirinya juga merasa dilemma. Dimaafkan atau tidak?


Lelaki dengan mahkota cokelat itu menyeringai.


Graha maju satu langkah, hal itu sontak membuat lawan bicaranya mundur kebelakang. Berusaha sebisa mungkin membuat jarak dengan Graha yang tengah menyeringai khas. Vania menyilangkan kedua tangannya didepan dada--pose defensif. Manik jelaganya menatap tajam Graha yang terus mengikis jarak. Seringaian lelaki itu membuat Vania merinding.


"Berhenti, sebelum kulempar kau ke kolam ikan disana."


Bukannya menuruti perkataan Vania. Graha justru makin mengikis jarak diantara mereka. Seringainnya melebar kala punggung si gadis menabrak tembok, membuat pergerakannya berhenti. Vania mengumpat dalam hati. Mengapa hari ini ia begitu sial.


"Mm, aku akan memaafkanmu dengan syarat -"


Vania menahan nafas kala kedua lengan kekar Graha mengukungnya-membuatnya tidak bisa melarikan diri kemanapun. Istilah lainnya adalah kabedon. Inginnya sih menyelusup dibawah lengan kekarnya. Tapi Vania takut jika nanti kaki Graha ikut maju demi meultra kabedon dirinya supaya mati kutu.

__ADS_1


Kan repot.


"--mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku."


Gadis itu menganga, syok dengan ucapan lelaki Adonis didepannya. Belum cukup sampai situ nafasnya dibuat tercekat kala wajah Graha mulai mendekat. Helaan nafas hangatnya menerpa wajah Vania-aura mint familiar kembali ditangkap oleh indra penciumannya. Badannya terasa kaku saat Graha mulai memiringkan wajahnya seraya terus mengikis jarak diantara mereka.


SRETT


Vania merasa lengannya ditarik, kemudian kepalanya membentur pelan sesuatu yang keras. Hm, keras...?


"Apa yang kau lakukan?"


Vania mendongak, manik jelaganya menangkap sesosok lelaki berparas tampan dengan iris mata yang serupa dengan dirinya.


"Rangga-teme, aku hanya sedang memaafkan dia." Ujar Graha dengan aksen jepangnya.


Rangga menajamkan pandangannya seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang si gadis. Bibirnya mengatup dan rahangnya mengeras. "Dengan memaksanya untuk tinggal bersama?" timpalnya sarkas.


"Ish, kau ini kenapa? Lagipula Vania setuju kok," Lelaki dingin itu hanya mendengus mendengar jawaban kurang ajar dari sahabat cokelatnya.


Merasa ditatap terlalu intens, Rangga menundukan pandangan, yang kemudian langsung disambut dengan onyx jernih yang memabukan. Tanpa sadar ia terus menatap iris yang serupa dengannya, Hal itu mengundang dengusan Graha.


"Akhirnya ketemu."


Serentak ketiganya menatap sesosok jangkung yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia tersenyum lembut kala mendapati gadis yang dicarinya tengah dalam keadaan baik-baik saja didekapan Rangga. Itu cukup membuatnya merasa lega.


"Green mencarimu." Kaki jenjangnya membawa badannya mendekat. "Ayo pulang, biar kuantar."


Vania menangguk semangat, gadis cantik itu melepaskan dekapan Rangga dan berlari pelan kearah Raihan. Bibirnya mengulas senyum lebar sebab merasa bebas. Akhirnya bisa lepas dari duo iblis disana, begitu fikirnya dengan senyum yang tak kunjung luntur.


"Ayo senior!" ujarnya menggebu-gebu. Tanpa sadar dia menarik tangan Raihan dan membawanya menjauh dari sana. Sebisa mungkin ia harus membuat jarak dengan Rangga-terutama Graha. Keduanya membuat Vania merinding.


.


.


.

__ADS_1


Tbc~


__ADS_2