
-The Gangstar King-
.
.
.
"Where is my peaceful life?"
.
.
.
.
Kling
Notifikasi ponsel membuat Vania menghentikan aktivitas mengeringkan surai hitamnya yang basah. Dengan segera ia mengambil benda persegi yang tergeletak ditengah kasur lalu menyalakannya, memasukan pin dan mendapati ada 82 pesan tak terbaca beserta 21 panggilan tak terjawab—yang dominan berasal dari si maniak hijau.
Drrtt
Bibir tipisnya mengulas senyum tipis kala melihat foto profil Green memenuhi layar ponsel, ditemani dengan ganggang hijau ditengah bawah. Tanpa menunggu lagi ia tekan bulatan hijau itu dan menyeretnya keatas.
“Hall—“
“Astaga Vania! Apa kau benar-benar sudah sampai rumah?!”
Vania terdiam sejenak, sekali lagi ia tersenyum.
“Tentu, jangan menangis Green. Besok biar kita bicarakan, ya? Sekarang ini aku butuh tidur.” Ujar Vania gamblang, ia tidak terlalu suka membahas sesuatu melalui telfon atau pesan. Menurutnya itu merepotkan dan membuang-buang uang. Lebih baik bersitatap muka dan membahasnya bersama. Itu lebih baik.
Hening beberapa detik sebelum akhirnya terdengar helaan nafas panjang terdengar diseberang sana.
“Baiklah, selamat malam.”
“Selamat malam."
Dijauhkannya benda persegi itu dari telinga, nada khawatir yang terdengar dari pertanyaan sahabatnya membuat ia merasa bersalah. Pasti Green sangat panik kala menyadari ia menghilang dari jarak jangkauan manik safirnya itu. Tanpa sadar Vania menghela nafas panjang, sepertinya ia harus meminta maaf pada Green besok.
Vania menaruh segelas cangkir berisi liquid cokelat di atas meja, merebahkan badannya pada kasur yang nyaris tidak memiliki busa—terasa begitu keras dan membuat punggung sakit. Netra hitamnya menelisik atap yang berdebu dan penuh sarang laba-laba ditiap sudutnya. Maklum saja, memang tidak ada hal bagus yang bisa Vania dapatkan dari gudang—kecuali benda-benda berharganya yang dulu sempat ia kira telah dibakar oleh ‘ibu’—ah tidak tidak, memanggilnya ‘ibu’ saja membuat Vania muak.
Bagaimana kalau dipanggil ‘titan tua’?
Bukankah itu bagus? melihat tubuh gembrotnya yang penuh dengan lapisan lemak serta tinggi badannya yang cukup membuat orang lain mengira dia adalah titan yang hobi memakan anak kecil nakal selayaknya dongeng yang dibacakan para orang tua pada anak-anaknya. Sungguh, dia benar-benar menjijikan dengan lipstick merah menyala yang melapisi bibir besarnya.
Kling.
Khayalannya buyar kala mendegar notifikasi untuk yang kedua kalinya. Kali ini siapa lagi? Sebuah nomor tak dikenal membuatnya sedikit berjengit, siapa yang tahu nomornya? Setahu Vania, hanya 3 orang yang mempunyai nomor telfonya.
From: me
To: Unknown Number.
00.14
Err, siapa?
From: Unknown number.
To: Me
__ADS_1
00.15
Ini aku Raihan, apa aku menganggu?
Vania menghela nafas lega, segera ia menyimpan nomor dewa penolon—err ralat maksudnya adalah nomor seniornya yang sangat lembut dan dihormati. Vania berjingkrak kegirangan karna sekarang ada 4 nomor diponselnya. Ngomong-ngomong bukankah ia ini hebat? Seorang Vania—gadis seenaknya itu mendapatkan pesan dari senior yang menjadi idola seluruh sekolah… atau mungkin negara? Entahlah, habisnya Raihan dan kawan-kawannya itu memilik wajah tampan tiada ahlak.
Mau digampar tapi sayang.
From: me
To: Senior Raihan.
00.17
Ah, senior tidak mengganggu kok.
From : Senior Raihan.
To : me
00.19
Syukurlah. Apa kau tidak apa-apa? Aku membelikanmu makan malam, aku taruh dimeja.
Netra jelaganya mengerling, menangkap plastik putih berisi bubur yang terbungkus rapih. Vania merasa bersalah karna membuat seniornya repot. Vania segera membuka plastik itu dan mengeluarkan isinya. Semangkuk bubur dengan uap mengepul sukses membuat perutnya keroncongan. Tanpa basa-basi ia segera memakan bubur itu setelah diaduk hingga merata—Vania ini tim bubur diaduk asal kau tau.
From: me
To: Senior Raihan.
00.22
Ah, aku tidak apa-apa dan makasih makanannya.

Astaga, sepertinya tuhan memasukan 1 jerigen kadar ketampanan saat sedang menciptakan Senior Raihan deh.
From : Senior Raihan
To : Me
00.24
Habiskan itu dan aku ingin minta maaf.
From: me
To: Senior Raihan.
00.25
Untuk apa?
From : Senior Raihan
To : Me
00.26
Aku minta maaf karna telah menggendong dan masuk seenaknya kedalam kamarmu. Yah, kau tau, aku tidak tega membangunkanmu yang nampak lelap sekali.
Vania menyemburkan minumannya, wajahnya pias begitu mebaca isi pesan dari Senior Raihan. Pantas saja ia tiba-tiba berada di kamar—padahal sebelumnya ia tertidur usai mendengar lagu milik Cristina perri berjudul Jar of heart. Mengalun lembut dari earphone yang ia kenakan.
__ADS_1
Manik onyxnya mengedar kepenjuru kamar, sekali lagi ia tersedak kala mendapati ‘wadah surgawi’ tengah menggantung di pintu. Belum lagi dengan celana dalam berwarna hitam yang tergeletak dilantai.
YA TUHAN, YA TUHAN, YA TUHAN.
HANCUR SUDAH HARGA DIRI VANIA.
“Senior… masuk kekamar… lalu…lalu….”
Wajahnya bertambah pucat, ia melempar benda persegi itu ke atas kasur—mau dibanting ke lantai tapi eman. Tubuh rampingnya Vania biarkan bergelung didalam selimut.
Selang beberapa menit kemudian gadis bar-bar itu tertidur, mengabaikan notifikasi yang terus berbunyi hingga jam 1 pagi.
.
.
.
Esoknya Vania kembali ke rutinitas yang membosankan. Mandi kilat, sarapan, berang—err lebih tepatnya berlari ke sekolah, mengikuti pelajaran hingga jam 5 sore. Oh—Vania melupakan 1 hal penting yang seharian ini dilakukan olehnya.
Menghindari 5 bo—tunggu, panggilan itu menggelikan. Baiklah, menghindari 5 remaja yang sampai mati tidak akan pernah Vania anggap tampan.
Vania menghela nafas lelah, kali ini ia pulang sendiri. Jam putih yang melingkar ditangan sudah menunjukan pukul 17.30. Semburat jingga sudah meliputi langit, matahari sudah nyaris tenggelam namun jarak apartemen—ralat—jarak apartemen Green masih sangat jauh. Ia meruntuki Graha yang seharian ini menerornya kemanapun ia berada. Sampai-sampai Vania harus menyembunyikan diri ditoilet dan tertidur disana. Akibatnya ia tertinggal kereta terakhir sore ini. Ditambah Green terus-terusan menempelinya, takut Vania akan menghilang lagi katanya. Untungnya Ben berhasil membuat gadis maniak hijau itu terpaksa melepas Vania demi menghadiri makan malam keluarga di Singapura.
Oh, kemanakah kehidupannya yang tentram?
“Nona?”
Vania menggulirkan matanya bosan kala mendengar suara asing memasuki indra pemdemgaran, netra legamnya menangkap sesosok lelaki jangkung dengan rambut blonde tengah tersenyum ramah. Hmm seorang bule dengan tinggi kisaran 185 ya.
“Ada apa?”
“Mm sebenarnya saya tersesat, apakah anda tahu Miracle café? Oh ya, sebelum itu perkenalkan nama saya William, dari Inggris. Nice to me—.”
“Oi.”
Graha mengumpat dalam hati kala panggilannya diabaikan. Manik hazelnya mengikuti pergerakan sesosok gadis yang tengah menerangkan sesuatu pada lelaki denga surai blonde. Beraninya Vania mengabaikan panggilan Casanova elit seperti Graha. Ingin sekali dirinya menculik gadis itu dan membawanya memasuki mansion khusus yang telah ia persiapkan jikalau Vania menerima perintahnya untuk tinggal bersama.
“Vania, kau ini sed—“
“Apa.”
Graha terdiam, delikan tajam yang diberikannya membuat Vania nampak terlihat gemas. Sementara itu sosok lelaki blonde itu menampilkan raut bertanya-tanya. Membuat Graha muak melihat tampangnya yang menurut Graha nampak ketara sekali tengah mendekati Vania.
F*ck.
“Mulai besok kau harus berbenah untuk tinggal bersamaku loh.”
Hanya desau angin yang menjawab titahnya. Sejujurnya Graha merasa kesal. Tidak pernah ia dibuat repot oleh seorang gadis. Mayoritas dari mereka akan dengan senang hati melemparkan tubuh mereka padanya. Gadis ini berbeda sekaligus menyebalkan.
“Baiklah.”
Graha mengerjap, setengah mati ia menahan senyumannya. Lihat! Pada akhirnya gadis manapun tidak akan bisa menolak Casanova. Graha terkekeh, ternyata menahlukan Vania akan semudah ini, begitu fikirnya
“Dengan syarat kau menandatangani kontrak yang akan ku ajukan.”
Hah, Graha menarik kembali ucapannya. Sepertinya menahlukan Vania tidak semudah seperti yang ia fikirkan beberapa detik lalu.
.
.
.
__ADS_1
TBC~