
-The Gangstar King-
.
.
.
"Go to school... together."
.
.
.
Lamborghini dengan warna berbeda-beda nampak saling menyusul sama lain, atau lebih tepatnya mengejar Lamborghini berwarna merah yang berada digaris terdepan. Ah! Mereka semua menuju kearah gerbang besar berwarna putih dengan logo emas bertuliskan ‘Skylight School’.
Ke-lima mobil mahal itu menurunkan kecepatan kala berada di bibir gerbang. Yang kemudian disambut dengan jeritan para kaum hawa serta decakan sebal kaum adam. Sementara itu seseorang didalam mobil nampak sedikit gelisah dengan keramaian yang ada didepan mata. Ia mengutuk lelaki disampingnya yang memaksa dirinya untuk berangkat bersama. Sudah cukup Vania dijadikan bahan gunjingan karena terlambat dihari pertama sekolah. Kalau sampai sekarang ia di benci oleh perempuan dipenjuru sekolah, sudah pasti Vania akan menjambak Rangga dan menenggelamkannya.
Dia tidak tahu betapa menyeramkannya wanita jika melihat idolanya direbut.
Apalagi kalau dihina, BEUHH.
__ADS_1
Saking asyiknya mengutuk Rangga, Vania tidak menyadari bahwa pintu disampingnya telah terbuka. Tangan putih terulur dari sana. Vania cengo, jangan bilang Rangga membuka pintu selayaknya seorang gentleman lalu menggandengnya keluar mobil.
Oh sial, ketara sekali Rangga berniat menjahilinya dengan sengaja bertingkah demikian. Lelaki itu pasti niat sekali membuatnya menjadi bahan bully oleh para penggemarnya atau biasa disebut Ra’Lovers—demi apapun, menurut Vania nama fans club itu benar-benar alay. Niat buruk Rangga bisa Vania lihat lewat seringaian menyebalkan yang terpatri dibibir tipis dan mer—hei sedari dulu aku penasaran mengapa bibir lelaki itu berwarna merah. Padahal dia tidak pernah sekalipun memakai pewarna bibir.
“Aku bisa keluar sendiri.” Tukas Vania seraya menepis uluran dari Rangga.
Jeritan dan teriakan memuja makin kerasa kala 5 lelaki itu berjejer. Kesempatan yang sangat luar biasa bisa melihat kelima lelaki super tampan dan ekhem kaya raya tengah bersama-sama. Apalagi jika diantara mereka ada gad—tunggu GADIS?!
Suasana berubah, yang awalnya dipenuhi oleh jeritan dan kekaguman berganti menjadi penuh bisikan-bisikan. Mayoritas wanita disana bertanya satu sama lain yang pertanyaannya tak lain adalah;
“Kenapa si ******* itu bisa bersama mereka?”
Oke, itu sangat mnyebalkan bagi Vania. Setidaknya jika ingin menggunjing jangan didepan orangnya langsung atau setidaknya jangan berkata bahwa Vania itu *******. Memangnya mereka itu siapa huh? Memberi makan Vania saja tidak.
“Jangan didengarkan—“ hembusan nafas terasa ditelingannya. “—mereka itu cuma iri.”
“Pakai ini ya supaya Vania-chan tidak mendengar perkataan mereka.”
Seyum kecil terpatri dibibir peach Vania, ia memandang Virgo lembut. Panah imajiner terasa menusuk hati si lelaki cebol. Oh dewi cinta, kenapa kau hanya menembakan satu panah cinta?
“Terima kasih,” ujar Vania sebelum akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya demi mengikuti Rangga menuju kelas elite. Disamping Vania ada Graha yang melempar candaan padanya, yang selalu ditimpali dengan sinis oleh Virgo.
Harmonis sekali ya.
__ADS_1
.
.
.
"Hm, serakah sekali kau Vania."
.
.
.
.
Tbc
[A/N]
Aaaaaa mohon maaf kalau part kali ini pendek sekali
Niatnya ini mau digabung sama part 15 tapi kepanjangan. Saya takut readers akan Bosan kalau terlalu panjang
__ADS_1
huhu T^T
Sekali lagi saya minta maaf karna partnya terlalu pendek.