
-The Gangstar King-
.
.
.
"Beginning."
.
.
.
BRAK
"Bersihkan seluruh ruangan ini atau kau tidak akan dapat makan malam selama 2 hari!"
Gadis dengan baju lusuh itu hanya mengangguk angguk, iris onyxnya mengikuti jejak seseorang yang dipangilnya 'ibu', bibirnya melengkungkan senyum tipis saat 'ibu' keluar dari ruangan penuh debu yang menjadi alasan dirinya tidak makan 2 hari. Sejurus kemudian dia menyeringai tipis, menatap penuh ambisi pada kaca dengan kerangkeng besi yang tetap tidak berhasil membuatnya merasa terkurung.
"Dasar orang tua sialan" Senyum miring menghiasi wajah putihnya.
.
__ADS_1
.
.
"Yo! Sorry terlambat." suara kursi digeser mengalihkan atensi gadis yang sedari tadi menyesap cappuccino-kopi favoritnya, " aku harus bersihkan gudang yang benar benar membuatku nyaris patah tulang. Tsk, dasar orang tua sialan." Ujarnya setelah menghempaskan bokongnya dikursi, berhadapan langsung dengan gadis dengan surai pirang.
"Ahh Vania." bibir tipis itu melengkungkan senyum hangat, membuat aura kecantikannya menjadi berlipat ganda.
"Jangan memaki, tidak baik," ungkapnya dengan senyum bak malaikat, tangannya menggengam secangkir the dengan anggun, membuat beberapa pria dicafe itu terpesona.
"Apaan sih, sok lemah lembut gitu, Lagi bertingkah jadi putri konglomerat ya?!"
Perempatan imajiner terpatri dipelipsinya, ia menaruh cangkir teh dan menatap lawan bicara dengan beringas.
Green Al, gadis dengan perawakan mungil dengan sweter pink sederhana itu merupakan anak konglomerat, ayahnya merupakan salaah satu orang berpengaruh bagi Negara-lebih tepatnya merupakan perdana mentri, ibunya mengelola banyak hotel bintang lima-baik hotel yang berada di dalam negri maupun hotel di luar negri. Green sendiri merupakan salah satu anak yang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan prestasinya dalam bidang music, gadis yang sangat sempurna bukan?
Ngomong-ngomong, entah karena faktor nama atau tidak. Tuan putri ini merupakan maniak warna hijau! Warna kamar, pakaian, celana da-maaf mari kita lewatkan itu-dan bahkan barang elektronik saja harus berwarna hijau. Lebih parah lagi dia pernah mencat rambut pirangnya menjadi hijau, memakai soflens emerald, dan memakai pakaian serba hijau. Siapapun yang melihat dia pasti berfikir bahwa Green ini kodok hijau Alaska.
Untung aja cantik:D
"Yeah sempurna, kalau saja sikapmu tidak bobrok macam ini."
"Apa kamu bilang?!"
"Nona, 2 jam lagi anda harus mewakili nyonya besar untuk peresmian hotel baru di Jerman." lelaki yang diketahui bernama 'Ben' merupakan asisten pribadi Green, yang tiap hari pekerjaanya hanya mengekor pada nona bebalnya itu.
__ADS_1
"Hoooo kita tidak punya waktu lagi, cepat beri kunci apartemen mewahmu itu kawanku~"
Green menggertakan bibir, ingin sekali ia menghajar gadis yang sudah bertahun-tahun bersamanya itu.
"Nona muda kita tentu tidak akan mengingkari janjinya kan." smirk evil menghiasi wajah jelita Vania "apartemen seharga 140 juta dolar itu tentu tidak ada apa apanya untuk nona kita yang kaya raya."
Sebuah kartu terlempar didepan meja Vania, si empu pemilik kartu berdoa supaya kartu itu patah sehingga sahabat karib sialannya tidak akan bisa memasuki apartemen kesayangannya, yang merupakan salah satu hadiah ulang tahunnya yang ke 10 tahun lalu.
Sedetik kemudian Green berdiri, mengacungkan jari tengahnhya seraya berkata, "lihat saja nanti Van, sepulang dari Jepang,aku yang akan menang taruhan dan merobek mulut berbisamu itu."
"Kutunggu itu my beloved sister."
"Aku bukan saudarimu sialan!" Umpatan Green mengundang gelak tawa yang kemudian mengiringi kepergian Green dengan wajah memerah menahan kesal.
Kenapa aku punya sahabat seperti ini sih?! batinnya meraung raung, berbanding balik dengan fisiknya yang nampak kalem-kalem saja. Namun tenang saja. Sekarang Vania boleh tertawa, tapi kupastikan untuk selanjutkan aku yang akan tertawa!
Green terkekeh. Membuat Ben menghela nafas panjang. Mungkin ia harus bersiap untuk membereskan kekacauan nona mudanya.
.
.
.
Tbc~
__ADS_1